Ilustrasi (Victor/Pexels)

Masa penuh kecemasan, kekhawatiran, dan ketidakpastian seperti saat ini adalah masa ketika kita membutuhkan berita baik, lebih dari sebelum-sebelumnya.

Saya punya satu berita baik, mungkin dua. Ayah dari seorang teman tertular virus Corona dari tetangganya yang baru saja pulang liburan. Ayah teman saya itu berusia 60 tahun, tinggal sendirian di Swiss. Dia mengalami demam tinggi hingga 40 derajat Celsius. Tenggorokannya kering dan gatal sampai tak bisa bicara, batuk parah, lemas sampai tidak bisa beraktivitas, dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Sedihnya, sistem kesehatan di negaranya tak membiarkan dia untuk dirawat di rumah sakit, karena dianggap belum darurat.

Baca juga: Manfaat dan Efek Buruk Klorokuin, Obat yang Disiapkan Jokowi untuk Penderita Corona

Seminggu lamanya, dia hanya bisa berbaring sambil diurus tetangga yang sudah sakit dan pulih terlebih dahulu. Lepas seminggu, dia pun membaik. Dan, sekarang dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Cerita yang mirip beredar di media sosial, belum lama ini. Seorang nenek berusia 95 tahun sembuh dari Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus Corona ini.

Jadi, tentu masih ada harapan.

Namun, seperti yang sudah didengungkan di mana-mana, tentu kita harus tetap waspada. Menjadi waspada bukan berarti memborong ratusan masker, hand sanitizer, dan mie instan. Menjadi waspada yang dianjurkan adalah dengan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah.

Baca juga: ‘Panic Buying’ Hanya Mereka yang Berduit, Sobat Misqueen Bisa Apa?

Banyak perusahaan patuh pada saran ini, kemudian diikuti oleh berbagai gambaran working from home atau WFH di media sosial. Heroisme WFH dan di rumah aja pun bertambah-tambah setelah viralnya video dari Italia yang menunjukkan para walikota (kemudian diikuti beberapa pejabat lokal) yang marah-marah karena masih ada warga yang enggan diam di rumah.

Sayangnya, heroisme di rumah aja ini tidak melulu cocok diterapkan di negara-negara, seperti Indonesia dan Kamboja, yang sebagian penduduknya bisa mati kelaparan sebelum mati karena Covid-19. Maka, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah harus pula didukung dengan insentif untuk tinggal di rumah.

Tentu, kita sudah dengar pekerja yang diminta perusahaannya untuk cuti di luar tanggungan atau pedagang kaki lima yang tak lagi laku dagangannya. Siapa yang menjamin kehidupan mereka?

Baca juga: Pembatasan Sosial, Buruh dengan Upah Harian Bisa Apa?

Sejauh ini sih masyarakat sporadis patungan lewat berbagai platform crowdfunding dan donasi. Tentu saja ini adalah inisiatif yang mulia. Persoalannya, inisiatif semacam ini belum tentu bisa menjangkau masing-masing individu yang membutuhkan.

Pada saat yang sama, perusahaan besar juga menggelontorkan miliaran rupiah, yang sebagian besar disalurkan untuk membantu rumah sakit dalam menghadapi pandemi ini. Tak hanya perusahaan besar, di banyak grup WhatsApp, beredar juga berbagai inisiatif dari grup alumni untuk membantu dokter-dokter dan rumah sakit.

Hingga tulisan ini dibuat, inisiatif-inisiatif adiluhung tersebut masih berjalan masing-masing dan belum terkoordinasi satu sama lain. Sebab itu, inisiatif yang terpencar dan banyak ini, jika terkoordinasi dengan baik, memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk membantu kelompok masyarakat yang terpaksa tidak bisa di rumah aja.

Artikel populer: Kangen Pacar Mau Kencan, tapi ‘Physical Distancing’, Gimana?

Tentu kita berharap pemerintah yang ambil kendali, memberi safety net (atau dalam bahasa Pancasila: keadilan sosial) dan menyelesaikan persoalan secara cepat. Tapi, mengingat pemerintah juga lah yang membuka pariwisata sebesar-besarnya saat WHO dan negara lain sudah memperingatkan soal wabah Corona, saya jadi nggak tahu lagi mau bilang apa.

Mungkin, setidaknya koordinasi ini bisa dilakukan oleh staf khusus milenial presiden yang hampir setahun ini belum terlihat berbuat banyak.

Sementara itu, yang bisa kita lakukan sebagai kelas menengah ngehek adalah berdonasi ke lembaga yang kredibel, cuci tangan lebih sering, serta jaga jarak dengan orang lain. Juga, ini adalah saat yang paling tepat untuk mempraktikkan privilese untuk di rumah aja atau bergerak menjadi relawan dari rumah, tanpa harus merasa heroik, tanpa harus galak kepada mereka yang masih harus kerja di luar rumah dan bolak-balik antar kota antar provinsi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini