Emily in Paris. (Netflix)

Meski dihujani kritik, kabarnya serial Emily in Paris bakal melanjutkan tayangan untuk musim kedua. Sejak Netflix memutarnya, 2 Oktober lalu, ulasan buruk lebih banyak seliweran ketimbang yang baik.

“Serial bodoh, 10 episode musim pertamanya cukup ditonton dalam sekali duduk tanpa repot-repot mikir.”

“Penuh olok-olok kepada orang Prancis sebagai gerombolan pemalas yang angkuh.”

“Mirip akun promosi wisata; makanan enak, spot foto indah, dan outfit mengesankan.”

Kira-kira seperti itu ulasan-ulasan yang banyak nongol. Tapi saya tetap nonton, penasaran juga soalnya. Masa sih nggak ada bagus-bagusnya barang secuil gitu?

Saat sudah punya waktu (sok sibuk pokoknya) dan mulai nonton, niat menghabiskan 10 episode dalam sekali duduk, urung. Saya terhenti di episode 3, ada yang menarik di sana.

Emily, perempuan Amrik yang bekerja pada agensi pemasaran di Paris, sedang berada di lokasi syuting iklan produk parfum. Iklan itu dibintangi perampuan model asal Serbia yang tinggi, kurus, dan berambut lurus.

Syuting iklan siap dimulai, si bintang melepas mantel. Tidak ada busana lagi di dalam mantel. Emily kaget melihat badan bugil si model. Tunggu dulu, ini belum masuk bagian menarik.

Skenario iklan dijalankan. Seorang perempuan telanjang berjalan di sepanjang jembatan yang pagarnya dijajari para lelaki bersetelan mahal. Seluruh lelaki itu menyorotkan pandang kepada yang melintas.

“Dia tidak telanjang, dia memakai parfum. Ini sangat seksi,” kata Antoine, seorang laki-laki klien kantor Emily yang akan menjual parfum itu.

Emily membalas, “Seksi atau seksis?”

Baca juga: Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Adegan selanjutnya adalah perdebatan. Antoine didukung Sylvie, si bos dari kantor Emily, menyebut skenario iklan itu adalah penggambaran sebuah mimpi, lebih tepatnya mimpi perempuan, menjadi pusat perhatian para lelaki. Emily mendebat bahwa itu bukan mimpi perempuan, melainkan mimpi lelaki yang ingin melihat perempuan telanjang di jalanan. Emily menegaskan bahwa itu adalah male gaze (tatapan lelaki).

Nah, ini yang menarik.

Serial yang tentu saja diproduksi dengan kamera sebagai alat perekam ini mengkritik bagaimana sebuah hasil rekaman yang tayang di layar (film) bisa dipenuhi cara pandang lelaki. Tatapan lelaki baik dari sisi pengambilan gambar, sisi karakter lelaki dalam film, maupun dari sisi penonton lelaki memunculkan politik seksual yang menjadikan perempuan sebagai objek.

Konsep tatapan lelaki dikenalkan oleh pakar teori film, Laura Mulvey. Lewat esai “Visual Pleasure and Narrative Cinema” yang terbit pada 1975 di jurnal Oxford, Mulvey menyebut perempuan dicirikan sebagai ‘calon yang bisa dipandang’ di (layar) bioskop, perempuan adalah tontonan dan laki-laki adalah pembawa tampilan. Perempuan secara visual diposisikan sebagai objek hasrat laki-laki heteroseksual. Media visual yang merespons voyeurisme – kegiatan meraih kenikmatan seksual dengan melihat atau mengintip bagian-bagian tubuh lawan jenis – akan menyuguhkan seksualisasi perempuan untuk penonton laki-laki (heteroseksual).

Stacy Smith, seorang peneliti media, meriset seksisme dalam industri film Hollywood. Salah satu temuannya, perempuan jauh lebih mungkin menjadi objek seksual dalam film daripada rekan lelaki mereka. Perempuan, menurut Smith, sekitar tiga kali lebih mungkin ditampilkan dalam pakaian terbuka ketimbang lelaki. Sebagian bahkan telanjang dan nyaris seluruhnya cenderung kurus.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Tak hanya iklan parfum dalam fiksi Emily in Paris, faktanya memang ada iklan yang menampilkan hal serupa. Pasti pernah lihat dong iklan parfum dengan target pengguna lelaki, yang muncul di layar TV dan gawai? Seorang lelaki yang setelah menyemprotkan parfumnya digelayuti perempuan berpakaian terbuka dan menonjolkan lekuk tubuh. Jika dalam iklan buatan kantor Emily perempuan ditatap tubuhnya sebagai obyek seksual, maka dalam iklan parfum yang dipakai lelaki itu perempuan ditatap sebagai objek pasif dan tidak berpikir.

Di film-film layar lebar, pemeran perempuan dimunculkan dalam karakter-karakter yang ditatap kecantikannya, tetapi pasif, kurang atau bahkan tidak berbicara ataupun berpikir.

Penampilan mereka hanya untuk menebalkan skenario kekuatan dan kepintaran karakter lelaki. Lihat saja perempuan-perempuan di sekeliling James Bond, di sekitar Ethan Hunt (Mission Impossible), hingga perempuan-perempuan yang mengikuti petualangan Indiana Jones.

Bahkan, Putri Jasmine dalam Aladdin (2019) yang lantang menyanyikan lagu “Speechless” pun tidak lepas dari topeng kecantikan dan kepasifan. Meskipun Putri Jasmine dalam film itu dikisahkan sebagai perempuan yang memiliki tujuan dan bisa berdiri membela dirinya sendiri, dia tetap menjadi objek setiap karakter lelaki di dalamnya.

Jasmine merupakan hadiah untuk dimenangkan Aladdin, dengan usaha amat keras sampai-sampai dibantu kekuatan gaib jin lampu. Sultan memandang Jasmine sebagai benda berharga yang harus diamankan. Bagi Jafar, Jasmine bagaikan parfum dalam iklan-iklan tadi, sebuah komoditi, yang bisa digenggam lalu ditukar dengan pengaruh dan kekuatan yang lebih besar.

Baca juga: Saat Laki-laki Berkencan dengan Perempuan yang Tampak Lebih Tua

Tim periset Stacy Smith telah menonton 800 film sejak 2007 hingga 2015 untuk mencari karakter-karakter di dalamnya yang berbicara. Mereka menemukan 35.205 karakter berbicara, lalu dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, ras, etnis, orientasi seksual, dan penyandang disabilitas. Hasilnya, dari seluruh karakter berbicara dalam ratusan film itu, yang berjenis kelamin perempuan tidak sampai sepertiganya. Tim periset juga mengambil sampel untuk film pada rentang 1946-1955. Menurut mereka, tidak ada perubahan proporsi karakter berbicara dalam dua kurun waktu tersebut.

Artinya, lebih dari setengah abad, karakter perempuan dalam film lebih banyak ditampilkan dalam bungkus cantik dan pasif. Film-film itulah yang diekspor ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, film-film impor mengalahkan film lokal kala itu. Sebuah esai tentang industri perfilman Indonesia menyebutnya dengan istilah hegemoni film Hollywood.

Jika kita lahir dan besar pada masa film-film itu diedarkan, artinya kita telah ‘dididik’ dengan tontonan yang membentuk cara pandang terhadap perempuan, yaitu memandang dengan tatapan lelaki alias male gaze.

Tatapan lelaki yang muncul dari sisi pengambilan gambar, sisi karakter lelaki dalam film, maupun dari sisi penonton lelaki, merupakan sebuah pola. Tatapan lelaki dari sisi penonton lelaki dibentuk oleh pengambilan gambar, juga cara pandang karakter lelaki dalam cerita. Persepsi penonton secara umum ditentukan oleh pembuat konten. Ketidaksetaraan gender di depan layar ditentukan oleh ketimpangan pada saat gambar diproduksi di belakang layar.

Mari kita kembali ke lokasi syuting iklan parfum untuk klien Emily. Cerita dalam iklan itu dibangun oleh Antoine, seorang lelaki heteroseksual. Bagaimana cara karakter-karakter lelaki yang berjajar di pagar jembatan memandang perempuan lewat yang hanya memakai parfum, adalah ide Antoine yang diejawantahkan oleh kreator-kreator di belakang layar.

Artikel populer: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Sementara, Antoine memiliki kuasa karena ia membayar ke kantor Sylvie, bos Emily, untuk iklan yang akan ditonton orang. Sylvie menentukan berapa bayaran untuk pemasar, pencatat, hingga para kreator. Ia pula yang merekrut dan memecat orang-orang di kantor itu. Satu lagi, Sylvie adalah pacar gelap Antoine. Aduh, lengkap sudah rentetan kejomplangan di belakang layar ini.

Karenanya, kritik Emily dari belakang layar menjadi sangat penting. Sebab, jika layar menampilkan kesetaraan kepada orang-orang di depannya, maka yang akan dibangun adalah cara pandang yang tidak menindas perempuan, tatapan yang tidak membendakan perempuan.

Stacy Smith menawarkan solusi untuk memperbanyak jumlah perempuan dalam posisi-posisi kreator di belakang layar. Penulis cerita, sutradara, perekam gambar, hingga pemeran perempuan, yang mana itu membutuhkan usaha dan waktu yang tidak sedikit.

Sayangnya, alih-alih menawarkan hal baru sebagai pilihan jalan keluar, serial Emily in Paris malah kayak minder duluan. Setelah perdebatan di lokasi syuting, adegan selanjutnya di ruang rapat. Antoine menunjukkan iklan parfum yang sudah jadi. Ya tetap saja dengan perempuan telanjang yang jadi tontonan pagar lelaki di jembatan.

“Seksi atau seksis?” tanya Antoine kepada audiens. Emily justru memberi ide untuk mengunggahnya di media sosial dalam bentuk polling. Yaelah, Em, bukankah itu berisiko? Kamu yakin followers-mu sudah terbiasa menatap tubuh perempuan sebagaimana mereka menatap tubuh lelaki? Kamu yakin followers-mu bukan generasi yang ‘dididik’ dengan film-film penuh ketimpangan gender? Tidak ada yang tahu hasilnya, karena episode itu dan selanjutnya tidak menceritakannya.

Tapi setidaknya Emily sudah berani menyerukan kritik soal male gaze. Mantab, Em! Ditunggu Emily in Paris season 2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini