Ilustrasi perempuan (Pexels/Pixabay)

Selama pandemi Covid-19 terjadi lonjakan jumlah pernikahan usia anak di Indonesia. Setidaknya terdapat 34.000 permohonan dispensasi menikah dari anak-anak di bawah usia 19 tahun kepada Badan Peradilan Agama Indonesia selama Januari hingga Juni 2020.

Selain faktor ekonomi (adanya anggapan bahwa menikahkan anak akan mengurangi beban keluarga), pergaulan yang berujung pada kehamilan di luar nikah juga menjadi penyebab pernikahan usia anak di masa pandemi. Bahkan, protokol kesehatan yang awalnya disayangkan karena dianggap mengurangi kemeriahan pernikahan belakangan justru dimanfaatkan sebagai kesempatan memangkas biaya (resepsi) pernikahan anak. Kapan lagi kan, bisa menikah irit tanpa harus berhadapan dengan tetangga julid?

Di sisi lain, (mantan) anak-anak yang telah jauh melampaui usia 19 tahun tapi masih melajang, sekalipun punya peluang resepsi irit saat Covid, justru harus berhadapan dengan gempuran masyarakat julid. Terlebih, ketika belakangan sebuah film pendek bergenre infotainment viral dengan konten pokok: pergosipan duniawi terhadap perempuan lajang berusia matang.

Baca juga: Nikah Usia 16 Tahun Dipamerin, ‘Influencer’ kok Gitu?

Melajang di usia matang tidak pernah mudah bagi perempuan. Tentu saja, lelaki yang sudah berusia matang dan belum menikah juga mendapat tekanan dan bully secara verbal oleh masyarakat. Tetapi, ada konten roasting yang hanya berlaku eksklusif bagi jomblo perempuan.

“Perempuan itu ibarat susu, ada masa kedaluwarsanya. Susu kalau sudah basi bakal rusak, nggak bisa dikonsumsi. Makanya, buruan kamu nikah!”

“Perempuan itu seperti bunga, lama-lama akan layu. Mana ada yang mau bunga layu?”

“Perempuan itu kayak lombok, masa segarnya sebentar. Kalau nggak segera dipanen, bakalan busuk. Yang namanya lombok bosok nggak bakal laku dijual.”

Sebenarnya masih banyak olok-olok lain terkait tubuh perempuan dan status melajang mereka yang tentu tidak dialami kaum lelaki. Memang, perempuan melalui rahimnya memiliki peran sentral terkait amanah prokreasi dalam pernikahan. Karena secara medis terdapat catatan risiko kehamilan di atas usia 35 tahun, seolah ada aturan tidak tertulis bagi perempuan untuk segera menikah agar alat reproduksinya dapat berfungsi maksimal.

Baca juga: Mereka yang Menikah dan Ditinggal Nikah oleh Mantan

Sayangnya, alih-alih mengadakan sosialisasi kesehatan reproduksi yang lebih empatik, masyarakat +62 memilih metode julid ‘lombok bosok’ untuk mengampanyekan relasi usia menikah dengan kondisi rahim perempuan.

Manusia-manusia ini seolah hanya melihat tubuh perempuan sebagai alat reproduksi yang baru akan bernilai jika sudah melahirkan bayi. Lebih parah lagi, mereka melihat keberhasilan amanah prokreasi sebatas pada pembuahan biologis dari alat reproduksi laki-laki dan perempuan. Sehingga, usia subur perempuan menjadi nilai lebih yang disandingkan dengan buah ranum, bunga mekar, padang hijau.

Konsekuensinya, mereka yang masih lajang padahal sudah berusia matang akan dilihat sebagai penyakit yang mesti segera disembuhkan. Orangtua, kerabat, hingga tetangga sibuk menawarkan perempuan lajang berusia matang itu kepada siapa saja lelaki yang menurut mereka cocok, tanpa benar-benar menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Seolah mereka hanyalah properti reproduksi yang boleh ditawarkan kesana kemari demi tidak kedaluwarsa sebelum digunakan.

Parahnya, beberapa olok-olok reproduksi itu disampaikan dengan bahasa yang seolah islami, padahal sejatinya tidak.

Baca juga: Sebagai Perempuan Desa dan Lajang, Ini Kesan yang Muncul Setelah Nonton Tilik

Dalam pandangan hidup muslim, sebagaimana pasangan, anak pun adalah rezeki. Keberadaan janin di wadah – yang namanya bahkan mencerminkan salah satu Asmaul Husna – bukan semata karena kausalitas usia subur dan pembuahan biologis. Di atas itu, ada kasih sayang Ar-Rahim yang memungkinkan janin itu ada di sana, berapapun usia perempuannya. Dengan demikian, konsep ‘rahim kedaluwarsa’ yang dianalogikan sebagai susu basi hingga lombok bosok sangat tidak sesuai dengan perspektif ketetapan ilahiah.

Akan tetapi, kausalitas seperti itu tentu sulit dipahami kaum materialis yang menyimpulkan sesuatu hanya berdasar penerimaan informasi panca indra.

Sedihnya, pola pikir materialis seperti itulah yang selama ini telah mengakar di masyarakat, yang bahkan tanpa sadar mungkin kita juga melakukannya. Yaitu, menilai hanya dari apa yang terlihat, meskipun fakta indrawi sering kali berdusta. Seperti bintang yang tampak kecil, padahal ukurannya berkali lipat dari kita. Seperti bulan yang tampak diam, padahal senantiasa bergerak. Seperti kamu dan dia yang tampak dekat, padahal sejatinya jauh berjarak. Eh.

Artikel populer: Suka Ledekin Orang yang Melajang, tapi kalau Kepepet Suka Pinjam Uang

Labelisasi perempuan berusia matang yang belum menikah sebagai susu basi hingga lombok bosok dan segala analogi peyoratif lain sejatinya juga tidak jauh-jauh dari pola pikir materialis ini. Bahwa nilai diri perempuan hanya dinilai terbatas pada hal-hal yang bisa diindra sebagai material being (makhluk fisikal) – yang ketika tua dianggap basi, layu, dan membusuk sehingga tidak akan laku.

Bagi manusia-manusia materialis, jangankan bisa melihat perempuan sebagai makhluk spiritual yang memiliki kesadaran ilahiah. Mau menerima perempuan-perempuan ini sebagai makhluk intelektual yang berakal saja rasanya begitu sulit.

“…yo aneh-aneh wae kok. Wong wis umurane kok yo ra ndang rabi?” begitu masyarakat penggosip menghakimi kejombloan perempuan berusia matang. Seolah tidak ada pertimbangan rasional bahkan spiritual di balik status lajangnya, sehingga konsep ‘aneh-aneh’ begitu mudah dijadikan simpulan.

Padahal, kalau saja mau mendengar pengalaman mereka lebih dalam, akan ada banyak perspektif yang membuat kita bisa lebih membantu alih-alih hanya mengganggu. Setidaknya kalaupun kita masih menikmati kebahagiaan nyacati lan nyocoti perempuan lajang di usia matang, bisa diimbangi dengan mencarikan solusi atas kendala yang menahannya dari pernikahan.

Biar nggak malu sama nasihat guru besar pergibahan duniawi: “Dadi wong ki mbok sing solutip!”

1 KOMENTAR

  1. Terima kasih telah menjadi suara bagi kami para perempuan lajang yang sepertinya dianggap lebih nista daripada lelaki lajang yang boro-boro menikah, malah suka-suka tidur dengan banyak perempuan. Jangan tanya lagi seberapa muaknya saya dengan sesama orang Indonesia yang masih berpikir seperti ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini