‘Eco Fashion’ Islami, Kesadaran Ideologis atau Hanya Tren Bisnis?

‘Eco Fashion’ Islami, Kesadaran Ideologis atau Hanya Tren Bisnis?

Ilustrasi (Photo by The Lazy Artist Gallery from Pexels)

Baru-baru ini, perhelatan busana muslim terbesar di Indonesia, Muslim Fashion Festival (MUFFEST) selesai digelar di Jakarta. Dalam rangka menyukseskan cita-cita Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia pada 2020, Indonesia Fashion Chamber (IFC) selaku penyelenggara mengaku giat melakukan peningkatan kualitas produk, termasuk dengan memasukkan konsep sustainable fashion dalam acara tersebut.

Sustainable fashion merupakan konsep berkelanjutan dimana produk fashion dirancang dan diproduksi dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan.

Secara resmi konsep ini ‘diperkenalkan’ ke Indonesia melalui Sustainable Fashion Forum yang diselenggarakan Jakarta Fashion Week dan British Council pada 2015, bersamaan dengan diputarnya film dokumenter yang membahas sisi gelap industri fashion, The True Cost (2015).

Konsep fashion berkelanjutan menjadi tren baru industri global, karena fakta kerusakan lingkungan akibat industri fashion yang tidak lagi bisa ditutupi. Setidaknya industri ini menyumbang 10% dari total emisi karbon global. Selain itu, jumlah penggunaan air bersih dalam produksi pakaian yang sangat tinggi, yakni sekitar 216 miliar liter per tahun, membuat industri ini menjadi penyumbang polusi terbesar kedua setelah industri minyak.

Baca juga: Hijab di Indonesia dan Mengapa Masih Jadi Kontroversi

Sekalipun desainer busana muslim seperti Dian Pelangi sudah menerapkan konsep ini sejak awal kedatangannya di Indonesia, komunitas (pagelaran) fashion muslim baru mengadaptasinya secara eksklusif melalui MUFFEST 2019, sekalipun belum semua peserta pagelaran menerapkan sustainable fashion. Padahal, secara ideologis, konsep sustainable fashion sangat bersesuaian dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Meskipun konsep ekologi dalam Islam sudah ada sejak ratusan abad lampau melalui Alquran dan hadis, ilmuwan muslim kontemporer baru mulai menyuarakannya secara formal pada akhir abad 19.

Mereka di antaranya Abou Bakr Ahmed Ba Kader (Islamic Principles for the Conservation of the Natural Environment), Mawil Izzi Deen (Islamic Environmental Ethics: Law and Society), Hossein Nasr (Islam and the Environmental Crisis), Safei El-Deen Hamed (Seeing the Environment Through Islamic Eyes: Application of Shariah to Natural Resources Planning and Management), dan Iqtidar H. Zaidi (On the Ethics of Man’s Interaction with the Environment: An Islamic Approach).

Sayangnya, sekalipun secara teori telah banyak dijelaskan perihal mulianya hubungan manusia dan alam, pada praktiknya syariat ekologis tersebut belum terlalu populer di kehidupan muslim hari ini.

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Konsep-konsep ekologi Islam yang dituliskan ulama-ulama tersebut pun baru pada tataran global dan belum memasuki bidang-bidang krusial, dimana pengelolaan mega industri tertentu mempengaruhi kondisi sumber daya alam yang menjadi hajat hidup orang banyak. Termasuk industri fashion muslim dan kaitannya dengan kerusakan alam (tanah dan air). Sehingga ‘dakwah ekologis’ melalui industri ini justru banyak diisi pebisnis sosial dengan ideologi yang belakangan rajin ditolak sebagian muslim Indonesia, yaitu feminisme. Tepatnya, ekofeminisme.

Dalam pandangan ekofeminisme, perjuangan menghentikan kekerasan terhadap perempuan berkelindan dengan kekerasan terhadap alam, karena pandangan eksploitatif patriarki terhadap keduanya sebagai (hanya) material kebendaan. Salah satu kerja reservasi alam sekaligus pemberdayaan perempuan tersebut, yakni melalui fashion etis dan berkelanjutan.

Dengan konsep ini, penggunaan material fashion organik tidak hanya dilakukan karena tuntutan tren semata, melainkan karena kerusakan lingkungan yang dihasilkan pertanian kimiawi dan dampak buruk kesehatannya bagi petani.

Selain itu, fashion etis menekankan pemenuhan hak-hak pekerja industri fashion (yang mayoritas perempuan), di antaranya jaminan kesehatan dan pembayaran upah yang adil. Isu kesejahteraan buruh industri fashion utamanya mencuat setelah runtuhnya Rana Plaza, tempat produksi fast fashion internasional di Dhaka, Bangladesh, yang menewaskan lebih dari seribu manusia pada 2013. Tragedi tersebut kemudian diangkat dalam dokumenter The True Cost.

Baca juga: ‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Perspektif ekofeminisme nyata terlihat dalam film tersebut melalui keterlibatan Vandana Shiva, ecofeminist India yang memberikan pandangannya terkait relasi tanah dengan manusia yang lebih dari sekadar komoditas untuk dirusak (melalui pertanian kimiawi).

Berhubung eksploitasi alam dan perempuan ‘Dunia Ketiga’ sebagai dampak kapitalisme global berkaitan erat dengan kolonialisme dan imperialisme Barat, ekofeminisme kerap dilihat dalam perspektif poskolonialisme. Tidak mengherankan jika dalam praktiknya banyak pegiat sustainable fashion memilih untuk memproduksi pakaian mereka di desa tanpa harus mengimpor pola industrialisasi perkotaan berikut kultur dan cara pandangnya.

Di Indonesia sendiri merek-merek yang sejak awal konsisten dengan kerja fashion berkelanjutan antara lain Rupahaus, Osem, Sukkhacitta, Seratus Kapas, Imaji Studio, Kana Goods, Haku, Pijak Bumi, dan Cinta Bumi.

Surprisingly, dalam deretan leading sustainable fashion tidak ada brand muslim fashion yang secara holistik hanya memproduksi eco fashion. Sekalipun ada satu dua nama desainer muslim fashion yang mengeluarkan koleksi eco fashion, produk tersebut bukan menjadi produk utama dan tampak hanya sekadar mengikuti tren bisnis global. Termasuk, bagaimana merek-merek muslim fashion yang terlibat dalam pagelaran sustainable fashion pada MUFFEST 2019.

Artikel populer: Cara Mengurangi Sampah Plastik Tanpa Harus Patuh pada Neolib

Definisi sustainable yang ditawarkan pun masih sebatas pada penggunaan bahan organik – terlebih acara tersebut bekerjasama dengan salah satu produsen kain organik terbesar di Asia. Sementara, proses produksi dari hulu ke hilir yang menjadi parameter pemberdayaan pekerja masih belum sepenuhnya dikampanyekan, sekalipun oleh brand besar yang cukup memenuhi syarat keberlangsungan seperti Dian Pelangi.

Kekosongan peran fashion muslim dalam perjuangan sustainable fashion ini sebenarnya cukup menyedihkan. Sebab, sekalipun secara ideologis nilai-nilai Islam sangat bersesuaian dengan konsep tersebut, pada praktiknya industri fashion muslim justru tidak benar-benar menerapkannya secara kaffahIf not at all.

Edukasi pasar terkait busana muslim pun masih sebatas simbol kesalehan visual, lebih sempit lagi pada ukuran dan model pakaian seperti apa yang paling cepat mengantarkan muslim ke surga. Padahal, keterangan visual mendetail semacam itu tidak tertulis dalam Alquran, sedangkan ayat-ayat terkait larangan merusak alam lebih nyata terekam sebagai syariat yang tidak dirindukan dalam industri fashion.

Sedih, sih. Ukhtivis muslim cenderung masih gagap menanggapi tantangan ‘dakwah sosial ekologis’ para ekofeminis seperti ini. Tetapi kelak, ketika perjuangan mereka mulai menampakkan hasil dan dirasa ‘membahayakan’ akidah umat, dengan galak kita berkata, “Sudah sejak dulu Islam mengajarkan relasi mulia manusia dengan alam tanpa harus mengenal ekofeminisme.” Hehe… Kan, ngeselin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.