Ilustrasi (Photo by Luis Dalvan from Pexels)

Kini, kita hidup dengan cara yang berbeda. Terutama, sejak Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi terinfeksi virus corona – meski sering makan nasi kucing – yang beritanya bersamaan dengan penetapan pandemi oleh WHO. Tatanan masyarakat pun bergulir ke arah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bekerja, belajar, terlebih beribadah dari rumah adalah hal yang sesungguhnya baru bagi sebagian besar masyarakat kita.

Dalam periode itu pula, selain dihadapkan pada sengkarut di level birokrasi, muncul gerakan besar dari masyarakat. Ketika orang-orang yang tidak bermoral menimbun masker serta hand sanitizer, maka sebagian masyarakat kita bergerak mengatasi masalah. Gerakan untuk berdonasi muncul dari segala arah dengan beragam bentuk.

Dalam fase-fase bencana, fenomena itu dikenal sebagai fase heroik. Bagi yang pernah terjun dalam penanganan bencana alam, pasti paham betul bahwa pada awal-awal setelah terjadi bencana, bantuan akan datang secara masif – kadang sampai berlebihan.

Puncak dari itu adalah fase bulan madu. Fase ini sebenarnya awal dari bahaya karena merupakan titik ketika antusiasme menyalurkan bantuan meredup, bahkan berakhir. Para relawan pun mulai kelelahan.

Baca juga: Seruan untuk Para Suami yang Kerja dari Rumah

Sesudah fase tersebut, muncul fase dis-ilusi dengan kondisi yang kontras. Saat itu tiba, maka yang tersisa adalah pemerintah sebagai penanggung jawab nasib masyarakat dan para korban bencana itu sendiri.

Tampaknya dalam bencana non-alam Covid-19, kita tengah berada pada fase bulan madu. Dampak dari pandemi ini dirasakan begitu dalam oleh masyarakat. Orang-orang yang pada bulan Maret masih bisa berdonasi, pada bulan Mei mulai ada yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Sebab itu, fase dis-ilusi dalam konteks wabah Covid-19 bisa jadi muncul karena kekuatan finansial masyarakat mulai rontok.

Di Indonesia, parameternya semakin jelas. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahkan sempat melontarkan ide untuk memotong penghasilan PNS hingga 50%. Ketika salah satu pekerjaan paling aman di muka bumi itu sudah mulai terdampak, maka kita bisa simpulkan bahwa negara ini tidak sedang baik-baik saja.

Anggaran perjalanan dinas PNS juga sudah dialihkan ke penanganan Covid-19. Dampaknya tidaklah sederhana, karena biasanya anggaran ini berputar di dunia transportasi hingga okupansi hotel di daerah. Ketika turisme tampaknya belum akan pulih dan tidak ada lagi anggaran perjalanan dinas, maka bisnis perhotelan di daerah hanya tinggal berharap pada pebisnis – yang sebenarnya juga sedang ‘berdarah-darah’.

Baca juga: Mudik Dibilang Tak Sayang Keluarga, Tidak Mudik Hidup Susah di Kota

Problemnya adalah Covid-19 tak seperti gempa bumi atau banjir yang puncak ancamannya cepat berlalu. Nyatanya, penularan virus corona terus terjadi dan setiap hari kita masih menyaksikan Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto melaporkan puluhan kematian. Meskipun angka kematian semakin kecil dibandingkan jumlah penderita, kematian tetaplah kehilangan, bukan sekadar statistik.

Selepas fase bulan madu ini, kita akan berhadapan dengan kondisi bahwa banyak kebutuhan tersier atau bahkan sekunder yang tidak lagi dikejar karena memenuhi yang primer saja sulit. Alhasil, orang-orang yang bekerja dalam pemenuhan kebutuhan tersebut juga terancam periuk nasinya.

Beberapa pekerjaan di bidang pendidikan seperti guru dan dosen, boleh jadi masih akan bertahan. Nah, apakah para orangtua dari murid dan mahasiswa juga bisa bertahan dalam hal dukungan biaya? Belum tentu. Itulah sebabnya sempat muncul trending topic dari sebuah kampus di Yogyakarta yang hanya memotong tagihan uang kuliah sebesar Rp 200 ribu per mahasiswa. Bagi banyak mahasiswa dan mungkin orangtua, membiayai kuliah mulai terasa berat.

Baca juga: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Negara yang begitu mengandalkan pajak juga deg-degan. Ketika bisnis ‘berdarah-darah’, boro-boro bayar pajak, bisa bayar gaji saja sudah syukur. Penutupan mal selama berminggu-minggu juga meniadakan pemasukan bagi banyak daerah. Kalaupun dibuka lagi, belum tentu juga pelanggan mal akan kembali karena sebagian dari mereka kehilangan sumber penghasilan.

Dalam teorinya, fase dis-ilusi akan menunjukkan kurva kondisi emosional yang jauh lebih dalam daripada dampak bencana itu sendiri, sebelum kurvanya kembali naik menuju fase rekonstruksi. Pada fase terakhir itu, kita mengenal istilah yang sekarang sedang ramai disebut new normal.

Namun, kita berada dalam konteks bencana yang berbeda ketika fase bulan madu, fase dis-ilusi, atau bahkan kelak fase rekonstruksi berjalan bersamaan dengan ancaman itu sendiri. Fase dis-ilusi sendiri akan sangat sulit kita lewati, karena modal sudah begitu tipis. Sisanya hanyalah harapan.

Untuk bisa terus berharap, yang dapat kita lakukan tentu saja mulai menerapkan new normal dari diri sendiri, seperti physical distancing secara disiplin, tertib menggunakan masker, rajin cuci tangan, hingga menjaga etika batuk dan bersin terutama di tempat umum.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Termasuk, mengubah pola hidup dengan selalu membersihkan diri terlebih dahulu begitu sampai di rumah dan melakukan kontak dengan orang-orang terkasih. Khusus hal terakhir, mungkin bisa diabaikan oleh para jomblo.

Pandemi Covid-19 ini memperlihatkan betapa pemerintah di banyak negara dan daerah tidak siap dalam melindungi masyarakat. Sebagian malah ribut sendiri di dalam pemerintahan. Maka, sembari berharap bahwa ada perbaikan di pemerintahan dalam kebijakan dan pernyataan, satu-satunya yang bisa kita andalkan selepas fase bulan madu ini hanyalah diri sendiri. Disiplin adalah koentji.

Bersiaplah memasuki fase dis-ilusi, semoga kita bisa selamat dari bencana ini.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini