Anggapan Keliru terkait Feminis yang Harus Diluruskan Agar Pikiranmu Tidak Cupet

Anggapan Keliru terkait Feminis yang Harus Diluruskan Agar Pikiranmu Tidak Cupet

Ilustrasi (Melissa Angela Flor via Pixabay)

Banyak yang berpikir bahwa para feminis itu jauh dari nilai-nilai keluarga. Banyak pula yang bilang kalau perempuan cenderung melawan, ketika mereka memahami feminisme. Ada juga yang beranggapan bahwa feminis tidak mau mengurus rumah tangga.

Padahal, sebaliknya. Semua perjuangan feminisme sebetulnya untuk nilai-nilai keluarga yang lebih baik. Feminisme menginginkan akses untuk kesejahteran keluarga yang bisa diperoleh dengan mudah. Mulai dari hak ibu, anak, hingga ayah.

Hak ibu, misalnya. Hak seperti cuti melahirkan dan cuti haid berbayar serta ruang laktasi hanya beberapa dari sekian kebutuhan perempuan yang perlu diakomodasi. Mengapa?

Sebab itu menunjang produktivitas ibu sebagai perempuan yang bekerja, serta memberikan kesempatan untuk ibu dapat bekerja sekaligus mengurus anaknya.

Contohnya, ada kasus sebuah perusahaan yang enggan memberikan akomodasi kepada seorang insinyur perempuan, yang harus terjun ke lapangan dengan membawa anaknya. Si insinyur perempuan itu akhirnya mengundurkan diri.

Akibatnya, perusahaan harus mempekerjakan 3 orang insinyur untuk 3 site. Padahal sebelumnya, pekerjaan lapangan di 3 site itu dapat dilakukan 1 orang, oleh si insinyur perempuan yang mundur tadi.

Sekilas, kesannya memang remeh. Namun, perusahaan kerap menganggap remeh kebutuhan perempuan untuk bisa lebih produktif selagi mengurus anak. Di sisi lain, seringkali terjadi bias saat perusahaan memberi keleluasaan terhadap pekerja laki-laki. Tak jarang, insinyur laki-laki dibolehkan membawa keluarganya ke site.

Sekarang soal hak anak. Di negara-negara Skandinavia, di mana banyak ibu dan ayah yang bekerja, kebijakan feminis mengatur bagaimana anggaran negara dapat menyubsidi pusat penitipan anak. Sebab, di beberapa negara, biaya penitipan anak sangat mahal.

Selanjutnya soal hak ayah. Aktivis feminisme sama-sama memperjuangkan hak cuti ayah. Bahkan, selama cuti, gajinya tetap harus dibayar penuh. Mengapa demikian? Karena feminisme percaya bahwa keberadaan ayah dalam rumah tangga dapat meningkatkan empati anak-anak.

Anak-anak bisa melihat pembagian tugas yang adil di antara kedua orang tuanya. Dengan begitu, nantinya anak-anak diharapkan juga bisa adil melihat peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak juga dapat menghargai jerih payah kedua orang tuanya, yang berusaha memberi penghidupan yang layak dengan bekerja sekaligus mengurus rumah. Tentu ini akan meringankan beban dan memulihkan perempuan paska persalinan, yang mana dapat mengalami tekanan mental berupa baby blues.

Selain itu, hak perlindungan anak juga bisa dilihat dari bagaimana hukum dapat menindaklanjuti korban kekerasan seksual terhadap anak serta pernikahan dini. Kebijakan yang feminis berupaya mengatur perlindungan anak dan pemulihan bagi anak-anak yang diperkosa.

Seringkali anak yang menjadi korban kekerasan seksual tidak mendapat pendampingan ketika kasusnya diproses hingga pada tahap penyembuhan psikis.

Demikian juga dengan aturan pernikahan agar anak di bawah umur tidak mudah dinikahkan oleh orang tuanya. Hukum menjadi instrumen dalam melindungi anak perempuan dari pernikahan dini.

Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa perempuan yang dinikahkan secara dini, akan kesulitan mendapatkan hak akses untuk pendidikan. Hidupnya akan berubah 180 derajat, sehingga haknya untuk memperoleh keterampilan akan hilang.

Secara mental, saat belia, anak perempuan belum matang dan sadar atas hak-haknya. Karena itu, hukum adalah alat untuk melindunginya.

Anak yang merasa mendapat perhatian dari kedua orang tuanya dapat tumbuh dengan baik dan mudah berempati kepada orang lain. Ia juga akan jauh dari hal-hal yang destruktif yang dapat pula mencelakai orang lain.

Kalau istilah zaman sekarangnya, daddy issues dan mommy issues, yang mana dihadapi oleh anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari salah satu orang tuanya. Tapi, alih-alih berempati, sebagian masyarakat sering mengoloknya.

Itu semua memang tampak remeh, tapi percayalah, itu akan mempengaruhi hajat hidup banyak orang di kemudian hari.

Seorang ayah tidak bisa sendirian menghidupi keluarganya. Butuh keterlibatan perempuan dalam mencari nafkah. Keduanya memegang peranan yang penting. Betul?

Banyak laki-laki yang memutuskan untuk meninggalkan keluarganya, karena merasa malu tidak bisa menghidupi keluarganya. Ada pula yang tak peduli urusan keluarga dan hidup dari penghasilan sang istri.

Tak jarang, banyak perempuan yang bekerja serabutan sebagai pembantu harian, tukang cuci, dan tukang pijat yang mengeluhkan bagaimana suaminya kerap memanfaatkan dan mengambil penghasilan yang ia peroleh untuk membeli rokok dan miras.

Kasus-kasus seperti ini banyak saya temui ketika menjadi ko-asisten dokter gigi di sebuah RSGM, di mana saya harus menghadapi pasien perempuan dari masyarakat menengah ke bawah dengan beragam latar belakang.

Hal itu kemudian membuka mata saya lebih lebar terhadap isu-isu perempuan. Kasus serupa juga banyak saya temukan dari kelompok diskusi di Facebook, yang berisi ragam curahan hati perempuan di Indonesia. Seringkali mereka mengeluhkan suaminya yang kerap merugikan dirinya, terutama dari segi materi.

Itu berarti masih banyak perempuan yang terjebak dalam kondisi yang dibentuk dan menguntungkan patriarki. Anggapan bahwa laki-laki akan menyelamatkan perempuan dari keterpurukan masih lekat hingga kini.

Andai saja mereka tahu bahwa hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak sudah dirampas oleh sistem patriarki, mereka tidak akan terjebak dalam keadaan seperti itu.

Mau sampai kapan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.