Eksperimen Sederhana tentang Politik di Kalangan Milenial, Apa Reaksi Mereka?

Eksperimen Sederhana tentang Politik di Kalangan Milenial, Apa Reaksi Mereka?

Ilustrasi (StockSnap via Pixabay)

Menjadi pengajar itu tidak mudah. Apalagi, jika kamu mengajar di universitas. Dan, yang kamu ajar adalah mahasiswa semester mula alias semester pertama.

Kebetulan, saat ini saya diminta tolong mengajar di salah satu universitas di Jogja. Mengajar satu mata kuliah yang menurut saya tak mudah disampaikan, namun menarik dipelajari. Mata kuliah komunikasi politik.

Saat hendak mengajar, seorang teman yang kebetulan jadi dosen di situ, berpesan, “Jangan sampe kamu ajarin tina-tini atau lona-loni ya.” Yang dimaksud adalah tipu sana-tipu sini dan lobi sana-lobi sini.

Mungkin maksud beliau, karena belajar komunikasi politik, maka belajar bagaimana mengakali dosen saat mengerjakan tugas, mengakali dekan saat hendak melunasi SPP, atau bahkan mengakali rektor menjelang wisuda. Padahal, ilmunya lebih dari itu. Belajar jadi politikus.

Ketika mengajar, yang pertama kali saya lakukan adalah bertanya, meski kultur anak kuliah di Indonesia itu jarang atau bahkan tak ada yang menimpali, jika ada dosen bertanya.

“Baca berita apa hari ini?”

Itu pertanyaan pertama. Jarang ada yang jawab.

Yang kedua, “Baca berita politik apa hari ini?”

Malah makin nggak ada yang jawab.

Tampaknya harus lebih memancing keriuhan, pikir saya. Minimal pertanyaan yang membuat mereka langsung merespons. Kemudian, saya kembali bertanya, “Tahu cebong dan kampret?”

Sukses.

Semua mahasiswa serempak langsung menjawab, “Tahuuu, Masss.”

Baca juga: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Sampai di pertanyaan itu, saya malah tertawa terbahak-bahak. Sebab, ada selentingan celetukan seperti 2019 tetap Jokowi atau 2019 ganti presiden. Untuk menenangkan mereka, saya bertanya lagi, “Di sini siapa yang memilih Jokowi? Dan, siapa yang memilih Prabowo?”

Eh, ternyata tak ada yang berani bersuara. Mungkin antara malu-malu atau sungkan. Suasana kelas pun mendadak hening. Lantas, saya ganti pertanyaannya, “Di sini siapa yang golput?”

Tahu apa reaksi mereka?

Rata-rata mereka mengacungkan tangan. Sekitar 2/3 seisi kelas. Wagelaseeeh… Dan, ditambah pula celetukan-celetukan yang nyeleneh tentang politikus, partai politik, hingga keriuhan media sosial.

Saya tertawa saja. Mungkin karena melihat saya tertawa, seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan, “Mas, gimana caranya kami, para pemilih pemula yang tergolong milenial, bisa tergerak hatinya untuk ikut mencoblos di Pemilu 2019? Sebab, kami suka riuh di media sosial, tapi kami gak suka untuk taruh suara di pemilu?”

Blarrrrrr…

Baca juga: Tentang ‘Game of Thrones’ Ala Jokowi. Jangan Berlebihan Memuji, Ceritanya Begini

Pertanyaan begini ini yang bikin bingung. Mau dijawab ikuti hati nurani, nanti dibilang kader partai. Mau bilang mari mencoblos untuk kehidupan demokrasi yang lebih baik, dikira petugas KPPS.

Eh, sementara saya memikirkan sebuah jawaban, ada seorang mahasiswi nyeletuk, “Mass, kami pemilih pemula sebenarnya gak peduli pemilu sukses atau tidak, baik atau buruk, korupsi atau tidak korupsi. Yang jelas kami tak akan berhenti berinovasi. Apa pun inovasinya.”

Jawaban yang demikian malah mendapatkan tepuk tangan meriah.

“Betuuuul.”

“Sepakaaaat.”

“Setujuuuuh.”

Kalau sudah begini, saya jadi berpikir. Sebenarnya pasangan No 01 dan 02 beserta timsesnya, mikir kayak gitu nggak ya? Sebenarnya pemilih milenial macam apa yang mereka harapkan?

Semua berbondong-bondong untuk menjadi milenial. Jokowi bermain vlog, Sandiaga Uno sering berpose unik, Ma’ruf Amin dianggap sesepuh pro-milenial. Barangkali hanya Prabowo yang nggak mencitrakan dirinya milenial. Ya masak ada tentara milenial.

Lho, apa kabar AHY?

Artikel populer: Cerita-cerita Mahasiswa Papua yang Kuliah di Pulau Jawa

Kebetulan, saya mengajar lima kelas. Itu artinya ada 250 orang. Dan, hampir 2/3-nya lebih condong golput. Apakah ini berarti masalah seriyes? Bisa jadi.

Mereka hanya suka berbacot-bacot ria di media sosial. Bagi mereka, itu keseruan yang luar biasa. Tapi, untuk mencoblos di hari H pemilu, oh tunggu dulu. Meskipun berbusa-busa untuk membela pilihannya, mereka belum pasti akan mencoblos pilihannya.

Ngeri nggak sih?

Sementara, timses sudah memperkirakan, “Oh anak ini coblos kita, oh komunitas itu pasti coblos kita, dan sebagainya.” Terus, kalau ditanya buktinya apa? Ya tinggal mengarah ke media sosial. Sering kasih like atau love di postingan.

Padahal, ya nggak gitu juga. Jadi sebenarnya pilpres untuk siapa? Milenial? Wah, bisa jadi salah sasaran, lurr…

Milenial itu susah ditebak. Nggak bisa diatur. Sogok pake uang? Wong, mereka pada jawab, “Kami ambil uangnya, tapi belum tentu milih mereka.”

Apa nggak pusying itu timsesnya?

Tapi eh tapi, itu baru pilihan sebagian kecil pemilih pemula dan milenial di kampus saya mengajar. Bisa jadi di kampus lain beda. Malah banyak yang mau mencoblos. Siapa tahu, kan?

Jadi, coba deh tanyakan ke para pemilih pemula. Mereka melihat pemilu itu seperti apa? Jangan-jangan, memang benar demikian. Menarik di media sosial, tapi bikin sumpek di kehidupan nyata.

Duh, yang begitu katanya pemilu untuk milenial.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.