‘Fan Fiction’ Game of Thrones Season Ramadan

‘Fan Fiction’ Game of Thrones Season Ramadan

Ilustrasi (Photo by mauRÍCIO santos on Unsplash)

Bagaimana jika Game of Thrones memiliki season khusus bulan puasa? HBO bisa mencontoh stasiun TV di Indonesia yang dulu sempat menayangkan sinetron season Ramadan.

***

Game of Thrones Season Ramadan bercerita tentang umara di Utara bernama Ned Stark. Sepuluh menit sebelum azan subuh, biasanya Ned Stark memperingatkan warganya untuk berhenti makan, “Imsak is coming.”

Sebagian besar rakyatnya mengikuti perintah Lord of Winterfell itu. Namun, masih ada yang tetap makan karena memang tidak berniat puasa. Salah satunya adalah putrinya yang bernama Sansa yang kebetulan sedang datang bulan.

“Yah, hari pertama puasa udah halangan. Kemungkinan aku nggak bisa ikut salat Ied di masjid agung King’s Landing lebaran nanti nih,” keluh Sansa.

Ned Stark juga punya anak lelaki yang saleh. Namanya Bran. Di usianya yang cukup belia, Bran sudah hafal surat-surat pendek. Kekurangan Bran hanyalah tidak pandai memanah.

Ned Stark sudah mengajari anak-anak lelakinya memanah sesuai anjuran Nabi. Namun, yang jago malah anak perempuannya yang tomboi, yaitu Arya. Ada juga anak lelaki yang jago memanah, tapi bukan anaknya. Ia adalah Jon Snow yang sudah dianggap anak sendiri, padahal masih keponakannya.

Baca juga: Game of Thrones: Arya Stark adalah ‘Femme Fatale’ Modern

Sekarang Jon Snow sedang siap-siap pergi ke Castle Black untuk jadi ‘Penjaga Malam’. Tugas ‘Penjaga Malam’ adalah keliling kampung membangunkan warga Utara untuk sahur.

Jon Snow sudah dilatih vokalnya untuk itu. “Bapak-bapak, ibu-ibu, ayo, sahuuuuur. Sah, sah, sahuuuuur. Sahur, sahur. Jangan tidur, ayo sahur. Sahuhuhuhuhur.”

Suatu hari, Ned Stark mengadakan buka bersama di Istananya. Ia mengundang Raja Robert dan Ratu Cersei dari King’s Landing. Namun, adik laki-laki ratu yang bernama Tyrion Lannister terang-terangan menunjukkan dirinya tidak berpuasa. Pada tengah hari di bulan puasa, Tyrion makan dan minum di tempat terbuka.

Ketika ditegur oleh Ned, Tyrion berdalih pakai motto keluarganya, “Lannister selalu membayar utang puasanya. Saya dibolehkan tidak berpuasa karena dalam hal ini saya termasuk musafir. Perjalanan dari King’s Landing ke Winterfell lumayan jauh, bikin saya haus.”

Keesokan harinya, Bran memergoki Ratu Cersei sedang batal puasa bareng kembarannya, yakni Jaime Lannister, di sebuah menara Istana. Cersei dan Jaime tertangkap basah makan mi instan hangat-hangat di tengah dinginnya Winterfell.

“Ih, udah gede nggak puasa,” ledek Bran. “Malu dong sama aku yang puasanya belum pernah bolong.”

Baca juga: Kursi Presiden dan Klaim Takhta dalam ‘Game of Thrones’

Untuk menjaga nama baik ratu, Jaime terpaksa mendorong Bran sampai jatuh dari menara. Namun, untungnya, Bran jatuh di tumpukan parcel. Akibatnya, Bran cuma benjol di jidat dan amnesia. Bran terancam tidak bisa lebaran.

Hal ini membuat sang ibu, yaitu Catelyn Stark, menjadi sedih.

“Bran, kamu lupa siapa yang dorong kamu?” tanya Catelyn.

“Lupa, Mak,” aku Bran.

“Kamu juga lupa semua hafalan kamu?” tanya Catelyn lagi.

“Lupa juga, Mak,” jawab Bran. “Tapi aku mau belajar menghafal dari nol lagi.”

Ned dan Cat tersenyum.

“Satu yang tidak aku lupa, cita-citaku untuk menjadi hafiz cilik,” pungkas Bran.

Robb Stark si sulung menyahut, “Mak, aku juga mau jadi hafiz cilik. Tapi belum khatam, udah keburu gede.”

Siapapun yang mencelakakan Bran, Ned dan Cat sudah memaafkan dan melupakannya. Keluarga Stark menolak suudzon kepada Keluarga Lannister.

Sementara itu, di seberang benua, ada seorang anak yatim piatu bernama Daenerys Targaryen yang ingin mudik ke kampung halamannya di Westeros. Ia menempuh perjalanan panjang sambil berpuasa.

Di perjalanan, Daenerys bertemu dengan Khal Drogo, pemimpin suku Dothraki. Darinya, ia belajar berkuda. Melanjutkan perjalanan, Daenerys sampai di sebuah daerah bernama Meereen.

Baca juga: Berbagai Versi Akhir Cerita ‘Game of Thrones’ Berdasarkan Kepribadian Penonton

Daenerys bertanya kepada warga setempat. “Numpang tanya. Saya sedang di mana ya, Kang?”

Warga setempat menjawab dengan logat Sunda, “Meereen, meureun.”

Dari situ Daenerys bertemu dengan pasukan Unsullied. Dari mereka, ia tahu keutamaan berkhitan bagi laki-laki. Di situ, profesi mantri sunat selalu banjir job.

Karena tidak pernah bolong puasa, Daenerys diberikan hadiah oleh Ser Jorah, paman ketemu gede. Hadiahnya berupa tiga ekor naga dewasa.

“Kalau kamu bawa tiga naga ini, kamu nggak bakal malu-maluin pas sampai di kampung halaman nanti,” ucap Ser Jorah. “Para tetangga pasti takjub lihat tunggangan kamu ini.”

Daenerys pun ganti kendaraan, semula kuda jadi naga. Dengan naga, Daenerys mudik lewat jalur udara. Sampai di King’s Landing sudah lebaran.

Kebetulan Raja Robert dan Ratu Cersei sedang mengadakan open house di Istana. Di sana, sudah ada Keluarga Stark yang datang dari Winterfell untuk halal bihalal. Terutama Bran dan Rickon Stark yang minta THR.

“Valar Morghulis, eh, Assalamualaikum.” Daenerys datang ke Istana ketika para hadirin sedang menyantap opor ayam dan ketupat.

“Waalaikumsalam,” Raja Robert langsung menyambut. “Oalah, anaknya Mad King! Udah gede ya sekarang! Dulu waktu saya melakukan pemberontakan, kamu masih kecil banget. Kapan nikah?”

Artikel populer: Seandainya ‘Infinity Stones’ di Film Avengers Jatuh ke Tangan Tokoh-tokoh Ini

Daenerys tahu jika Raja Robert adalah orang yang merebut tahta ayahnya. Namun, karena suasana lebaran, Daenerys justru ingin membina kembali tali silaturahmi yang terputus. “Mohon maaf lahir batin, Raja Robert.”

“Oh ya, mohon maaf lahir batin, Neng Dany,” balas Raja Robert. “Silakan duduk.”

Raja Robert sudah mempersilakan Daenerys untuk duduk. Kursi yang kosong saat itu hanyalah sebuah singgasana yang terbuat dari leburan pedang-pedang. Mereka menyebutnya Iron Throne.

“Di suasana yang fitri ini, saya minta maaf dengan apa yang sudah saya perbuat pada masa lalu. Saya mau tobat,” tutur Robert Baratheon. “Mulai dari nol ya, Neng Dany.”

Daenerys pun duduk di Iron Throne. “Saya sudah memaafkan kesalahan Keluarga Baratheon terhadap keluarga saya. Sebagai gantinya, saya ambil alih kerajaan. Boleh ya?”

“Oh, boleh, boleh,” ujar Robert Baratheon. “Memang itu hak keluarga Anda. Saya cuma pinjem barang setahun-dua tahun.”

Dan, Game of Thrones pun tamat tanpa pertumpahan darah. Naga-naga Daenerys pun tidak digunakan untuk teror karena hanya dijadikan kendaraan politik dalam makna sebenarnya. Semua masalah diselesaikan dengan saling memaafkan dan musyawarah.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.