Di Hadapan Calon Mertua, Sesungguhnya Kamu Borjuis atau Proletar?

Di Hadapan Calon Mertua, Sesungguhnya Kamu Borjuis atau Proletar?

Ilustrasi proletar (Image by Clker-Free-Vector-Images from Pixabay)

Media sosial masih sesak dengan gugatan warga negara terhadap status quo. Mulai dari dominasi Israel di semenanjung Palestina hingga dominasi Tiongkok atas Hong Kong. Mulai dari dominasi militer di pojok Papua hingga drama politik di Jakarta.

Beberapa dari kita berharap ketegangan tersebut menghilang, sehingga keriuhan di masyarakat bisa mereda. Itu sah-sah saja sebagai sebuah harapan.

Namun, bagi pejuang cinta, apalah arti ketegangan di semenanjung benua dan keriuhan di pojok-pojok kota. Ketegangan dan kegentingan justru ada di hadapan calon mertua.

Calon mertua seakan-akan mampu memindahkan kegentingan dan rasa was-was di wilayah konflik ke alam pikiran calon pendamping anaknya dalam sekian detik. Ia dianggap keramat, sakral, dan misterius. Tentu ini hanya berlaku bagi kamu yang percaya dengan status pernikahan, sementara bagi yang tidak percaya sudah pasti tidak berlaku.

Menghadapi calon mertua memang bukan perkara mudah. Namun, kamu juga tidak perlu berlebihan sampai-sampai membaca setumpuk buku teori komunikasi atau menghafal ratusan prinsip The Art of War ala Sun Tzu agar calon mertua bisa merestui anaknya menikah denganmu.

Baca juga: Tips Menghadapi Pertanyaan Calon Mertua dari Suami Ceria!

Sekalipun agak rumit, beberapa artikel mengenai prediksi pertanyaan yang muncul dari calon mertua sudah banyak beredar. Namun, terlampau mainstream. Jawabannya bisa dimanipulasi, ideasional, dan nggak bikin mikir. Pertanyaan semacam kerja di mana, mau punya anak berapa, mau tinggal di mana, ibadahnya rajin apa nggak, itu sudah banyak ditinggalkan oleh orangtua masa gitu kini.

Kini, saatnya saya mengantarkan kamu untuk sejenak masuk pada prediksi kedudukan relasi sosialmu dengan menggunakan cara pandang Henry Bernstein sebelum berhadapan dengan calon mertua. Syukur-syukur, kamu sadar tentang dari mana kelasmu berasal.

Untuk mempermudah dalam memprediksi hal apa saja yang ada di benak calon mertua, kamu hanya cukup memahami empat pertanyaan yang berpotensi ditanyakan mereka. Hal itu bisa dilihat dari apa-apa yang kamu produksi-reproduksi dalam relasi sosial.

Karena calon mertua dan kamu hidup dalam alam material, maka apa-apa yang bisa diukur dan dipastikan sudah semestinya hal yang material juga. Nggak nyambung aja kalau yang ditanyakan malah hal-hal ideasional semacam, “Apakah Tuhan yang kamu sembah sama dengan Tuhan keluarga kami?” Atau, jika suatu hari nanti di antara kalian ada permasalahan finansial, muncul pertanyaan, “Apakah kalian siap mengembalikannya pada takdir?”

Kecuali, jika orangtua calon istrimu adalah anggota Muslim Cyber Army.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Untuk itu, setidaknya ada empat prediksi pertanyaan dari calon mertua, yang 90% nggak akan meleset. Mohon dibaca baik-baik, karena prediksi ini tak akan kalian dapatkan di toko buku manapun.

Pertama, kamu punya apa?

Jelas, pertanyaan semacam “kamu punya apa mau ngelamar anak saya” akan muncul. Jika kamu Fiersa Besari, mungkin kamu akan menjawab, “Saya punya cinta yang tak henti-henti.” Kalau kamu Fahri, mungkin kamu akan bilang, “Saya punya niat tulus dengan menyebut nama Allah.”

Tapi yang perlu kamu sadari, pertanyaan itu bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kepemilikanmu atas materi dan apa saja yang kamu miliki.

Seorang borjuis akan menjawab, “Oh, saya punya beberapa aset bergerak dan tidak bergerak.” Atau, “Saya punya perusahaan yang sedang berkembang, Om, Tante.” Sedangkan proletar, narasi yang dijawab tentu klasik, “Saya memang belum punya apa-apa, tapi akan saya usahakan semua demi anak Om dan Tante”.

Pada momen itu, kamu yang borju dan proletar adalah sama, sama-sama ingin punya istri. Yang membedakan adalah kepemilikan alat produksi.

Baca juga: Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Kedua, kamu melakukan apa?

Pertanyaan semacam “sehari-hari sibuk apa, kerja apa” ini bermaksud untuk mencari kejelasan tentang apa yang kamu lakukan atas kepemilikanmu. Semisal, jika sejak awal sudah kadung cerita bahwa kamu borjuis, tentu calon mertua ingin tahu dari mana semua berasal.

Jika kamu adalah pemilik perusahaan, tentu calon mertua tak akan heran. Namun, jika kamu tak punya kerjaan, mereka akan bertanya dari mana asal kepemilikan itu. Jelaskah? Berbahayakah? Tak akan dibiarkan anak gadisnya menikah dengan lelaki yang berpotensi kena OTT KPK. Cukup anggota DPR saja.

Oh iya, buat kamu yang merasa proletar, nggak usah khawatir dengan pertanyaan kedua dari calon mertua ini. Alasannya simpel, mengapa selama ini nggak punya apa-apa, ya karena habis diisap pemilik modal. Hehehe.

Ketiga, kamu dapat apa saja?

Pertanyaan “memang kamu sudah dapat apa saja” ini setidaknya bisa muncul dalam berbagai diksi dan padanan kata. Tapi tujuannya tetap sama, yakni mencari tahu soal pendapatan kamu. Sebab, di dunia yang juga patriarkis ini, memang dengan apa laki-laki dianggap ada?

Dan, bisa dibayangkan, begitu timpangnya jawaban antara si borjuis dan proletar pada pertanyaan ketiga ini.

Artikel populer: Pemilik Modal Bukan, Bos juga Bukan, tapi Nyinyirin Buruh

Keempat, kamu gunakan untuk apa saja?

Jelas, pertanyaan ini selain ingin mengetahui apa yang kamu punya, apa yang kamu kerjakan, dan apa yang kamu dapatkan, calon mertua juga ingin tahu ke mana mengalirnya itu semua. Apakah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat atau tidak?

Borjuis akan berkata, “Saya tabung Om, dan sebagian saya invest di saham, tanah, dan perusahaan.” Namun, kamu yang proletar lagi-lagi hanya mampu menjawabnya dengan alasan klasik. “Ditabung Om. Buat beli ini, buat makan ini, dan buat ngelamar anak Om.”

Iya, saya paham. Pahit memang, namun begitulah koalisi masyarakat kapitalis-patriarkal. Selain menempatkan perempuan sebagai objek, ia juga melempar para proletar hingga ke dasar jurang. Pertanyaan-pertanyaan tadi tak akan langsung dikemukakan dalam satu malam. Namun, cepat atau lambat, kamu akan dipaksa memberi jawaban.

Bagi borjuis, tentu urusannya bakal berjalan mulus, semulus moda kapital yang mereka putar. Namun bagi proletar, genggam erat-erat tangan pasanganmu, perjuangan masih panjang…

Eh tapi, kenapa sih nggak bahas soal ukuran cinta saja? Atau, ukuran cita-cita? Monmaap nih, proletar harus sadar kelas. Perbanyak kerja, lupakan bercinta. 🙂

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.