Han So-hee sebagai Yoo Na-bi dan Song Kang sebagai Park Jae-eon dalam drama Nevertheless. (JTBC)

Drama Korea Nevertheless dibuka dengan adegan perempuan bernama Na-bi yang menjadi korban toxic relationship. Na-bi pernah dimarahi mantan kekasihnya hanya karena mengecat kukunya sendiri tanpa seizin pasangan. Masa ngecat kuku sendiri saja dipersekusi? Jangan-jangan Na-bi kalau mau bikin avatar dirinya di gim The Sims perlu approval pasangan. Ribet banget.

Na-bi bisa saja menangkis tindak penindasan itu dengan berujar, “My body, my choice.” Namun, dia ditampilkan sebagai sosok yang tak berdaya. Sedangkan pasangannya yang punya kuasa memanfaatkan itu untuk melancarkan serangan manipulatif.

Sang mantan pernah membuat sebuah patung perempuan beradegan erotis. Seni pahat itu diberi judul “Na-bi”. Ternyata, Na-bi dijadikan objek kreatif. Boro-boro merasa diapresiasi karena menjadi inspirasi pasangannya berkarya, Na-bi justru merasa dilecehkan. Ditambah, sang cowok durjana itu tidak minta izin kepadanya dulu.

Ketika Na-bi protes mengapa tak minta izinnya, pasangannya membalikkan serangan dengan mengatakan Na-bi tidak menghargai seni. Karya itu diklaim sebagai tanda cinta untuk Na-bi.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Hal tersebut malah seperti revenge porn. Sebelumnya Na-bi pernah membuatnya marah ketika mengecat kuku tanpa seizinnya. Lalu, dibalas dengan memahat statue menyerupai Na-bi tanpa izin dan dinamakan “Na-bi” pula. Patungnya dipamerkan di galeri seni dan dilihat banyak orang.

Namun, semua tindak kekerasan dalam relasi kuasa itu terkesan dimaklumi oleh Na-bi. Padahal, bendera merah sudah berkibar sejak dahulu kala. Na-bi baru bisa lepas dari cowok penindas itu ketika memergokinya bercumbu dengan perempuan lain di studio seninya.

Mungkin cerita di atas adalah gambaran kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak dari kita yang seakan memaklumi kekerasan yang dilakukan oleh pasangan, selama itu bukan perselingkuhan.

Selingkuh dijadikan batas ‘toleransi’ dalam hubungan asmara. Belakangan, malah jadi tontonan warganet ketika viral video seorang istri menyibak perselingkuhan suaminya.

Padahal, kita bisa menyudahi sebuah hubungan yang berisi kekerasan. Tak mengapa membiarkan ‘kapal karam’ untuk menyelamatkan diri sendiri yang berharga bagi orang yang benar-benar menyayangi kita.

Baca juga: Story of Kale dan Kunci untuk Keluar dari Hubungan Abusif

Jangan malu pulang ke rumah orang tua ketika pasangan mulai menyiksa fisik dan mental. Daripada ditahan sendiri dalam waktu lama, bisa-bisa pulang tinggal nama. Ujungnya, keluarga juga yang berduka.

Na-bi yang telah merdeka dari penjajahan gaya baru sang mantan, masih harus diuji dengan kehadiran gebetan yang tak kalah mencurigakan. Adalah Park Jae-eon, cowok manis yang datang saat kondisi hati Na-bi masih rapuh.

Jae-eon memberikan perhatian khusus dan perlakuan halus kepada Na-bi. Na-bi yang sebelumnya dijahati oleh mantannya setiap hari, begitu kenal cowok yang sedikit baik, langsung merasa bahwa orang ini sangat baik padanya. Kondisi ini semacam gegar budaya dalam ranah asmara.

Singkatnya, hubungan antara Na-bi dan Jae-eon seperti interaksi Awan dan Kale di film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Na-bi menyukai Jae-eon sama seperti Awan naksir berat dengan Kale. Namun, ketika Na-bi bertanya, “Kita ini apa sih?” Jae-eon kira-kira memberikan respons yang sama dengan Kale, yaitu ingin hubungan yang intim tanpa komitmen yang jelas.

Baca juga: Indonesia Tanpa Pacaran Wajib Nonton Film (500) Days of Summer

Jae-eon digambarkan punya tato kupu-kupu di lehernya. Sepintas tampak seperti logo band Slank. Nah, Na-bi menganggap kebetulan itu sebagai sebuah pertanda, konspirasi semesta, mestakung, semesta mendukung. Sebab nama Na-bi sendiri berarti kupu-kupu. Jangan-jangan jodoh nih ye.

Seandainya Jae-eon adalah seorang mahasiswa seni yang tidak suka ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), mungkin makna tato itu bukan simbol pemain cinta. Melainkan bermakna kupu-kupu yang kepanjangannya kuliah-pulang kuliah-pulang.

Jae-eon pernah mengajak Na-bi untuk melihat ‘kupu-kupu’ di rumahnya. Di episode awal, Na-bi masih bisa menolaknya. Namun, di episode berikutnya, pertahanan Na-bi akhirnya luruh dan resmi terjerat dalam hubungan seksual tanpa konsensual.

Mungkin ceritanya bakalan berbeda jika Jae-eon adalah seorang penggemar budaya populer Jepang. Ketika mengajak Na-bi ke tempat tinggalnya untuk melihat ‘kupu-kupu’, Jae-eon bakalan buka gim Pokemon GO seraya berujar, “Ayo, kita tangkap Butterfree (Pokemon tipe bug berwujud kupu-kupu).”

Artikel populer: Memangnya Bisa Ya Jatuh Cinta Tanpa Alasan?

Bisa dibilang kupu-kupu adalah spirit animal Jae-eon. Kalau di dunia sihir Harry Potter, Jae-eon bisa jadi memilih patronus bentuk kupu-kupu untuk mengusir dementor. Sekaligus menjadi guna-guna untuk memikat hati para gadis di Hogwarts.

Dalam dunia asmara, perilaku Jae-eon memang seperti kupu-kupu yang hinggap di banyak bunga. Dengan kata lain, selain mendekati Na-bi, Jae-eon juga menyasar gadis lain. Na-bi semula tidak menyadari. Atau, sudah sadar tapi masih ignorant.

Bisa juga Na-bi memilih untuk bertahan dalam hubungan tanpa status bersama Jae-eon. Berharap kelak sang pujaan hati berubah pikiran dan memilihnya sebagai yang satu-satunya.

Yang pasti, dalam kehidupan nyata, kita masih punya pilihan untuk menemukan pasangan setia dan menjalani hubungan yang setara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini