Kalau Evan dan Ilham Tidak Nasionalis, Apa Kabar Ronaldo dan Messi?

Kalau Evan dan Ilham Tidak Nasionalis, Apa Kabar Ronaldo dan Messi?

Evan Dimas (coconuts.co)

Kita bisa saja krisis cabai ataupun garam, tetapi rasanya tidak akan pernah mengalami krisis lelucon. Bahkan bisa dibilang kita surplus. Ini seharusnya membuat kita mulai memikirkan swasembada lelucon.

Lelucon kali ini dikontribusi oleh salah satu lembaga atau organisasi yang katakanlah bergengsi di Indonesia: Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Tentu saja, saya tidak akan menjabarkan satu per satu karena kebanyakan, tapi fokus pada lelucon termutakhir dari sang ketua umum.

Mungkin Anda sudah tahu bahwa Pak Edy Rahmayadi beberapa waktu lalu menyampaikan pernyataan yang cukup dikategorikan sebagai salah satu lelucon terbaik di pengujung tahun 2017.

Bliyo, dengan geram, mengomentari keputusan Evan Dimas dan Ilham Udin yang memilih pindah ke Liga Malaysia, bergabung bersama Selangor FA.

Sebagai prajurit yang menjunjung tinggi rasa kecintaan terhadap negara, kepindahan dua pesepakbola Indonesia itu mengusik rasa nasionalisme Pak Edy.

Ia bahkan menganggap Evan Dimas dan Ilham Udin, pemain asal Bhayangkara FC, tak memiliki kebanggaan atas Tanah Air. Tidak nasionalis!

Awalnya, ketika membaca ucapan si Bapak itu, saya hanya menganggap angin lalu. Sebab, saya pikir, mungkin si Bapak sedang gundah. Entah karena apa, mungkin karena mendengar kabar Is memutuskan hengkang dari Payung Teduh.

Ahh… Besok juga bakal lupa, pikir saya saat itu. Tapi ternyata dugaan saya salah. Pernyataan Pak Edy semakin serius dan menjadi polemik yang cukup berlarut-larut. Terakhir, larangan bermain di Liga Malaysia oleh Pak Edy sudah diberitakan oleh media-media internasional. Agen Evan dan Ilham pun dipanggil PSSI.

Saya kemudian mencoba berpikir positif. Setelah saya telaah dengan seksama dan dalam tempo yang singkat sebagaimana hubungan kita berdua, ternyata sikap si Bapak itu tak sepenuhnya salah.

Si Bapak paham bahwa dalam olahraga, wabil khusus sepak bola, nasionalisme adalah bumbu utama. Apalagi, kalau kita berbicara tentang tim nasional, dan terlebih lagi jika itu berkaitan dengan negara tetangga.

Dalam sebuah dokumen tesis terbitan Oxford berjudul The Nation’s Game: Football and Nationalism in Spain, sang penulis menjabarkan bagaimana sikap atau rasa cinta terhadap Tanah Air itu berkelindan erat dalam sepak bola Spanyol, atau bisa dibilang hampir di seluruh negara yang olah raga populernya adalah sepak bola.

Ada satu kalimat yang menurut saya cocok dikutip di sini: “Sepak bola adalah salah satu aspek di mana bangsa ini disembah tanpa curiga. Orang-orang dididik untuk melepaskan ketegangan di stadion.”

Ada banyak sekali orang yang mungkin saja tak acuh saat Indonesia Raya dinyanyikan di halaman kantor saban Senin. Tetapi orang-orang ini bisa saja tak mampu menahan tubuh yang bergetar kala Indonesia Raya berkumandang di seantero stadion.

Atau, bagaimana seorang nyaris tak pernah menyentuh bendera merah-putih, namun saat berdiri di dalam stadion ia bisa membentangkan bendera tersebut dengan begitu bangga. Pak Edy Rahmayadi tampaknya paham dengan frasa ‘disembah tanpa curiga’.

Tetapi Pak Edy keliru, ketika menyandingkan profesionalitas dengan nasionalisme. Bahwa keberhasilan sepak bola bukan semata berdasar pada kedekatan nasionalisme dan sepak bola-nya.

Bahwa tidak ada pelarangan atas Morata, Azpilicueta, Fabregas, dan Alonso untuk bermain bersama Chelsea, sebagaimana tidak ada pelarangan kepada Maya Yoshida dan Shinji Okazaki yang juga bermain di Liga Inggris. Padahal, mereka turut serta memperkuat timnas masing-masing.

Pak Edy keliru, ketika mempersoalkan kepindahan Evan Dimas dan Ilham Udin dengan alasan nasionalisme dan ketakutan bakal terbacanya permainan timnas Indonesia di ajang Piala Asia 2018.

Jika logika ini digunakan, saya takut kita akan menyalahkan Cristiano Ronaldo atas kegagalan Portugal akibat bermain di Spanyol, negara yang memiliki persaingan sejarah dengan Portugal. Atau, menyalahkan Lionel Messi atas kegagalan Argentina karena hampir seumur hidupnya bermain di Spanyol.

Sombong boleh, asal tahu kondisi liga sendiri. Kalau Italia yang melarang para pemainnya berlaga di Liga Inggris sih sedikit wajar (walau tetap saja aneh) atau sebaliknya Inggris yang melarang. Ya liganya terjamin. Lhaa, Liga Indonesia?

Pemain yang didiskualifikasi saja masih bisa bermain karena kesalahan administrasi, tapi sok-sokan melarang pemain bermain di liga tetangga. Level masih mal-administrasi tapi bergaya seperti sudah menerapkan teknologi VAR.

Pak Edy lupa dengan Timnas Inggris? Itu negara yang pemainnya jarang bermain untuk liga di luar negaranya. Ya tapi mereka sampai saat ini hanya mampu merengkuh sebiji bintang di dadanya.

Kita juga bisa lihat Piala Dunia 2002. Saat itu yang menjadi juaranya dan sekaligus merengkuh bintang kelima adalah tim yang berisi nama-nama seperti Cafu, Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Rivaldo, yang semuanya bermain di liga-liga Eropa.

Mungkin saja Pak Edy takut Evan dan Ilham memutuskan membelot menjadi warga negara Malaysia? Seperti Arael Arguellez, pemain asal Kuba yang membelot ke Amerika Serikat, saat turnamen Piala Emas CONCACAF berlangsung pada 2015? Ya kalee, pak…

Nasionalisme tidak sepenuhnya menjadi modal utama dalam keberhasilan sepak bola. Bahwa menjual nasionalisme untuk mendulang simpati pendukung timnas memang berhasil, tetapi hal itu tidak menjadi pewajaran jika tidak diikuti dengan perbaikan kompetisi.

Mempersoalkan kepindahan Evan Dimas dan Ilham Udin sebagai tindakan yang tidak nasionalis itu tak ubahnya membuka borok sendiri. Apakah tidak ada yang bisa dibanggakan dalam kompetisi nasional sehingga harus menyeret isu nasionalisme?

Sebab burung tak akan terbang jauh, jika hutan tempat tinggalnya baik-baik saja…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.