Drama Korea Start-Up (tvN).

Drama Korea yang disiarkan tvN x Netflix kerap jadi trending. Setelah It’s Okay to Not Be Okay yang diklaim sebagai drama healing terbaik, kini giliran Start-Up yang salah satu topik dalam ceritanya soal pendidikan kesehatan mental.

Drama ini bercerita tentang perjuangan anak muda membangun perusahaan rintisan (start-up) teknologi. Tentu, ada kisah cinta dan drama keluarga dalam ceritanya.

Semisal, pada episode 10. Seo Dal-mi (Bae Suzy) akhirnya mengetahui kebenaran bahwa kekasih penanya bukanlah Nam Do-san (Nam Joo-hyuk), melainkan Han Ji-Pyeong (Kim Seon-ho). Akibatnya, kepercayaan Dal-mi runtuh seketika. Ia merasa bahwa segala hal dalam hidupnya, termasuk pencapaiannya, adalah penipuan dan kepalsuan semata.

Yang menjadi pertanyaan, kamu yang nonton serial ini pasti tahu, bukankah yang selama ini berbohong kepada Dal-mi adalah Ji-Pyeong dan Do-san? Lantas, mengapa malah Dal-mi yang merasa hidupnya palsu dan kepercayaan dirinya runtuh?

Apa yang dirasakan Dal-mi sebetulnya sangat sering terjadi dalam masyarakat patriarki. Fenomena ini disebut sindrom penyemu (impostor syndrome). Ini kondisi dimana seseorang memiliki pola psikologis yang meragukan kemampuan, bakat, atau pencapaiannya sendiri. Mereka terinternalisasi dengan rasa takut bahwa hidupnya penuh kebohongan dan kepalsuan.

Baca juga: It’s Okay jika Tak Punya Keluarga yang Okay

Impostor syndrome pertama kali diperkenalkan pada 1978 dalam sebuah jurnal penelitian milik Dr Pauline Rose Clance dan Dr Suzanne Ament Imes berjudul “The imposter phenomenon in high achieving women: Dynamics and therapeutic intervention”.

Clance dan Imes meneliti fenomena para perempuan yang merasakan pengalaman memiliki kepalsuan intelektual. Mereka menyelidiki pengalaman internal para perempuan dengan pencapaian besar dalam karier. Para subjek penelitian dipilih berdasarkan pengakuan atas kemampuan mereka oleh para kolega. Para perempuan ini juga telah membuktikan kecerdasannya dalam pencapaian akademis melalui perolehan gelar.

Ternyata, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun para perempuan ini memiliki validasi eksternal yang konsisten, mereka tetap tidak memiliki pengakuan internal atas pencapaian mereka. Para perempuan ini merasa bahwa kesuksesan mereka adalah hasil dari keberuntungan, dan orang-orang hanya melebih-lebihkan kecerdasan dan kemampuan mereka.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Sama seperti yang dirasakan Dal-mi, para perempuan tadi merasa bahwa segala hal yang mereka capai hanyalah kepalsuan, meskipun orang lain menganggap mereka hebat.

“Hmm.. semua yang ada di hidupku ternyata palsu,” kata Dal-mi ketika begadang karena anxiety dan overthinking.

Apakah kamu sering bertemu dengan sosok Dal-mi? Atau, Dal-mi adalah kamu sendiri? Dal-mi dan impostor syndrome merupakan gambaran bagaimana masyarakat patriarki bekerja.

Lalu, bagaimana impostor syndrome bisa terjadi?

Clance dan Imes percaya bahwa kerangka mental terkait sindrom ini berkembang dari berbagai faktor, antara lain stereotip gender, dinamika keluarga, budaya, dan ketimpangan akses. Para peneliti melihat bahwa orang yang mengalami impostor syndrome menunjukkan gejala yang berkaitan dengan depresi, kecemasan umum, dan kepercayaan diri yang rendah.

Meskipun dalam penelitian lanjutan ditemukan bahwa impostor syndrome tak hanya terjadi pada perempuan, tapi juga lelaki – kalau dalam drakor Start-Up tak hanya Dal-mi, tapi juga Do-san – Clance dan Imes tetap berhipotesa bahwa misoginisme dan seksisme adalah biang keladi impostor syndrome.

Baca juga: BPJS Kesehatan dan Sosok Misterius di Drakor Hospital Playlist

Mereka mengungkapkan bahwa fenomena ini memberikan dampak psikis yang lebih buruk bagi perempuan. Sebab, pendidikan tumbuh kembang yang seksis membiasakan laki-laki untuk mengeksternalisasi kegagalan mereka dan menginternalisasi segala kesuksesan. Sedangkan perempuan dibiasakan tumbuh sebaliknya.

Dalam masyarakat yang mulai memahami ketimpangan relasi kuasa dan interseksi keadilan, potensi impostor syndrome semakin menjadi-jadi. Sebagai contoh dalam alokasi pemberian beasiswa, yang sering kali memberikan kesempatan lebih besar pada perempuan. Dalam beberapa temuan, hal ini cenderung memberikan pengalaman internal bagi awardee perempuan bahwa mereka beruntung terlahir sebagai perempuan.

Atau, ketika perempuan mendapatkan cuti menstruasi, cuti melahirkan, maupun tambahan cuti lainnya. Sering kali perempuan merasa tidak nyaman dengan kolega laki-laki yang tidak memiliki akses serupa.

Fenomena perempuan dibuat merasa ‘tidak berhak’ atas segala akses yang ia dapat, dan menganggap itu semua adalah privilese, adalah bentuk internalisasi misoginisme terhadap pikiran perempuan. Padahal, sesungguhnya akses tersebut bukanlah privilese, melainkan kompensasi atas ketimpangan kuasa dan beban ketubuhan yang mereka alami selama ini.

Artikel populer: Jika Drakor Start-Up Diadaptasi Menjadi Sinetron Indonesia

Selain itu, impostor syndrome lebih mudah terjadi ketika seseorang melihat bahwa representasi dari dirinya lebih sedikit dibandingkan yang lain. Perempuan di tempat kerja lebih mudah merasakan impostor syndrome terkait minimnya akses perempuan di ruang publik. Hal itu jarang terjadi pada laki-laki, karena memiliki akses yang jauh lebih besar.

Seperti apa yang dirasakan Maureen Zappala, seorang insinyur yang pernah bekerja di NASA. Bertahun-tahun, ia menganggap bahwa pencapaiannya selama di NASA hanya karena Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat itu butuh pekerja perempuan.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa impostor syndrome adalah bagian dari pengkaburan peran perempuan dalam sejarah. Pengalaman Seo Dal-mi dalam drama seri Start-Up bukanlah fiksi, ada Maureen Zappala dan jutaan perempuan lain yang memiliki pengalaman nyata. Dibuat merasa tidak berhak atas kesuksesannya dan pencapaiannya dianggap sekadar keberuntungan.

Jika kamu mengalami impostor syndrome seperti Dal-mi, ingatlah, bahwa keberhasilanmu valid dan pantas kamu dapatkan!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini