Ilustrasi pengguna internet. (Photo by Fikran Jabbart on Unsplash)

“Karena, dulu belum berani memberikan usulan kepada pimpinan untuk menjadi seperti sekarang ini,” jawab admin media sosial salah satu partai politik, ketika seorang warganet bertanya mengapa tingkah lucunya baru muncul sekarang, padahal yang bersangkutan telah menjadi admin sejak tahun 2013.

Hmmm… pertanyaan itu juga hadir di benak saya. Pasalnya, muncul tren baru dimana akun-akun resmi partai politik mulai memperbarui pola komunikasi mereka. Belakangan juga ditiru oleh beberapa akun resmi lembaga negara.

Dari yang semula kaku dan cenderung diplomatis, menjadi lebih lentur dengan penggunaan bahasa prokem selingkung internet, seperti “Gan”, “Aheey~”, dan sebagainya. Yang pada mulanya hanya bertugas sebagai pewarta ritual kepartaian, menjadi lebih leluasa menanggapi isu-isu mutakhir yang sama sekali tak memiliki sangkut paut dengan urusan partai. Bahkan hingga titik tertentu, bebas berbalas komentar dengan warganet.

Tren tersebut, toh, pada kenyataannya menghadirkan banyak keuntungan. Baik berguna dalam hal mencitrakan identitas partai sebagai representasi dari konstituen muda, maupun untuk menelaah aspirasi kalangan muda yang selama ini belum terakomodasi sepenuhnya oleh partai politik.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Bude Sumiyati, Selebtwit Level Bidadari

Tapi, pertanyaan awal tadi sama sekali belum terjawab. Bukankah sejak 2003-2006, ketika pertama kali media sosial meledak di Indonesia – ditandai dengan besarnya angka pengunduhan dan lalu lintas aktivitas di Friendster, Myspace, dan Facebook – para penggunanya memang didominasi oleh kelompok muda?

Dan, bukankah sejak awal watak dari media sosial adalah interaktif, yakni kesinambungan dialog antar sesama pengguna – baik komunikasi langsung maupun ketersediaan konten?

Kocak bukan berarti nggak serius, lho

Sulit tak teringat pada akun parodi politik Nurhadi-Aldo yang sempat populer dua tahun lalu. Dua tokoh Capres-Cawapres fiktif ini tak hanya menjadi oase di tengah terbelahnya masyarakat menjadi dua kubu kala itu, tetapi juga kenyataan teruk yang menampar para petarung di medan pemilihan umum.

Di masa-masa gemilangnya, jumlah pengikut Nurhadi-Aldo yang melonjak di beberapa platform media sosial bahkan melampaui beberapa akun resmi yang dikelola secara serius oleh partai. Padahal, konten akun Nurhadi-Aldo hanya berkisar pada meme, shitpost, kutipan-kutipan nyeleneh, juga jargon-jargon nakal khas anak muda. Misalnya, Nurhadi-Aldo disingkat Dildo atau plesetan NKRI menjadi Negara Kesatuan Republik Internet.

Baca juga: Jika Elite Politik Jadi Peserta MasterChef Indonesia

Ketakutan akan terkesan ‘tak serius’ adalah sesuatu yang berlebihan. Sebab guyonan hanya alat, bukan tujuan. Sisipan pesan bisa disampaikan dengan cara apa pun. Di sisi lain, partai politik juga tetap bisa menyasar konstituen Generasi Boomer dengan cara-cara konvensional yang selama ini diterapkan.

Nurhadi-Aldo adalah bukti bahwa distribusi wacana politik di internet bisa terjadi secara organik, tanpa perlu bantuan akun-akun bot untuk menaikkan tagar guna menduduki kursi puncak dalam daftar trending topic. Kuncinya adalah kreativitas dalam pengemasan konten dan konsistensi membangun citra. Hal semacam ini yang sampai sekarang belum dipraktikkan secara menyeluruh oleh partai politik di Indonesia.

Interaksi yang terjalin secara hibrid mungkin berguna dalam beberapa kasus, terutama dalam perkara yang insidental – meski praktik ini sering ditampik oleh para politikus. Tapi yang tampak hanya kemeriahan semu. Sebab, pengguna media sosial – bahkan tanpa bantuan tools sekalipun – bisa mengidentifikasi sirkulasi isu yang diramaikan oleh akun-akun semacam itu.

Pemanfaatan interaksi secara organik antara admin dan audiens akan menumbuhkan afinitas yang kuat. Ini menjadi salah satu kunci penting pengelolaan akun media sosial. Sederhananya, siapa yang tak akan terkesan bisa berbincang langsung dengan akun partai politik, yang memiliki tanda centang biru sebagai bukti verifikasi?

Baca juga: Strategi Agar Tidak Terkecoh Gimik Influencer

Berebut suara muda secara total

Pekerjaan rumah untuk merebut suara pemilih muda tak akan beres hanya dengan mencalonkan kandidat yang kebetulan (berusia) muda atau melakukan regenerasi kader. Kampanye virtual adalah jalan mutlak yang harus ditempuh, bahkan secara total.

Suara muda yang dimaksud adalah kelompok pemilih pemula, yakni mereka yang pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam gelaran ‘pesta demokrasi’. Maka, elemen ini merujuk pada Generasi Z, yaitu mereka yang lahir pada periode 1997-2013 dalam klasifikasi Pew Research Center. Atau secara lebih longgar, kelompok manusia yang lahir setelah maraknya internet. Dalam survei terbaru BPS (September 2020), keberadaan kelompok ini menjadi yang terbesar di Indonesia dengan jumlah populasi 27,94%, disusul oleh Generasi Milenial sebanyak 25,67%.

Saya sendiri masuk dalam kelompok ini dan telah mendapatkan jatah hak pilih pada pemilu dan pilpres lalu. Teman-teman sebaya saya banyak yang memilih golput. Beberapa karena alasan ideologis, sementara yang lain karena merasa tak tersentuh oleh kampanye partai dan kandidat.

Artikel populer: Indonesia Tanpa Youtuber, Apakah akan Baik-baik Saja?

Satu partai tak hanya berhadap-hadapan dengan partai lain untuk berebut suara pemula. Lebih jauh lagi, menanamkan preferensi politik elektoral. Hampir keliru jika dikatakan generasi kami adalah generasi apolitis. Kami, yang besar dengan terbukanya corong informasi, memiliki minat pada kebijakan-kebijakan politik yang berhubungan dengan, misalnya, etika lingkungan, kebebasan berpendapat – terutama di internet, hak asasi manusia, dan sebagainya. Tapi, melibatkan diri dalam pemilihan umum adalah urusan lain.

Di sinilah peran admin media sosial menjadi sangat penting, terutama untuk memperkenalkan tradisi pemilihan umum dan praktik politik elektoral lainnya, dengan kemasan yang lebih ‘muda’ dan ‘segar’. Ceruk terbuka lebar dan masih belum banyak pesaing yang ambil bagian.

Dengan adanya fenomena admin-admin partai berperangai kocak, yang piawai mengerek atensi warganet, bukan tidak mungkin beberapa tahun menjelang akan mudah kita temukan pengumuman-pengumuman di situs pencari kerja: “Dicari, Admin Media Sosial Edgy untuk Partai Kami!”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini