Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Ilustrasi (Ronny Overhate via Pixabay)

Jack Ma pada suatu kesempatan pernah bilang kayak gini, “Jika sepuluh tahun yang lalu, orang-orang memperlakukanmu dari seberapa banyak penghasilan orang tuamu, maka di sepuluh tahun yang akan datang, orang akan memperlakukan anak dan orang tuamu dari seberapa banyak penghasilanmu.”

Diih, segitunya.

Ukuran sebagai manusia hanya diukur dari seberapa banyak uang yang dihasilkan. Seberapa tebal kantong kamu. Seberapa necis kamu keluar setiap pagi untuk pergi mengais rejeki. Seberapa kekinian dan elegan penampilan kamu, rumah kamu, kendaraan kamu, ponsel kamu, atau bahkan merek tas dan jam tangan kamu.

Itulah harga yang mesti kamu bayar untuk mendapat perlakuan bagus dari orang-orang. Atau, agar anak dan orang tuamu dihargai orang-orang. Duhh, betapa materialisnya dunia ini. Tapi ya begitulah yang terjadi di masyarakat.

Apalagi saat orang-orang mendapati kamu hanya di rumah saja padahal sudah sarjana, mengasuh anak, memakai daster tiap hari, bukan baju dinas yang necis. Orang-orang akan ikut menghitung berapa kira-kira uang yang ada di rekening kamu setiap bulannya, jika hanya menjadi emak-emak rumahan, sarjana pula.

Entah mengapa, tapi kebanyakan orang menganggap hal itu aib, jika mendapati seorang perempuan yang telah memiliki ijazah universitas, apalagi sudah bergelar magister, memilih untuk mengisi hidupnya menjadi ibu rumah tangga.

Ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap seorang sarjana. Pemikiran bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, mestinya semakin tinggi jabatannya dalam pekerjaan, dan semakin besar pula pemasukannya, masih sangat kental.

Karena itulah, ketika seorang perempuan memilih untuk menyimpan kertas ijazahnya dan memilih untuk mendidik anak-anaknya di rumah, kemudian mencari penghasilan dari rumah, yang tidak sesuai dengan keilmuan sewaktu bersekolah dulu, turut memantik selentingan-selentingan jahat dari mulut masyarakat.

Tapi kan ya, perlu diingat juga, bahwa ini persoalan memilih. Tidak semua orang dengan gelar sarjana yang bahkan bisa mengejar karier lebih bagus di luar sana untuk sebuah aktualisasi diri, mampu membuat pilihan yang memperkecil ruang geraknya seperti menjadi emak-emak rumahan.

Lantas, kenapa sih orang-orang pada sibuk dengan penghasilan emak-emak rumahan, juga dengan pilihannya yang dianggap kolot itu?

Baca juga: Saya juga Emak-emak, Lihatlah Saya Bisa Masak Apa dengan Uang Rp 100 Ribu

Saya yang notabene ibu rumah tangga pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat belanja di sebuah pasar tradisional. Si ibu penjual bertanya, “Kuliah apa udah kerja? Saya jawab,”Dulu sempat bekerja bu, sekarang sudah menikah dan sudah tidak bekerja lagi.” Lalu, si ibu balik bertanya, “Dulu kuliah kan? Saya menjawab, “Iya.”

Percakapan berlanjut dengan sindiran keras tepat ke muka saya, “Kasihan ya, anak saya juga begitu, sudah capek-capek dikuliahkan empat tahun, sekarang dia cuma di rumah aja, ndak ada kerja. Percuma aja kuliah, buang-buang duit aja. Sia-sia.”

Kata-kata itu seolah menampar-nampar pipi saya sampai merah. Saya kemudian berlalu sambil tersenyum. Senyum kecut gitu tentunya.

Ya memang begitu. Di masyarakat kita dogma seperti itu sudah melekat sangat kental, sudah dari jaman baheula, begitulah pemikiran orang-orang. Masih ingat nggak sih, dulu sebelum berangkat sekolah, orang tua suka nasihati anaknya begini..

“Rajin-rajin belajar ya nak, supaya pintar. Nanti kalo kita pintar jadi orang hebat, uang yang nyari kita, bukan kita yang nyari uang.” Mereka berasumsi bahwa bersekolah yang rajin merupakan satu-satunya jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan penghasilan yang tinggi.

Maka, tak heran, saat ini banyak orang yang mengejar selembar ijazah, mengkoleksinya, dan menjadikannya sebagai persyaratan pekerjaan dan kenaikan jabatan.

Ini tentu bukan esensi dari belajar atau bersekolah itu sendiri, seperti yang dikritik oleh Robert T Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad. Pola pemikiran seperti itu hanya akan menjadikan para sarjana yang bekerja untuk uang, dan mengalami kesulitan untuk membuat uang bekerja bagi mereka.

Kenapa begitu?

Ya karena dogma sekolah untuk dapat kerja, hanya akan menghasilkan para terdidik level pekerja, bukan yang mempekerjakan. Maka, di mata orang-orang itu, adalah kesalahan bila para sarjana tidak menjadi pekerja.

Lalu, karena semua anak tetangga ikut daftar CPNS tahun ini, sedangkan saya anaknya cuma sibuk baca dan melakukan hal remeh-temeh rumahan yang dianggap tidak menambah pundi-pundi di rekening.

Melihat hal itu, ibu saya jadi geram. Saya dapat menerka, pertanyaan macam ini sedang bergulir di kepalanya, “Mau jadi apa anakku? Capek-capek disekolahkan cuma ngasuh anak di rumah.”

Ternyata, dugaan itu benar. Tiba-tiba, ibu bertanya dan bahkan semua tetangga yang saya temui setiap hari juga bertanya, “Sekarang lagi buka lowongan PNS, kamu nggak ikut daftar?” Saya bilang, “Nggak.”

Ibu saya dengan suara tinggi balas menimpali, “Ndak ada saja gunanya kamu punya ilmu, apa gunanya kamu kuliah kalau tidak bisa diterapkan di mana-mana.”

Baca juga: Membela Emak-emak

Demikianlah, tudingan semacam itu sering dijumpai. Tapi memang benar, tidak semua yang kita pelajari di sekolah adalah ilmu yang dapat diterapkan secara riil dalam hidup yang pragmatis ini.

Apa yang akan sangat bermanfaat untuk kehidupan yang pragmatis dan materialis ini adalah semata-mata pendidikan finansial, yang tidak bisa dipelajari dari buku-buku teks sekolahan, demikian Robert T Kiyosaki.

Well, saya tidak mengatakan bahwa sekolah itu tidak penting ya.

Balik lagi ke cerita saya dan ibu yang mendesak saya untuk jadi PNS. Tapi, apa iya, saya mesti ceramah di depan ibu dan menjelaskan teori-teorinya Om Robert. Yang ada ibu bakal naik pitam.

Ternyata memilih jadi emak-emak rumahan itu berat juga, ya buk-ibuk! Tapi inilah hidup. Inilah pilihan. Seseorang dikatakan memilih karena dia mengambil satu opsi di antara beragam opsi yang tersedia, bukan?

Dan, hamba ini memilih untuk mengisi hidup dengan menjadi ibu rumah tangga, di samping ada pilihan lain untuk menjadi seorang wanita karier di luar sana.

Mengisi hidup lho ya, bukan hanya sebatas melanjutkan hidup.

Dua kata yang tentu berbeda makna filosofisnya. Seperti yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer dalam seri Pulau Buru bahwa semua orang bisa saja sedang melanjutkan hidup, dengan menggeluti sebuah profesi tertentu, mencari nafkah untuk menyenangkan hati orang lain yang berada di atasnya.

Namun, mereka belum memberi definisi tentang bagaimana mengisi hidup. Mengisi kehidupan dengan sesuatu yang dianggap mampu menjadikan diri bernilai.

Saya teringat kisah Suar dalam novel gubahan seorang penulis Mesir, Ihsan Abdul Quddus, yang berjudul Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan. Suar digambarkan sebagai seorang wanita yang sukses dalam kariernya. Ia seorang akademisi yang cerdas, juga seorang politikus yang dapat diandalkan, sebab memiliki nama baik, terkenal, dan menarik. Ia punya segalanya sebagai seorang perempuan.

Karena kesibukannya di luar sebagai wanita karier, baginya cinta dan pernikahan hanyalah sekadar pengisi waktu luang. Tak memiliki banyak waktu untuk anak dan suaminya, menjadikan Suar harus mengalami dua kali kegagalan dalam rumah tangga. Dua kali kegagalan dengan penyebab yang sama.

Kegagalan ini menjadikan Suar merasakan kekosongan yang hebat dari dalam dirinya. Baginya, selama ini karierlah yang pertama dan utama, sedangkan anak, suami, cinta, dan pernikahan tak lebih dari pengisi waktu luangnya yang tidak seberapa pula.

Namun, di tengah kegagalannya sebagai pribadi seorang ibu dan istri, ia malah makin mencintai kariernya dan menjadikan aktualisasi dirinya itu sebagai pernikahannya.

Artikel populer: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Kondisi Suar tentu tidak bisa menjadi sebuah patokan bahwa menjadi perempuan yang berkarier dapat menghancurkan rumah tangga, atau setidaknya memberikan ruang kosong di dalam kehidupan berkeluarga.

Namun, barangkali, ide di balik kisah inilah yang mengilhami para perempuan untuk bersekolah, memilih mengisi hidupnya sebagai ibu rumah tangga.

Ya, dalam kondisi seperti ini, emak-emak lebih memilih menjadikannya keluarga sebagai prioritas pertama dan utama, serta memilih untuk tidak berkecimpung di dunia perkuriran, eh perkarieran. Sebab, bagi mereka, anak, cinta, dan pernikahan bukanlah pengisi waktu luang, tapi waktu itu sendiri.

Janganlah emak-emak rumahan yang awalnya adalah perempuan-perempuan pintar di sekolahnya, aktivis di kampusnya, berprestasi di antara sesamanya, merasa minder ketika lebih memilih menyediakan seluruh waktu untuk anak dan keluarga.

Sebab kita sekolah bukan untuk pekerjaan dan uang, kita sekolah untuk maju dalam hal berpikir, dan mempersiapkan diri menjadi pendidik terbaik bagi anak-anak.

Saya ingat ucapan Anies Baswedan suatu ketika, bahwa orang tua adalah pendidik terpenting. Namun, sebagai pendidik, orang tua pulalah yang paling tidak tersiapkan.

Maka, sekolah itu memang penting dan tidak ada yang menampik itu. Tapi prinsip sekolah untuk bekerja adalah pemikiran yang mesti dilenyapkan.

Siapapun bisa bekerja dan bahkan menjadi lebih kaya atau bahkan mempekerjakan orang-orang yang lebih cerdas darinya, meskipun dia tidak bersekolah.

Sebab itu, tidak masalah dong ketika mereka yang sudah sekolah tinggi-tinggi, tidak pakai baju dinas setiap hari, lebih memilih untuk menjadi emak-emak rumahan. Kan sekolah bukan semata untuk dapat kerjaan.

Jadi mak, kalau ada yang masih nyinyirin, itu kertas ijazah kenapa dianggurin aja, kenapa mau cuma ngasuh anak aja di rumah, kenapa habis disekolahkan tinggi-tinggi tapi pemikirannya tambah kolot, kasih saja contoh ke mereka tentang istri Pak Habibie.

Ibu Ainun, juga begitu kok para hadirin. Disekolahin sama orang tuanya sampai jadi dokter, tapi milih jadi ibu rumah tangga dan merawat, serta mendidik anak-anaknya di rumah dengan tangannya sendiri.

Lebih dari segalanya, ini bukan hanya soal pilihan yang dibuat, tapi tentang bagaimana seseorang, katakanlah dalam hal ini perempuan, memilih untuk mengisi hidupnya sebagai pendidik anaknya dan poros di keluarganya. Mereka memilih untuk mengisi hidup bukan sekadar melanjutkan kehidupan.

Dan, seseorang yang memilih untuk mengisi hidupnya adalah hak prerogatif yang tak dapat diintervensi oleh siapapun.

Paham ya?

2 COMMENTS

  1. Salut dengan perempuan sarjana yang memilih jadi pendidik anak-anaknya secara fulltime di rumah. Sekarang juga udah zaman digital. Bisa buka usaha sendiri dari rumah kalau mau. Yang nyinyir emang suka lupa mingkem.

  2. Tidak menyalahkan sebagian orang tua yang kecewa ketika anak yang mereka sekolahkan tinggi dengan (mungkin) mengorbankan kepentingan mereka sendiri, susah payah, hutang sana sini dst.. memilih menjadi ibu rumah tangga. Mungkin beda cerita ketika kita sendiri yang membiayai pendidikan tinggi kita, dan kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Semoga kita orangtua jaman sekarang bisa menyekolahkan anak kita setinggi yang mereka mau sambil tetap menghargai keputusan mereka jika kelak ingin menjadi ibu rumah tangga setelah menikah.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.