Ilustrasi pekerja. (Jorg Moller/Pixabay)

Karena saya juga seorang buruh perempuan, perih rasanya membaca posting-an yang pernah viral di Twitter. “Waaah, kok nanggung banget mbaknya. Masa cuma skincare, sih? Sekalian dong masukin biaya filler, botox dan tarik benang, peninggi, pelangsing, dan pemutih.” Diunggah di akun Instagram seseorang, menanggapi isi poster pendemo perempuan di Jawa Timur: “Skincare mahal, gak good looking, gak dihargai”.

Sebagai pekerja, bukannya dihargai karena skill dan kerja kerasnya, yang dinilai malah tampilan fisik. Kurang sedih apa coba kenyataan dunia kerja yang seperti ini untuk perempuan? Curcol yang menyayat hati dari buruh perempuan yang turun ke jalan berpanas-panasan untuk demo, banyak dikomentari sengit justru oleh sesama perempuan.

“Ah, gue kan kerja kantoran. Wajar, dong, berpenampilan menarik. Mereka itu buruh pabrik, buat apa skincare? Memang mengada-ada, sih.” Salah, kamu adalah buruh karena kamu bukan pemilik modal. Bekerja di kantoran dengan AC selalu menyala dan bekerja di pabrik itu sama-sama bekerja untuk orang lain. Kamu terikat aturan (tertulis ataupun tidak) yang membuatmu tidak bisa menentukan nasibmu sendiri atau bertindak sesuka hati. Contohnya, soal berpenampilan menarik di tempat kerja. Bukan karena bisa, melainkan karena harus.

Justru orang yang mengada-ada adalah mereka yang menganggap buruh perempuan – yang bekerja di pabrik – bertindak berlebihan soal skincare. Sebab skincare adalah kegiatan perawatan kulit. Penggunaannya bertujuan untuk menjaga kulit sehat dan terawat. Sangat berbeda dengan tujuan mengaplikasikan filler, botox, dan tarik benang, sebagai tindakan medis dengan tujuan estetika. Selain beda tujuannya, biaya yang dibutuhkan pun beda kasta.

Baca juga: Semua yang Bergantung pada Upah adalah Kelas Pekerja

Tolong beri garis bawah pada kata “kasta”. Itulah penyebab seseorang bisa berkomentar salty pada pendemo perempuan di Jawa Timur. Mereka pikir seharusnya buruh tahu diri ada di kasta mana, buruh beli skincare dianggap ngelunjak.

Karena ada bias kelas tersebut, seseorang tidak tahu sekaligus tidak mau tahu bahwa ada persoalan diskriminasi pada buruh perempuan berdasar tampilan fisik. Manusiawi kalau tidak tahu, kita memang lebih banyak melihat apa yang ingin kita lihat saja. Tapi, bukan berarti persoalan orang lain yang nggak terlihat oleh kita itu tidak terjadi.

Pasti sudah biasa baca iklan lowongan pekerjaan yang mencantumkan syarat diskriminatif, bukan? Berpenampilan menarik, tinggi badan minimal 165 cm, usia maksimal 25 tahun, fresh graduate, belum menikah, dan melampirkan foto.

Lowongan dengan persyaratan semacam itu biasanya untuk posisi frontliner atau pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Misalnya humas, marketing, perbankan (apapun posisinya), dan sebagainya.

Ditulis atau tidak dalam persyaratan, pelamar dengan penampilan yang good looking punya peluang untuk menjadi juara. Sering banget beredar cerita di forum-forum HRD atau obrolan makan siang yang ringan dan sambil lalu saja. Ada kecenderungan memilih kandidat yang good looking dan supel jika hasil tes mereka skornya sama. Alasannya untuk ‘seger-segeran’ di kantor. Realitas seperti ini sudah menjadi rahasia umum.

Baca juga: Ketika Stand Up Comedian Jadi Bos dan Chat soal Pekerjaan ke Karyawan

Setelah diterima bekerja, mereka yang good looking juga mendapatkan kesempatan yang lebih banyak. Tentu saja karena preferensi pribadi superiornya di pekerjaan, mereka mencari ‘seger-segeran’ supaya tidak suntuk.

“Aku seleksi banyak CV kandidat, 30 CV masuk ke direksi dan hanya dipilih tujuh, yang cakep-cakep. Alasannya kantor butuh penyegaran. Seleksi sisanya diserahkan ke HRD. Akhirnya aku pilih yang pintar saja,” cerita teman yang bekerja sebagai HRD di sebuah BUMN. Ia memilih kandidat yang pintar tanpa mempertimbangkan penampilan karena pernah mengalami diskriminasi.

“Dulu waktu aku masih anak baru, pernah disuruh beresin data sampai jam satu malam. Eh, besoknya yang diajak meeting yang cakep-cakep, dataku dibawa.”

“Bertahun-tahun diperlakukan seperti itu. Kalau ada perjalanan dinas yang teman-temanku nggak bisa handle, baru aku diberi kesempatan. Nggak good looking nggak diajak dinas jalan-jalan, hahaha. Kalau ingat rasanya jengkel banget. Tapi juga bersyukur karena load pekerjaan yang banyak itu bikin aku berkembang. Dan, akhirnya malah naik jabatan duluan karena mereka nggak mau aku resign,” cerita teman panjang lebar mengenang perjalanan kariernya.

Teman saya yang belasan tahun berkarier sebagai HRD itu lulusan jurusan Psikologi sebuah universitas negeri ternama. Punya keahlian, punya pengalaman, lulusan universitas ternama, ternyata masih mendapat diskriminasi. Kalau pekerja kerah putih saja mendapat perlakuan seperti itu, bagaimana dengan pekerja kerah biru?

Baca juga: Soal Izin Cuti Menstruasi, Kenapa Mesti Drama Dulu sih, Bos?

Situasinya sama saja. Mereka yang good looking lebih disukai oleh superiornya, mendapat kemudahan di pekerjaan seperti perpanjang kontrak kerja atau mendapat jatah lembur dengan tambahan honor. Di usia 30-an, jika kamu nggak terlalu jago dalam pekerjaanmu, akan selalu ada pekerja baru yang lebih segar dan good looking yang akan menggantikan posisimu. Apalagi, jika kamu sudah berkeluarga dan punya anak.

Kenyataan tersebut bahkan disadari oleh teman kerja yang laki-laki. Dalam sebuah rapat membahas pekerjaan, tiba-tiba ia bertanya kepada saya sebagai satu-satunya perempuan di ruangan tersebut, “Perempuan kalau nggak cantik, atau pintar, mereka bekerja jadi apa biar tetap bisa menghidupi diri sendiri?”

Tidak mengherankan ada buruh pabrik bagian produksi juga sibuk merawat diri, meski sehari-hari berhadapan dengan mesin. Buruh perempuan perlu tampil menarik dan butuh skincare, bukan untuk alih profesi menjadi selebgram. Mereka hanya berusaha bertahan di kerasnya persaingan dunia kerja. Pekerja perempuan (baik itu skilled labour, trained labour, dan unskilled labour), memiliki persoalan abadi yang sama.

Diskriminasi berdasarkan penampilan itu ada, di berbagai tipe industri dan jenis pekerjaan. Alasannya seperti yang disebutkan oleh direksi tempat teman saya bekerja: butuh karyawan cakep untuk penyegaran (mata).

Artikel populer: Cerita-cerita Pekerja NGO, dari Masalah Upah Hingga Percintaan

Seandainya kenyataan yang dihadapi perempuan tersebut kamu anggap fiksi dan sinetron banget, maka anggaplah perlakuan yang mereka terima dikenal sebagai male gaze. Jika terlalu sulit memahami situasi mereka, karena merasa tidak pernah mendapat persoalan yang sama, pahami saja konsep male gaze tersebut.

Secara sederhana, teori male gaze menjelaskan bahwa laki-laki adalah subjek yang melihat dan perempuan adalah objek yang dilihat (dari mata laki-laki heteroseksual). Teori ini dicetuskan oleh Laura Mulvey dalam jurnal Visual Pleasure and Narrative Cinema pada tahun 1975.

Bisa dibilang male gaze adalah objektifikasi perempuan, seksisme. Buruh perempuan harus pusing dengan menstruasi, hamil, dan menyusui yang diabaikan oleh superior dan tempatnya bekerja. Eh, masih ditambah diskriminasi penampilan. Cobalah tanya ke perempuan yang bekerja di bidang apapun, setidaknya sekali saja dalam perjalanan karier mereka, pasti pernah berkata “Seandainya aku laki-laki”. Di banyak situasi yang dihadapi oleh buruh perempuan, menjadi laki-laki akan menyelesaikan separuh persoalan.

Lagi pula, kalau beli skincare masuk dalam daftar kebutuhan seorang buruh, apa salahnya? Memangnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan punya kulit sehat hanya boleh dimiliki oleh pengusaha kaya dan sosialita?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini