Ilustrasi (Ned Dorman via Unsplash)

Istilah ekspatriat sering kali dekat dengan imigran kulit putih. Sementara, orang yang berkulit cokelat atau hitam lebih sering disebut imigran. Padahal, ekspatriat dan imigran tidak memiliki perbedaan ras dalam definisinya.

Ekspatriat adalah orang yang tinggal di luar negara asalnya, baik untuk sementara maupun permanen. Sementara, imigran adalah orang yang datang untuk tinggal permanen di suatu negara. Perbedaannya, kalau imigran pasti permanen, ekspatriat belum tentu.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini justru menegaskan privilese kelas dan ras. Misalnya, orang Kenya atau Filipina yang datang ke Amerika Serikat biasanya otomatis disebut imigran. Sementara, semua bule kulit putih yang datang ke negara-negara selatan dunia akan langsung disebut ekspatriat.

Ketika seorang pria baya berkulit putih memutuskan untuk pensiun, mempersunting gadis belia di Kamboja, mengajukan permohonan menjadi warga negara dan tinggal permanen di kerajaan tersebut, dia akan tetap disebut ekspatriat, bukan imigran.

Belum lagi, perbedaan-perbedaan perlakuan terhadap orang yang dianggap sebagai ekspatriat dan imigran. Imigran biasanya dituntut agar bisa berintegrasi dengan masyarakat. Misalnya, orang-orang yang sedang tidak menggunakan Bahasa Inggris di AS (bukan berarti tidak bisa), sering kali menerima perlakuan rasis.

Sementara, orang kulit putih yang dilihat sebagai ekspatriat, tidak mendapatkan tekanan yang sama besar untuk berbaur dengan masyarakat lokal. Sederhananya, tak banyak orang kulit putih yang berusaha agar bisa berbahasa Indonesia ataupun Malaysia, meski sudah bertahun-tahun tinggal di negara tersebut.

Banyak yang beralasan bahwa ekspatriat terlalu sering berpindah negara dalam waktu singkat, sehingga tidak memungkinkan untuk berintegrasi dengan masyarakat dan budaya lokal. Hal ini bisa jadi masuk akal, apalagi mengingat banyaknya permakluman yang diberikan oleh masyarakat terhadap kulit putih.

Disinilah, privilese ekspatriat berkelindan erat dengan internalisasi kolonialisme oleh masyarakat lokal. Masyarakat lokal yang memang sudah rentan atas pemujaan berlebih terhadap kulit putih ini akhirnya semakin memuluskan privilese ekspatriat.

Baca juga: Berhenti Memuja Laki-laki Bule

Kasus bule yang menuduh orang lokal mencuri hape (padahal tidak) dan pelayan restoran yang lebih ramah dan permisif terhadap wisatawan asing cuma contoh kecil saja.

Mental yang mengagungkan orang asing berkulit putih ini bersisian dengan mental yang merendahkan kelompok kulit berwarna. Mentalitas ini seringkali tidak disadari dan terjadi dengan subtil.

Misalnya, saya memiliki usaha yang bekerja sama dengan sebuah sekolah internasional, salah satu yang paling besar di negara ini. Setiap kali saya datang ke bagian keuangan, mereka selalu tidak ramah dan sok sibuk. Bahkan, terkadang mereka mengabaikan saya.

Hal ini membuat saya kesal dan mual setiap kali harus ke sana. Padahal, saya harus ke sana setiap pekan. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk meminta bantuan relawan untuk mengambil pembayaran. Tak disangka, mereka baik dan ramah betul kepada si relawan yang seorang laki-laki berkulit putih.

Sikap seperti ini tidak hanya saya dapatkan dari masyarakat umum, melainkan dari orang-orang yang bisa dibilang ‘tercerahkan’ oleh isu-isu kesetaraan.

Saat diundang untuk terlibat dalam sebuah acara PBB, saya mengajak relawan yang sama untuk bergabung. Herannya, setiap ada yang menghampiri kami dan bertanya soal inisiatif start up ini, mereka akan mengabaikan jawaban-jawaban saya, dan mengejar jawaban dari si relawan.

Sepertinya mereka otomatis menyangka pemilik usaha pastilah seorang ekspatriat laki-laki yang berkulit putih, alih-alih ekspatriat berkulit cokelat.

Baca juga: Teruntuk Kamu yang Ngeres kalau Lihat Perempuan Indonesia sama ‘Bule’

Paling tak habis pikir adalah seorang rekan dari Kamboja yang pernah menimba ilmu di Amerika Serikat. Empat tahun di Amerika membuat dia tak mau lagi melihat dirinya sebagai orang Kamboja. “Saya orang Kamboja, tapi tidak seperti orang Kamboja pada umumnya, saya lebih internasional,” katanya dalam Bahasa Inggris.

Kemudian, dia hanya bergaul dengan para imigran yang berkulit putih, sering bersikap tidak sopan kepada orang lain dengan kulit berwarna, dan selalu menggunakan Bahasa Inggris, meski ketika berbicara dengan sesama orang Kamboja.

Begitu parahnya internalisasi kolonialisme sehingga bergaul dengan kelompok ekspatriat agaknya dianggap dapat menularkan privilese-privilese ekspatriat.

Dalam persoalan lain, kita semua tentu sering mendengar bahwa pekerja ekspatriat mendapatkan gaji dan benefit yang jauh lebih besar, sampai taraf tak masuk akal, dibanding pekerja lokal.

Dari sebuah tawaran kerja di Bali yang tak saya ambil, saya jadi mengetahui bahwa lembaga tersebut hanya memberi cuti 12 hari kepada orang Indonesia, namun cuti 30 hari kepada ekspatriat, meski keduanya berada dalam struktur yang sama dan mengikuti jadwal libur yang sama dari pemerintah.

Nah, rasisme dan internalisasi kolonialisme terhadap ekspatriat berkulit cokelat ini lebih bahaya lagi. Di negara-negara Asia Tenggara, karena sama-sama berkulit cokelat, seringkali saya disangka lokal.

Artikel populer: Menjawab Keluhan Orang Asing tentang Bahasa Indonesia

Namun, karena tidak bisa berbicara bahasa lokal dengan lancar dan campur-campur dengan Bahasa Inggris, banyak orang yang akan beranggapan bahwa kita adalah orang lokal arogan yang tidak mau berbicara bahasa lokal.

Anggapan bias ini biasanya memicu sikap yang kurang ramah dari lawan bicara. Lalu, ketika mereka mengetahui bahwa saya bukanlah lokal, mereka biasanya akan lebih ramah.

Namun, ketika mereka mengetahui bahwa si ekspatriat yang kulit berwarna ini bukanlah pejabat di perusahaan ataupun organisasi besar, kemudian mereka akan menjadi lebih tidak ramah lagi. Sebab, saya cuma dianggap imigran. Pola ini dimanfaatkan Trump dalam berkampanye: imigran yang kulit berwarna akan mencuri pekerjaan dari orang lokal.

Sebab itu, berdasar pada berbagai privilese yang melekat pada kata ekspatriat dan diskriminasi yang melekat pada warna kulit dan status imigran, saya enggan dan menolak menggunakan kata ekspatriat dalam kehidupan sehari-hari kepada imigran berkulit putih.

Sejatinya, para ekspatriat ini juga imigran. Sebab itu, sebut saja mereka imigran atau kalau memang tinggalnya hanya sementara, ya panggil mereka orang asing (foreigner) saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini