Ilustrasi (Photo by The Lazy Artist Gallery from Pexels)

Suatu siang pada awal Agustus yang cerah tahun 1888, Bertha Ringer masuk ke sebuah apotek di Kota Wiesloch, Jerman. Dua anak lelakinya, Eugen dan Richard, menunggu di luar apotek. Bertha memesan 10 liter ligroin. Pesanan yang membuat pria setengah tua penjaga apotek tercengang.

Pada masa itu, tidaklah lazim orang membeli ligroin sebanyak pesanan Bertha. Ligroin merupakan salah satu produk turunan minyak bumi yang pada masa itu berfungsi sebagai cairan pelarut dan pembersih. Melihat gaun Bertha yang belepotan tanah, si penjaga apotek menyarankan agar Bertha membeli satu liter ligroin saja, jumlah yang lebih dari cukup untuk mengusir kotoran dari gaun.

Tapi, Bertha ngotot membeli 10 liter. Sebab, memang bukan gaun yang akan dia tuangi ligroin, melainkan tangki pada mobil Benz Patent Motorwagen, pelopor mobil berbahan bakar turunan minyak bumi. Mobil itu menggunakan mesin 4 langkah berkapasitas 984 cc, 1 silinder. Tiga roda kayu yang ada pada Benz Patent membuatnya lebih mirip kereta yang biasanya dijalankan dengan kuda, ketimbang mobil.

Benz Patent yang baru mampu berjalan paling cepat 17 kilometer per jam dipacu Bertha melewati desa dan kota. Melihat seorang perempuan dengan dua anak lelaki di sampingnya mengoperasikan kereta tanpa kuda, orang-orang di jalanan yang dilalui Bertha keheranan. Bertha disangka penyihir.

Hari itu, Bertha pergi diam-diam dari rumahnya di Mannheim. Bertha memiliki empat anak waktu itu, ia meninggalkan dua anak yang lain di rumah. Bertha berencana menjenguk ibunya di Pforzheim, Jerman. Suaminya, Carl Friedrich Benz, si pembuat Benz Patent, tak tahu menahu soal rencana perjalanan Bertha. Alih-alih, Bertha punya misi tersembunyi yang baru terungkap setelah perjalanannya rampung.

Rute keberangkatan Mannheim-Pforzheim yang dilalui Bertha mencapai 104 kilometer. Sebelumnya, Benz Patent tak pernah dipakai untuk menempuh perjalanan sejauh itu. Dengan daya tampung tangki (yang sebetulnya tangki karburator) hanya 4,5 liter. Maka, untuk sampai ke Pforzheim, berkali-kali Bertha harus menghentikan Benz Patent untuk mengisi bahan bakar.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Jangan mengira dalam setiap pemberhentian Bertha mematikan dan menyalakan mesin dengan kunci kontak. Mesin Benz Patent dinyalakan dengan cara memutar roda gaya (fly wheel) atau roda gila yang terletak mendatar di bagian belakang mobil. Prosesnya mirip dengan mengengkol.

Bertha berhasil menuntaskan perjalanan keberangkatan bersama Benz Patent dalam waktu kurang dari 12 jam. Ia mengirim telegram kepada suaminya setelah sampai di Pforzheim. Tentu saja, Carl Benz takjub karena tak menyangka Benz Patent mampu menempuh jarak sejauh itu.

Beberapa hari kemudian, Bertha kembali ke Mannheim lewat jalur yang berbeda. Total jarak tempuh Bertha bersama Benz Patent Motorwagen saat itu kurang lebih 180 kilometer. Itu adalah perjalanan mobil terjauh pertama kali di dunia.

Selain mengemudi, dalam perjalanan itu, Bertha juga bertindak sebagai mekanik. Mesin Benz Patent menggunakan sistem pendingin air sederhana yang seluruh cara kerjanya telah dipahami Bertha.

Bertha membuat catatan-catatan berkaitan dengan Benz Patent dan perjalanannya. Bagian ini adalah misi tersembunyi Bertha. Ia mencatat jumlah ligroin yang dibeli dan titik pemberhentian di mana ia mengisi bahan bakar, serta titik toko kimia berada di sepanjang Mannheim ke Pforzheim.

Dia juga mencatat Benz Patent yang harus didorong setiap kali melewati tanjakan. Rem kayu pada mobil itu juga kurang berfungsi dengan baik saat mobil melewati turunan. Bertha menambahkan bahan kulit yang ia dapat dari tukang sepatu pada rute jalan yang ia lewati, pada rem kayu. Langkah yang ternyata membuat rem berfungsi lebih baik.

Seluruh catatan diberikan kepada Carl Benz sebagai oleh-oleh perjalanan Bertha ke rumah ibu. Carl yang membuat Benz Patent Motorwagen tahun 1886, kemudian melakukan pembaruan berdasarkan catatan Bertha. Di antaranya, menambahkan sistem gigi dan menambahkan bantalan pada rem. Pengembangan berikutnya terus berlanjut hingga sekarang. Itulah kesuksesan Bertha berada di belakang revolusi otomotif dunia.

Baca juga: Mamak-mamak Penyelamat Bumi

Sayangnya, meski telah lebih dari satu seperempat abad, tak banyak muncul Bertha-Bertha dari generasi berikutnya dalam perkembangan teknologi otomotif. Sentimen dominasi laki-laki di bidang itu sangat kuat, sehingga otomotif selalu dibilang sebagai dunia laki-laki.

Ibu-ibu, paling mentok hanya dilibatkan sebagai populasi konsumen yang jadi obyek riset pemasaran produk otomotif. Sementara, gadis-gadis muda akan lebih banyak duduk di meja-meja administrasi dan berdiri sebagai tenaga promosi yang ‘dipajang’ di dekat produk otomotif.

Otomotif hanyalah satu contoh bidang yang bercelah sempit untuk dimasuki perempuan. Tahun 2015, secara umum UNESCO membuat kajian peran perempuan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Kajian bertajuk A Complex Formula: Girls and Women in Science, Technology, Engineering and Mathematics in Asia, memaparkan bahwa ada gap yang besar antara perempuan dan laki-laki dalam STEM. Sebesar 81% kontrak-kontrak kerja dalam bidang STEM dikuasai oleh laki-laki. Perempuan hanya melakukan sisanya yang sebesar 19%.

Secara global, UNESCO melaporkan hanya ada 30% perempuan dalam STEM. Di Asia, rasionya lebih rendah lagi, hanya ada 18% perempuan dalam STEM. Merunut ke akarnya, ini karena remaja perempuan di Asia lebih banyak memilih jurusan lain ketika di universitas daripada yang berhubungan dengan sains dan teknologi. Di Asean, kurang dari 23% perempuan masuk jurusan teknik.

Salah satu sebab yang kuat adalah adanya stereotip dalam masyarakat bahwa perempuan tidak cocok dengan STEM. Menurut UNESCO, stereotip ini yang membuat remaja perempuan merasa minder, takut, cemas, hingga malu ketika ingin mendalami STEM.

LIPI menyajikan data yang sedikit berbeda. Menurut LIPI, partisipasi perempuan Indonesia pada pendidikan tinggi di bidang STEM tergolong tinggi. Pada beberapa bidang, seperti jurusan biologi dan farmasi, dominasi perempuan mencapai lebih dari 80%.

Baca juga: Kelakuan Orang-orang di Negara +62 terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Tapi ujungnya setali tiga uang, jumlah itu merosot saat di dunia kerja. Hanya ada dua dari 10 perempuan yang berkarier secara profesional di industri STEM, hanya tiga dari 10 perempuan yang menjadi peneliti bidang STEM. Lagi-lagi, stereotip gender menjadi salah satu sebab yang kuat.

Perempuan dianggap tidak pantas bergelut dengan STEM. Jika pantas saja tidak, apalagi becus? Ini terbentuk dari praktik kehidupan berabad-abad dan tidak hilang, bahkan tidak pula menipis hingga sekarang. Laki-laki diidentikkan sebagai pencari nafkah dan pencipta teknologi. Sedangkan perempuan identik sebagai pengurus rumah dan anak-anak.

Mungkin Bertha Ringer beruntung, lahir dan tumbuh saat Louise Otto-Peters sukses mengibarkan pergerakan yang mengusung emansipasi perempuan di Jerman. Sehingga Bertha yang perempuan Jerman abad 19 itu bisa memperoleh pendidikan, tidak seperti nenek-nenek di garis leluhurnya yang jika ada urusan di pengadilan saja harus diwakilkan kepada laki-laki. Mungkin juga Bertha beruntung telah menikahi seorang insinyur seperti Carl Benz.

Tapi, tantangan stereotip gender yang dihadapi Bertha nyaris sama dengan perempuan saat ini. Inilah bukti jika anggapan itu awet hingga abad berganti. Jujur saja, apa yang terlintas di kepala ketika membaca kisah Bertha?

Prasangka bahwa Bertha terlalu nekat dan emosional tancap gas mobil yang oleh penciptanya sendiri saja tak diyakini bisa menempuh jarak sejauh itu? Prasangka bahwa Bertha buta soal mesin mobil? Prasangka betapa sintingnya Bertha minggat tanpa izin suami dan meninggalkan dua anaknya yang masih kecil?

Penjaga apotek di Wiesloch bahkan tidak yakin dengan pesanan ligroin Bertha. Jika hari itu Carl Benz yang berada di atas Benz Patent, apakah Carl juga akan diteriaki dengan tudingan penyihir? Ataukah, Carl akan disoraki dan dipuja sebagai seorang inventor?

Artikel populer: Hari Ibu Bukan Ajang Pansos, Maaf, Ini Bukan Kata-kata Manis

Padahal, yang terjadi adalah Carl Benz selalu membutuhkan Bertha sebagai partner diskusi mengulik mesin di bengkel mereka hingga akhirnya tercipta Benz Patent. Yang terjadi adalah Carl yang murung lantaran perkembangan temuannya yang lambat dan Bertha yang optimistis menjajal Benz Patent berjalan jauh agar dapat dikembangkan.

Stereotip gender itu kelihatannya sepele, gampang saja diabaikan, tidak usah digubris. Yang penting perempuan maju terus saja seperti Bertha, tidak peduli omongan orang-orang sekelilingnya. Tapi, jangankan diabaikan, yang sering tampak justru praktik-praktik yang telah menjadi kebiasaan yang turut memupuk subur stereotip tersebut.

Ledekan bertubi-tubi kepada para ibu yang berkendara. Meme-meme berseliweran di media sosial yang menyindir hingga terang-terangan menuding ibu-ibu sebagai biang kerok semrawutnya jalanan, ibu-ibu yang cuma bisa ngebut serampangan pakai scooter matic, ibu-ibu yang belok kanan tapi kasih sein kiri.

Bertha telah meletakkan landasan penting pada perkembangan teknologi otomotif. Tapi sampai saat ini, perempuan apalagi ibu-ibu lebih sering menjadi bahan olok-olok di jalanan ketimbang diperhitungkan perannya sebagai subyek dalam perkembangan teknologi otomotif.

Lucunya, olok-olok itu beriringan dengan perdebatan yang dipicu stiker mobil “real man use three pedal”. Diam-diam, saya menertawakan perdebatan antar pria pengguna mobil dua pedal dengan mobil tiga pedal. Perdebatan memperebutkan predikat sebagai yang ‘paling laki’. Jika tidak tahu, mungkin mereka memang abai pada andil besar seorang ibu menciptakan mobil yang mereka pakai itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini