Di Hadapan Harbolnas, Kita Adalah Penyintas

Di Hadapan Harbolnas, Kita Adalah Penyintas

Ilustrasi (Bruce Mars via Pexels)

Belakangan, media massa menggunakan kata ‘penyintas’ dalam memberitakan kasus kekerasan seksual. Padahal, selama ini, kata tersebut sering dipakai untuk korban bencana alam. Misalnya penyintas tanah longsor, penyintas gempa bumi, dan lain-lain.

Menurut KBBI, penyintas (nomina) berasal dari kata dasar ‘sintas’. Artinya, orang yang mampu bertahan hidup. Sedangkan sintas sendiri merupakan adjektiva yang artinya terus bertahan hidup, mampu mempertahankan keberadaannya.

Terus terang, saya agak kurang sreg dengan penggunaan kata ‘penyintas’ dalam kasus kekerasan seksual. Kesan yang saya tangkap adanya pemaksaan yang dilakukan media untuk sekadar mencari alternatif pengganti frasa ‘korban selamat’. Tapi, ya sudahlah, kalau media-media sudah menggunakannya, kita sebagai pemirsa bisa apa?

Anggap saja media sedang mempromosikan kata ‘penyintas’ itu agar kita juga bisa menggunakannya sewaktu-waktu. Kan lumayan, daripada harus memakai istilah-istilah asing yang belum tentu dimengerti semua orang.

Lagipula, bukankah bahasa itu lentur, dimana penggunaan sebuah kata kadang-kadang menyesuaikan dengan konteksnya? Dari momen ini, para punggawa KBBI bisa menambahkan pengertian kata ‘penyintas’ berikut beberapa contoh kalimat.

Yang pasti, tulisan ini tidak membahas kasus kekerasan seksual, melainkan tentang Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang tahun ini agaknya semakin bertambah kemeriahannya. Lho, kok larinya ke situ? Tenang, mari kita simak…

Harbolnas jatuh setiap tanggal 12 Desember. Wikipedia pun sudah mencatatnya dalam daftar hari-hari besar nasional. Saya bisa ingat bukan karena selalu menantikan ketibaannya, tetapi karena tanggalnya memang cantik dan mudah diingat: 12.12.

Baca juga: Di Balik Saling Contek Antar Portal Belanja Indonesia

Belakangan, setiap kali menyalakan televisi atau berselancar di internet, promo-promo Harbolnas selalu muncul. Ternyata, promo Harbolnas 2018 memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Harbolnas 2018 sudah dimulai sejak September dan diadakan di setiap tanggal syantik. Barangkali toko-toko online terinspirasi dari penggagas demo berjilid-jilid itu. Mulai dari 9.9, 10.10, dan 11.11. Nama-nama promonya pun sungguh menakjubkan. Ada “11.11 Online Revolution Day”, ada “Jerat-jerit”, ada pula “Single’s Day” yang ditujukan terutama untuk para jomlo.

Namun, semua promo Harbolnas itu belum seberapa. Promo-promo tersebut hanyalah pemanasan untuk menyambut Harbolnas yang sesungguhnya, yaitu pada 212, eh 12.12.

Saking gencarnya promo-promo, orang yang paling cuek sekalipun bakal tercuri perhatiannya, minimal sejenak. Salah satu toko online yang masih tergolong baru bahkan sampai mengundang Blackpink, girl band asal Korea Selatan, untuk merayakan hari penting itu.

Tak cuma bagi para shopaholic, promo-promo Harbolnas tentu saja menggembirakan banyak orang. Barang impian yang tadinya sulit dijangkau karena harganya dirasa terlalu mahal, bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah, jika beruntung ada diskon besar.

Tapi, tunggu… Benarkah kita beruntung jika mendapatkan barang dengan diskon besar-besaran? Bisa jadi kita beruntung, terutama kalau selama ini kita memang membutuhkan barang tersebut.

Baca juga: Gaya Hidup Minimalis yang Maksimalis Lagi Ngetren sebagai Lawan Setimpal Budaya Konsumerisme

Seorang mahasiswa dengan uang kiriman terbatas, misalnya, yang membutuhkan laptop agar lebih mudah mengerjakan tugas-tugas kuliah, pastinya bisa dikategorikan sebagai beruntung. Terlebih, ia mendapatkan laptop dengan harga yang jauh lebih murah dari gebyar belanja online itu.

Tapi, bagaimana dengan seseorang yang mendambakan punya sepatu Onitsuka Tiger Mexico 66, yang koleksi sepatu di raknya sudah lebih dari lima, lantas mendapatkan promo diskon 50% dan tanpa pikir panjang membeli sepatu tersebut? Masih bisa dikatakan beruntungkah dia? Atau, apakah ia justru korban konsumerisme?

Saya tidak mau tergesa-gesa mengatakan ia adalah korban. Kenapa? Ya karena konsumerisme adalah hal yang tak terelakkan. Apalagi, jika yang bersangkutan hidup dan tumbuh besar dalam suasana sistem kapitalistik yang mengakar, yang suka tak suka menopang perekonomian negara, seperti Indonesia ini misalnya.

Tidak bisa dipungkiri, kapitalisme dan konsumerisme adalah dua hal yang kerap dianggap menjijikkan bagi banyak orang. Tetapi orang-orang yang mengaku merasa jijik itu seringkali tak sadar, bahwasanya ada sikap mendua dalam diri mereka dalam menyikapi dua hal tersebut. Di satu sikap mereka menolak, tapi pada sikap lainnya mereka justru menghambakan diri di hadapannya.

Karena itu, menyinyiri teman yang tergiur promo Harbolnas adalah tindakan basi. Kecuali, kalau selama ini sodara memang hidup sebagai seorang puritan, yang terbebas dari gemerlap kemewahan benda-benda hasil produksi kapitalis.

Artikel populer: Seberapa Yakin Anda dengan Kencan ‘Online’?

Daripada jijik dengan Harbolnas, lebih baik kalau kita ikutan melirik barang-barang yang dilabeli diskon besar-besaran itu. Siapa tahu, ada barang yang cocok, apalagi jika ada yang kebetulan sedang kita butuhkan, dan kebetulan pula uang kita sedang berlebih.

Atau, kalaupun kita memang sedang tidak berniat belanja apapun, entah itu karena tak mau tergiur promo atau memang tak butuh apapun, setidaknya kita bisa cuci mata. Yah, di zaman serba-online seperti sekarang, masa iya cuci mata masih harus ke mal?

Yang terpenting dalam menyikapi Harbolnas adalah meningkatkan kewaspadaan terhadap promo-promo palsu. Sebagaimana kabar palsu yang kini tengah menjamur di jagat maya, promo pun agaknya demikian. Terlebih, ini ruang belanja online, di mana kita tidak berinteraksi langsung dengan penjualnya.

Jadi, biar tampak sebagai konsumen yang cerdas, kita lah yang mesti menentukan selera barang yang hendak kita beli. Jangan sampai selera kita malah disetir oleh para penjaja barang, hingga akhirnya barang yang kita beli lebih banyak tersimpan di lemari.

Bagaimanapun kita ini, yang hidup di negara dengan sejuta promo Harbolnas, adalah penyintas. Suka maupun tak suka.

Lho, penyintas dari apa? Ya, bisa penyintas dari kapitalisme, penyintas konsumerisme, atau sekadar penyintas dari Harbolnas.

Kita adalah orang-orang yang terus bertahan hidup dan mempertahankan eksistensi diri, meski terus dibombardir oleh serangan kapitalisme, konsumerisme, dan Harbolnas.

Mau belanja online apa nanti, eh?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.