Ilustrasi transportasi publik (Photo by Ketut Subiyanto from Pexels)

Dengan jumlah penambahan kasus positif Covid-19 yang masih mengkhawatirkan, Indonesia terang-terangan memulai new normal. Ini merupakan salah satu ikhtiar berdamai dengan virus corona. Cuma, seperti Pak JK bilang, kita nggak tahu virusnya mau diajak damai apa nggak?

New normal yang tampak menjadi tidak normal melihat begitu banyaknya orang yang berolahraga di sekitar Malioboro atau yang berwisata di berbagai pantai kondang negeri ini. Kondisinya semacam kita habis kena banjir yang ketika sudah surut, maka sudah bisa ke luar rumah dan beraktivitas seperti biasa. Padahal, ini virus coronanya kan masih eksis berkeliaran dan belum ada obat yang spesifik.

Kayaknya banyak yang lupa bahwa ini new normal, bukan baru normal.

Salah satu penanda new normal adalah mulai kembalinya aktivitas perkantoran alias work from office (WFO), setelah nyaris tiga bulan banyak yang work from home (WFH). Kembali bekerja di kantor, bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Akan tetapi, WFO pada kondisi new normal tentu akan sangat berbeda bagi para pejuang PJKA alias Pulang Jumat Kembali Ahad.

Baca juga: Kelas Pekerja Bukan Boneka

Kebetulan, banyak teman yang merupakan pejuang PJKA. Mereka kerja di Jakarta, sedangkan anak dan istri atau suami di kota lain. Mulai dari Bandung, Semarang, Banyumas, Surakarta, Yogyakarta, hingga Surabaya. Pada kondisi normal, mereka memenuhi kereta api ke arah Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur pada Jumat malam. Termasuk, orang-orang yang duduk di deretan bangku bus malam untuk arah yang sama.

Kemudian, pada Minggu malam, mereka setia menjadi penumpang jurusan Jakarta, baik dengan pesawat terbang, kereta api, hingga bus. Orang-orang ini nggak pandang jenis kelamin. Bapak-bapak ya banyak, ibu-ibu dan bahkan masih menyusui pun ada. Saya sendiri sempat beberapa waktu menjadi pejuang PJKA. Sesungguhnya, itu seru sekali kalau dalam jangka waktu pendek. Namun, dalam jangka waktu panjang, kok jadi boros sekali.

Apalagi, untuk para PNS yang proses mutasi ke homebase-nya tertahan oleh berbagai sebab, menjadi pejuang PJKA pada akhirnya menjadi bagian dari rutinitas. Sedangkan untuk para pekerja swasta, pada akhirnya sadar bahwa uang itu banyaknya ya di Jakarta.

Baca juga: Yang Luput dalam Ekonomi, Dampaknya ke Para Istri

Seorang teman, misalnya, sempat boyongan keluarga ke Yogyakarta meninggalkan pekerjaan di suatu agensi media terkemuka untuk bergabung dengan perusahaan sejenis di Yogyakarta. Eh, tidak sampai setahun, dia balik lagi kerja di Jakarta dan akhirnya menjadi pejuang PJKA.

Sebagian besar dari para pejuang PJKA – dengan beragam dinamika dan drama – berhasil tiba di rumah pada Maret lalu. Mereka sempat menikmati mimpi untuk sejenak menghabiskan seluruh harinya bersama keluarga tercinta di rumah, bukan berkutat di kantor-kos saja seperti hari-hari normal. Dengan berbagai pembatasan dan perintah untuk WFH, mereka bisa bertahan di kota dan rumah masing-masing.

Ya, sampai kemudian new normal muncul. Para pejuang PJKA mulai menyiapkan diri untuk kembali ke Jakarta dengan perkara yang tidaklah sederhana. Seorang teman pejuang PJKA sejati, karena setiap akhir pekan bolak-balik Jakarta-Yogyakarta, menulis di WhatsApp bahwa biaya perjalanan satu trip bisa sejuta sendiri. Biasanya, sejuta itu bisa untuk tiga atau empat trip.

Baca juga: Kehidupan Asmara dan Panduan Kencan di Era New Normal

Belum normalnya perjalanan baik pesawat, kereta api, hingga bus menjadi salah satu alasan. Akan tetapi, alasan utamanya tentu saja harus ada rapid test. Semurah-murahnya rapid test, satuannya masih ratusan ribu. Alias, setara satu kali ongkos perjalanan dengan kereta api kelas ekonomi. Belum lagi, perasaan takut kalau-kalau membawa virus untuk keluarga di rumah, serta keribetan mengurus surat-surat untuk setiap kali hendak melakukan perjalanan.

Artinya, ketika para pejuang PJKA bersiap balik ke Jakarta, mereka dihadapkan pada kondisi ‘entah kapan dan bagaimana lagi bisa pulang’. Mau bolak-balik dengan harus rapid test setiap kali trip tentu saja bikin uang habis. Padahal, jauh-jauh ke Jakarta kan cari uang, bukan buat menghabiskan uang.

Dan, kalau ketentuannya masih seperti zaman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tempo hari, ketika orang-orang yang baru datang dari zona merah harus dikarantina terlebih dahulu, maka itu pun bukan opsi. Lha, wong di rumah cuma Sabtu pagi sampai Minggu sore, kok.

Artikel populer: Seks & Virus Corona: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan

Pada akhirnya, new normal ini bukan sesuatu yang normal bagi para pencinta jarak tersebut. Itu berarti ada banyak perasaan rindu yang membuncah dan berkelindan di kota besar yang bahkan belum selesai dengan problematika Covid-19.

Alhasil, selain disesaki oleh orang-orang yang bebal pada aturan dan doyan cerita konspirasi, negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang merindu. Padahal, rindu itu berat. Jadi bukan hal sepele.

Lantas, apakah negara sudah menyiapkan jawaban atas kerinduan mereka pada pasangan dan anak-anaknya? Semoga saja sudah. Jika tidak, ini menjadi ‘bom waktu’. Ujung-ujungnya seperti tempo hari, rakyat dibuat berdebat soal perbedaan mudik dan pulang kampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini