Didi Kempot (Instagram @didikempot_official/Kobar Nendrodewo)

Sebuah berita yang sangat mengagetkan bahwa pada 5 Mei 2020, Didi Kempot meninggal dunia. Belum sampai sebulan lalu, beliau mengadakan konser amal secara online untuk penanganan pandemi Covid-19.

Mas Didi sebetulnya baru mulai naik lagi ke permukaan industri musik tanah air. Karya-karya lamanya yang tidak terlalu banyak rearansemen seketika meledak di kalangan pendengar muda atau pasar milenial. Ini menandakan kebangkitan dari kesadaran kultural kalangan muda.

Saya bahkan tidak menyangka musiknya bisa dipentaskan di dalam kampus. Musik populer Nusantara pada hari ini semakin diterima semua kalangan, tidak lagi dianggap musik tua, rendahan, dan kampungan.

Baca juga: Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Musik campursari yang diusung oleh Didi Kempot merupakan musik populer khas Nusantara yang pada dasarnya menggabungkan instrumen, gaya komposisi, tangga nada dari musik populer Barat dengan musik-musik yang berkembang di Nusantara, seperti keroncong.

Menurut catatan jurnal, campursari lahir sekitar tahun 1953-an oleh RM Samsi yang tergabung dalam kelompok Campursari RRI Semarang – sebagai perpaduan antara karawitan Jawa (gamelan) dengan keroncong, yang pada dirinya sendiri memang memiliki pengaruh dari Barat. Namun, gerakan ini hanya berkembang pada skala lokal sampai pada tahun 1970-an. Baru ketika memasuki tahun 90-an, oleh Manthous, campursari diangkat sampai ke skala nasional.

Manthous berharap campursari dapat menjadi bentuk baru agar generasi muda dapat menikmati musik Jawa dengan bentuk yang berbeda. Beberapa karya Manthous yang terkenal antara lain Gethuk yang dipopulerkan oleh Nur Afni Octavia dan Kangen yang dipopulerkan oleh Evie Tamala.

Baca juga: Orkestra itu Merakyat, yang Mewah-mewah Hanya Tafsirannya

Dalam perkembangannya, Didi Kempot turut menambahkan unsur lain seperti gaya orkes melayu, yang sekarang dikenal sebagai dangdut. Terlihat dari instrumen tabla yang menjadi fondasi dari ritmik orkes melayu, sehingga spektrum dari campursari menjadi lebih luas. Penambahan unsur-unsur ini juga sejalan dengan mulai merebaknya gaya orkes melayu yang mulai menjamur, terutama di Pulau Jawa. Hal ini membuktikan bahwa Didi Kempot menjadi lebih cair dalam berkarya.

Didi Kempot bernama asli Dionisius Prasetyo, mengingatkan saya pada teori estetika Nietzsche tentang seni Apollo dan Dionisius. Tidak bermaksud cocoklogi, namun karya yang di-endorse Didi Kempot memang selaras dengan apa yang disebut Nietzsche sebagai seni dionisian, yaitu perayaan pada sebuah tragedi.

Walaupun liriknya sangat tragis, kita diajak untuk membuat perayaan terhadap tragedi lewat berjoget. Tradisi menari dari orkes melayu berasal dari masyarakat melayu yang terbiasa menginjak-injak padi, agar kulitnya terkelupas, diiringi musik sambil menari sebagai media pelipur lara.

Baca juga: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Diambil dari nama Dionysus atau Bacchus yang merupakan Dewa Anggur, hidup yang penuh penderitaan ini seharusnya dirayakan dengan semangat festive. Melalui kritiknya terhadap komponis Wagner dalam esai “Nietzsche contra Wagner”, musik walaupun mengisahkan tragedi, dia harus membawa kita pada situasi yang tetap cheerful.

Bangsa lain bisa membangun industri budayanya sendiri dengan mengembangkan materi-materi warisan yang mereka miliki, misalnya Jepang dengan kultur anime dan J-Rock, Korea dengan K-Pop dan Drakor, India dengan Bollywood. Kenapa Indonesia tidak mampu?

Banyak orang yang salah kaprah ketika Soekarno bicara tentang musik ‘ngak ngik ngok’. Dia tidak anti Barat dan anti musik cengeng, tapi dia melihat musik sebagai produk kultural yang mulai diindustrialisasi dan pemain besar industri ini ada di Amerika. Itulah mengapa para Soekarnois, seperti mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin, sadar akan peranan kebudayaan dalam kemajuan bangsa – turut membangun Taman Ismail Marzuki sebagai benteng kebudayaan.

Artikel populer: Ternyata Lagu Peradaban .Feast Lebih Keras dari Musik Metal?

Hal itu pula yang mendorong Soekarno mendirikan Lokananta, sebuah dapur rekaman pertama yang dimiliki Indonesia pada tahun 1956. Lokananta menyimpan puluhan ribu rekaman musik dari seluruh penjuru tanah air, dari gamelan sampai keroncong.

Satu kutipan yang saya ingat dari sebuah diskusi dengan Alm. Jockie Surjoprajogo, keyboardist God Bless, sekitar 8 tahun yang lalu bahwa Indonesia seharusnya jangan hanya jadi konsumen budaya pop, tapi menjadi produsen karena pasar di sini sangat besar dan potensial. Mari kita dorong campursari, keroncong, orkes melayu, gambang kromong, dan sebagainya untuk mendunia. Kenapa tidak?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini