Ilustrasi kerja sambil berlibur. (Photo by Peggy Anke on Unsplash)

Seorang turis di Bali sempat ramai diperbincangkan. Pasalnya, ia mempromosikan betapa terjangkaunya biaya hidup di Bali dibandingkan penghasilannya sebagai digital nomad. Kemudian, mengajak turis-turis lain berkunjung atau menetap di Pulau Dewata tersebut.

Dalam waktu relatif singkat, orang-orang menghunjamkan kekesalannya di Twitter. Sebagian mempersoalkan fenomena gentrifikasi, sementara yang lain menggugat pilihannya yang datang dengan visa wisata, alih-alih visa kerja.

Menjadi digital nomad atau bisa diartikan sebagai perantau digital memang problematis. Mau dibilang kerja, ya sambil berlibur. Mau dibilang liburan, ya menghasilkan cuan. Apalagi, Indonesia belum memiliki visa untuk kunjungan jenis ini, sehingga aktivitas mereka terkesan ilegal. Berbeda dengan negara-negara lain yang telah resmi menetapkan dan mengakomodasi keberadaan mereka, semisal Kroasia atau Republik Ceko.

Kendati begitu, sebetulnya ada upaya agar pemerintah segera meresmikan visa jenis ini. Salah satunya dengan menginisiasi petisi berjudul “Indonesian Government: Create a Remote Worker Visa To Boost Digital & Creative Economy”, yang saat tulisan ini dibuat telah ditandatangani oleh hampir 3.000 orang.

Baca juga: Tren Menjadi Perantau Digital dan Alasannya kalau Ditanya Macam-macam

Di luar urusan njelimet itu, yang tak kalah menarik adalah bagaimana pola kerja digital nomad begitu digandrungi dan didambakan oleh banyak anak muda belakangan ini. Ia seolah-olah menjadi oposisi biner dari cara kerja yang identik dengan kantor yang pengap, bos yang menjemukan, aturan yang mencekik leher, dan formalitas yang tak perlu.

Saya teringat pada sebuah kutipan yang sering dijadikan caption di Instagram: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Kita tahu kutipan itu berasal dari buku Seno Gumira Ajidarma, Kentut Kosmopolitan (2008), tepatnya dalam tulisan bertajuk “Menjadi Tua di Jakarta”. Saya membayangkan seandainya Seno, dengan sedikit kenakalan untuk menyindir perilaku turis di atas, memodifikasi paragraf tersebut menjadi:

“Alangkah menyenangkannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi feed Instagram estetik, kebebasan memilih workspace di kafe-kafe yang nyaman, berkunjung ke destinasi wisata di negara-negara berkembang, yang berakhir dengan uang pensiun melimpah karena berhasil menggocek petugas imigrasi.”

Baca juga: Ekspatriat juga Imigran, Biasa Aja Keleus…

Meski begitu, fenomena digital nomad adalah keniscayaan. Kita tak bisa sepenuhnya menghakimi gaya hidup begitu, sejauh ia taat aturan dan tak merugikan pihak lain – lebih-lebih warga lokal di tempatnya menetap. Semakin pesatnya perkembangan digital ditambah arus mobilitas yang tak terbendung adalah penyebab mengapa mereka ada.

Mereka berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk berlibur, tetapi tetap bekerja jarak jauh dengan memaksimalkan kanal daring. Kuat dugaan, tren ini akan kian melesat di Indonesia pasca pandemi, sebab perlahan-lahan kita mulai terbiasa dengan work from home.

Sekilas, cara kerja begitu memang asyik dan membahagiakan. Tak ayal banyak anak muda yang ngebet untuk menirunya. Namun, apakah yakin kalian mau menghabiskan sisa usia menjadi seorang digital nomad?

Untuk menjawab pertanyaan itu dan sekaligus mencari pertimbangan rasional, agaknya kita perlu membaca kesaksian dari Mark Manson. Penulis yang beberapa tahun belakangan bukunya sering menghiasi rak best seller di Indonesia itu pernah menulis pengalamannya sebagai digital nomad untuk CNN melalui tulisan bertajuk “No office, no boss, no boundaries – rise of the nomadic rich”.

Baca juga: Menjawab Keluhan Orang Asing tentang Bahasa Indonesia

Tulisan itu, oleh CNN, telah dipangkas sedemikian rupa karena dianggap terlalu suram, beruntunglah Mark Manson mempublikasikan seluruh tulisan versi orisinal di situs pribadinya dengan judul “The Dark Side of the Digital Nomad”.

Kita akan menemukan banyak hal menarik terkait gaya hidup kelompok ini. Bahwa selalu – dan sepertinya akan terus begitu – negara di Asia Tenggara yang menjadi titik awal bagi para pemula, karena biaya hidup rendah dan kualitas hidup yang tinggi. Chiang Mai dan Bangkok di Thailand, Ho Chi Minh City alias Saigon di Vietnam, Bali di Indonesia, Cebu di Filipina, akan selalu menjadi garis start yang menyenangkan.

Mereka berkeliling dunia merasakan nikmatnya pagi hari ngopi cantik di Curug Parigi, Bekasi, sambil main TikTok. Dan, tanpa pertimbangan panjang, mereka bisa langsung berangkat mengunjungi indahnya patung-patung monolitis, Moai, di Chile.

Tak ada rutinitas desak-desakan mengantre jatah duduk di KRL Rangkasbitung-Tanah Abang. Tak ada bos yang marah-marah dan siap memecatmu hanya karena kelalaian tak disengaja. Inilah kebebasan sesungguhnya, sobat.

Artikel populer: Terheran-heran dengan Bintang Hollywood yang Ngomong Bahasa Indonesia

Tapi, kata Mark Manson, “Harga kebebasan yang luar biasa sering kali adalah keterasingan saya.” Tentu saja, mereka bertemu dengan banyak orang, tapi tak memiliki ikatan emosional yang memadai. Batas antara ‘kawan’ dan ‘mitra bisnis’ selalu lebih tipis ketimbang mendoan.

Sila bayangkan jika itu terjadi secara berulang-ulang, terus-menerus, dalam hidup kita yang fana ini.

Semisal, karena nasib sial tertentu jasadmu mengambang di Pantai Sawarna, sudah barang tentu tak akan ada sanak-famili yang bisa diwawancarai oleh media ngehek dengan pertanyaan template, “Apakah ada firasat sebelumnya?”

Karena Anda adalah orang asing di negeri jauh, tak ada yang betul-betul peduli.

Tulisan bernuansa muram itu ditutup dengan kalimat sendu: “Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun perjalanan nonstop, saya diam-diam menginginkan sebuah rumah.”

Setelah dipikir-pikir, memang kita akan selalu butuh pemberhentian, kita selalu butuh jeda, dan sebaik-baiknya jeda adalah berbaring di pelukanmu, Dik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini