Diminta Beberes setelah Makan di Restoran Cepat Saji, kok Malah Ngegas?

Diminta Beberes setelah Makan di Restoran Cepat Saji, kok Malah Ngegas?

Ilustrasi (Sharonang via Pixabay)

Kamu sering makan di restoran cepat saji? Makan menu favorit atau sekadar minum supaya bisa pakai Wi-Fi gratis, eh? Ada baiknya membaca artikel ini sampai tuntas.

Beberapa waktu lalu, KFC yang merupakan salah satu restoran ayam goreng cepat saji terbesar di Indonesia, mengeluarkan imbauan agar pelanggannya membereskan sendiri nampan bekas pakai mereka.

“Kebiasaan yang baik itu harus dimulai dari yang paling kecil. Kita mulai sekarang, kita mulai dari diri sendiri! Seperti yang kalian ketahui, kalo kebersihan itu sebagian dari iman. Ayo, mulai bersihkan nampan makan-mu sehabis makan! Kalo enggak sekarang, kapan lagi?”

Namun, rupanya imbauan beberes setelah makan itu memicu kontroversi. Ada yang protes, marah-marah, ada pula yang mendukung. Lagipula apa sih yang nggak pro dan kontra di republik ini? Tul nggak?

Nah, artikel ini akan menggali lebih dalam soal imbauan tersebut, dan kenapa sih netizen banyak yang ngegas?

Jadi, bila kamu makan di restoran, selain harga yang harus dibayarkan untuk makanan dan minuman, seringkali ada biaya tambahan untuk pajak dan pelayanan (tax and service). Sebagian besar restoran mencantumkan harga sebelum pajak dan pelayanan.

Pada restoran cepat saji, seperti KFC, umumnya tercantum pajak restoran, tapi tidak biaya servis. Itu artinya, kamu diharapkan melayani diri sendiri. Apa?! Melayani diri sendiri? Terus apa kerjaan mereka?

Baca juga: Benarkah Ngeteh Nggak Sekeren Ngopi?

Begini. Konsep dasar restoran cepat saji adalah cepat dan otomatis. Pelanggan langsung datang ke konter (tanpa disambut), memilih menu, lalu (idealnya) makanan sudah dapat dibawa ke meja dan disantap.

Dalam restoran cepat saji, umumnya terdapat utensils return area. Sebab, konsep asli dari restoran cepat saji adalah kita meletakkan kembali semua peralatan makan kita dan sampah sisa makanan ke area tersebut.

Lalu, pegawai akan membersihkan meja bekas kita yang sudah berada dalam keadaan kosong sampai kinclong untuk dipakai pelanggan berikutnya. Pegawai juga menjaga kebersihan area di sekitar tempat makan supaya tetap nyaman.

Tentu, jumlah pegawai yang dibutuhkan pada setiap shift diperhitungkan. Tidak membereskan meja sendiri berarti menambah beban pegawai restoran cepat saji. Pegawai biasa, seperti aku dan kamu.

Lalu, netizen kembali bertanya, kalau jumlah pegawai adalah masalahnya, ya simpel, tambah jumlah pegawai, dong! Oh… Tidak semudah itu, Ferguso…

Menambah jumlah pegawai untuk melayani pelanggan, berarti menambah jumlah personel. Kemudian, itu bisa saja menambah biaya yang dibebankan ke pelanggan dalam ‘biaya servis’ yang tidak ditagih oleh restoran cepat saji.

Jika kamu ditagih biaya servis, alurnya akan begini: Kamu datang ke restoran, disambut, diantar ke meja, kemudian memilih santapan (kadang ditemani welcome drink). Makanan dan minuman akan diantar ke meja. Bila membutuhkan bantuan seperti minta condiments (saus, mayones, dan lain-lain), kamu bisa memanggil waiters. Selesai bersantap, piring-piring yang bekas kamu pakai akan dibereskan.

Beda banget dengan restoran cepat saji, di mana kamu harus datang sendiri ke konter atau ke condiments station (tempat saus tomat dan sambal).

Baca juga: Uang Rp 50 Ribu, Apa Nggak Nikmat, coba?

Tapi, kalau makan di restoran yang menagih biaya servis, sudah jelas kamu berhak minta dilayani secara menyeluruh, karena kamu membayar untuk itu. Meski demikian, tetap ada etikanya.

Pertama, dan paling penting, sadari bahwa pelayan adalah pegawai yang sederajat dengan kamu. Apapun pekerjaan kamu, tetap saja pada prinsipnya melayani. Kamu guru, kamu melayani murid. Kamu jualan furnitur, kamu melayani pembeli.

Hanya karena pelayan restoran melayani kamu ketika bersantap, tidak berarti pekerjaan tersebut rendah. Jangan berasumsi bahwa mereka ‘bodoh dan berakhir sebagai pelayan’ yang seringkali menyebabkan kamu mengubah nada suara ketika berbicara dengan mereka. Ngomongnya biasa aja, jangan lupa pakai senyum ya. Itu etika pertama.

Kedua, pelayan bukan pesuruh. Bila ada hal-hal yang bisa kamu lakukan sendiri, seperti membagi sup dalam bowl besar kepada seluruh tamu yang hadir, tidak perlu selalu memanggil pelayan. Pilih-pilihlah bantuan yang kamu minta kepada mereka.

Ketiga, bila ada kesalahan, tidak perlu membentak. Apalagi, bila kesalahannya dari dapur, yang belum tentu kesalahan pelayan. Mereka berperan sebagai penyampai pesan dari meja ke dapur. Bila makanan di atas ekspektasi, chef selalu dapat pujian. Tapi kalau di bawah ekspektasi, pelayan yang kena. Ini keliru.

Keempat, bereskan peralatan makan kamu dan letakkan di sudut meja setelah setiap fase. Sebagian pasti kaget. Lho, katanya dilayani? Pahami lagi gaes…

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Seringkali makan di restoran terbagi dalam beberapa fase, yaitu appetizer/entrée (pembuka), main course (utama), lalu dessert. Setelah setiap fase, bereskan sendiri peralatan kamu dan letakkan di sampingmu.

Di restoran yang baik, pelayan akan tahu bahwa itu adalah sinyal bahwa fase tersebut berakhir dan berlanjut ke fase berikutnya. Lagipula, itu akan membuat kamu lebih nyaman.

Seringkali obrolan terganggu dengan pelayan yang berusaha mengambil piring di depanmu sambil bertanya, “Permisi, ini sudah selesai?” Kebiasaan ini belum mengakar di Indonesia.

Kelima, tinggalkan tip yang pantas, apalagi bila kamu dilayani tetapi tidak ada service charge. Sesuaikan dengan aturan restoran tersebut. Beberapa restoran memiliki kebijakan untuk meninggalkan tip di meja kasir supaya kru yang di belakang layer (termasuk chef) mendapatkan tip juga.

Lantas, mengapa banyak netizen yang ngegas ketika menanggapi imbauan atau permintaan restoran cepat saji, semisal KFC, perihal beberes setelah makan?

Sebetulnya masalahnya sederhana, tapi rada pelik. Intinya adalah budaya dilayani yang menjadi peninggalan masa kolonial. Seperti yang kita pelajari di bangku sekolah, pada masa kolonial, masyarakat dibagi dalam beberapa tingkat.

Tingkat atas dilayani tingkat bawah. Pribumi kala itu ditempatkan melayani kelas pertama (kaukasian/kulit putih/bule) dan kelas kedua (pedagang dari Tiongkok, India, Timur Tengah).

Artikel populer: Ngaku Penggemar Bu Susi, tapi Disuruh Makan Ikan saja Susah

Pengalaman buruk ini mengakar kuat dalam benak masyarakat kita, sehingga melihat bahwa jenis pekerjaan yang melayani itu rendahan, sedangkan dilayani akan menempatkan kita dalam dalam position of power.

Dalam sinetron-sinetron di Tanah Air juga terlihat begitu dikontraskan antara ‘orang kaya’ dan ‘orang miskin’, dengan perbedaan utama adalah ‘memiliki pembantu rumah tangga’. Adegan yang seringkali muncul adalah berkumpul di meja makan dan mengobrol untuk menggali alur cerita sambil dilayani di meja makan.

Tentu saja dengan pemikiran bawah sadar semacam itu, bila makan di restoran, masyarakat kita otomatis ingin segala-galanya dilayani, sebab merasa berada dalam position of power (membayar makanan). Itu mengapa terasa kontras dengan semangat imbauan beberes sendiri setelah makan di restoran cepat saji.

Dasar dari masalah utamanya adalah merasa pekerjaan-pekerjaan seperti membereskan meja adalah pekerjaan rendah. Masalah lainnya adalah banyak orang yang tidak bisa membedakan urusan makan di restoran klasik dan cepat saji.

Etika makan di restoran klasik (yang dilayani) sengaja saya sampaikan untuk menunjukkan bahwa sampai batas tertentu, kita pun diharapkan membereskan peralatan makan sendiri. Bedanya adalah kita tidak perlu meninggalkan meja.

Etika berestoran tadi sudah umum di negara-negara maju yang masyarakatnya sudah bebas dari perasaan ‘rendah’ ketika mengerjakan pekerjaan domestik (mengepel lantai, cuci piring, dan lain-lain), yang menjadi inti permasalahan di sini.

Butuh satu generasi lagi agar hal ini bisa terjadi di Indonesia. Kamu-kamu yang mengaku generasi Y dan Z, bersiaplah!

1 COMMENT

  1. Tulisan nya menarik mas. Sedikit cerita kemarin saya makan di salah satu restoran cepat saji dan pas saya sudah selesai makan terus beresin makanaan malah saya nya dimarahin sama temen. Dibilang saya caper padahal mah gak ada niat niatnya caper. Terkadang disitu saya merasa sedih 🙁

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.