Ilustrasi. (Image by Schaferle from Pixabay)

Ketika wawancara Meghan dan Harry tayang, banyak orang yang mengatakan bahwa mereka seharusnya mengikuti aturan sebagai anggota keluarga Kerajaan Inggris. Memang betul, kita mesti menghormati aturan atau budaya dimana kita hidup. Tapi bukan berarti tidak boleh mengkritisi, jika aturan itu terasa menyakiti.

Hari gini kerajaan sekalipun pantas dikritik. Apalagi, Kerajaan Inggris yang memiliki catatan sejarah pernah menjajah negara-negara di global selatan. Bahkan, hingga hari ini, bahasa mereka dijadikan bahasa baku sedunia. Orang akan dianggap berpendidikan, jika bisa berbicara dalam Bahasa Inggris. Sebaliknya, orang dianggap bodoh, jika tak bisa berbahasa Inggris.

Begitu pula dengan honor killing atau pembunuhan untuk ‘melindungi kehormatan keluarga’ di beberapa negara, misalnya di India dan Pakistan. Praktik honor killing itu membidik para perempuan yang berani melawan, sekalipun mereka adalah korban kekerasan seksual. Perempuan dibunuh karena dianggap membuat malu dan membawa aib keluarga. Nah, semisal kita berada di sana, apakah akan ikut membenarkan praktik honor killing yang sangat kuat dipengaruhi oleh budaya patriarki itu?

Baca juga: Keluar dari Rumah karena Tidak Tahan Berhadapan dengan Keluarga

Di Indonesia, tepatnya di Sumba, ada tradisi ‘culik perempuan’ atau juga dikenal dengan istilah ‘kawin tangkap’. Mungkin dulu adalah tradisi dimana pihak yang terlibat sudah sepakat. Namun, tradisi itu kini menghasilkan kekerasan dan tidak memberikan kebebasan bagi perempuan untuk memilih. Perempuan yang tidak dikenal pun diculik dan ketika ia menolak untuk dinikahi, ia akan mengalami kekerasan. Perempuan di Sumba kini mengecam keras tradisi tersebut.

Ada pula aturan wajib berjilbab di salah satu SMK di Sumatera Barat yang belakangan menjadi polemik. Padahal, itu adalah sekolah negeri yang pastinya beragam. Lantas, apakah para siswi tidak boleh mengkritisi aturan itu?

Selama ini, banyak sekali aturan atau budaya kekerasan terhadap perempuan yang cenderung dipertahankan. Banyak orang selalu menganggap bahwa itu takdir yang harus diterima perempuan. Padahal, aturan atau budaya tersebut digunakan untuk mengontrol perempuan dan membenarkan tindak kekerasan terhadapnya.

Baca juga: Menjawab Pertanyaan “Lebih Cantik kalau Pakai Jilbab atau Lepas Jilbab?”

Memang, ada peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” yang intinya selalu menghormati adat istiadat, tradisi, atau aturan setempat. Namun, sebaiknya tetap menjunjung tinggi hak kita setinggi langit. Dengan tetap berpikir kritis dan bebas menyatakan pendapat, yang juga merupakan salah satu hak asasi manusia. Di Indonesia, hak tersebut dijamin dan dilindungi aturan selevel undang-undang dasar (UUD). Secara hierarki, UUD adalah peraturan perundang-undangan paling tinggi.

Zaman pun bergerak, pemikiran kita jadi lebih terbuka. Mengkritik beberapa aturan, budaya, atau institusi sebesar negara sekalipun, kenapa tidak? Agar keadilan bisa berdiri tegak, termasuk keadilan gender.

Selama ini, banyak institusi mengandalkan kepatuhan subjeknya atau masyarakat agar dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Dari situ, kerap muncul aturan atau tradisi yang absurd. Akibatnya, banyak orang menderita terutama perempuan dan warga yang kulitnya berwarna lebih gelap.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Sebab itu, kita perlu melontarkan kritik, pedas sampai level 10 kalau perlu. Biar keadaan berubah lah, dan kita bisa hidup nyaman.

Seperti diutarakan Henry David Thoreau bahwa pembangkangan adalah fondasi dasar kebebasan, yang patuh adalah budak. Dalam hal ini, Thoreau membangkang terhadap praktik perbudakan yang dialami warga kulit hitam di Amerika, dimana ketika itu memiliki budak adalah norma.

Pembangkangan memang bisa memastikan kebebasan tetap ada, dan kepatuhan dapat membenarkan kekerasan yang terjadi. Dalam sejarah Indonesia, apakah kita bisa merdeka kalau tetap patuh terhadap penjajah selama berabad-abad? Apakah kita bisa lepas dari rezim totaliter selama lebih dari tiga dekade?

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Saat itu, setiap kritik dibungkam dan orang yang berani bersuara dihilangkan. Perempuan dibatasi pergerakannya, terutama perempuan yang tidak menikah atau bahkan janda. Marsinah yang berani memperjuangkan hak buruh dibunuh. Ita Martadinata dibunuh secara misterius, tak lama sebelum ia berencana bersaksi di sidang PBB terkait pemerkosaan massal di Indonesia pada kerusuhan Mei 1998. Marsinah dan Ita Martadinata termasuk orang-orang yang berpikir kritis.

Jadi, tradisi mengkritik yang mesti dilestarikan, bukan malah tradisi kekerasan. Selama kita membiarkan terjadinya kekerasan, selama itu pula kita membenarkan praktik yang penuh dengan kekejian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini