Di Balik Perlawanan ‘Skipcare’ terhadap Rezim 10 Tahap ‘Skincare’

Di Balik Perlawanan ‘Skipcare’ terhadap Rezim 10 Tahap ‘Skincare’

Ilustrasi (George Bohunicky via Unsplash)

Gaya hidup minimalis kini menjadi tren baru yang diminati oleh banyak orang, terutama dari generasi milenial. Gaya hidup ini diklaim dapat mengurangi barang-barang sekaligus pengeluaran yang tidak perlu. Cocok dengan milenial yang katanya tidak akan memiliki pemasukan yang memadai. Hehehe.

Nama Marie Kondo dengan metode KonMari-nya pun turut menjadi perbincangan hangat, karena metode tersebut sangat menunjang tren gaya hidup minimalis.

Metode KonMari itu sendiri sederhananya metode bersih-bersih dan merapikan segala barang yang dinilai berantakan atau tidak mengundang kebahagiaan. Jadi, barang yang pantas disimpan hanya barang yang bisa membangkitkan rasa senang atau sering kali disebut oleh Marie Kondo dengan istilah ‘spark joy.

Setelah menelisik lebih jauh, memang ada banyak hal yang dapat diminimaliskan, baik melalui metode KonMari ataupun istilah lain yang sebetulnya sejenis. Mulai dari rumah bergaya minimalis alias kecil dengan perabot seadanya hingga menyingkirkan pakaian-pakaian yang tidak lagi dibutuhkan dengan mengalihgunakannya sebagai keset atau lap untuk bersih-bersih.

Baca juga: Beres-beres Medsos Ala Marie Kondo Biar Hidup Lebih Selo

Kemudian yang menarik adalah sesuatu yang sebetulnya sangat dekat, bahkan langsung bersentuhan dengan tubuh kita setiap hari. Adalah skipcare, yaitu meminimaliskan penggunaan skincare atau perawatan kulit.

Istilah skipcare sendiri bukan berarti gerakan yang mengajak untuk tidak menggunakan skincare sama sekali. Skipcare ini lebih ke gerakan simplifikasi skincare, dimana para pemerhati kulit tak perlu mengaplikasikan belasan produk skincare ke kulit mereka dalam satu waktu.

Alih-alih menggunakan belasan produk, skipcare hanya perlu menggunakan satu produk yang di dalamnya terkandung berbagai macam bahan serupa dengan produk-produk pada rezim 10 tahap skincare yang terkenal itu. Satu produk yang berisi bahan komplit ini sering disebut dengan istilah ‘all in one’.

Simplifikasi produk skincare ini dapat dibilang masuk akal, karena ternyata banyak orang yang tidak cocok mengaplikasikan 10 bahkan belasan produk skincare ke kulit mereka dalam satu waktu. Selain itu, sulit juga untuk mendapatkan kombinasi skincare yang cocok satu sama lain. Bukannya mendapatkan kulit mulus seperti pantat bayi yang diiklankan, tapi malah menjadi rapuh seperti kanebo kering.

Baca juga: Sebelum Kamu Ikut-ikutan Tren 10 Langkah Perawatan Wajah Ala Korea

Untuk itu, skipcare hadir dengan satu produk ‘all in one’ yang dapat menggantikan produk-produk pada rezim 10 tahap skincare. Karena produk yang dikonsumsi berkurang, kehidupan finansial generasi milenial otomatis juga dapat terselamatkan.

Harga produk-produk skincare memang banyak yang tidak terjangkau oleh generasi milenial dengan pemasukan pas-pasan, apalagi bila jumlahnya sampai belasan produk. Walaupun sebenarnya ada produk skincare yang harganya murah meriah, namun apabila kulit lebih cocok dengan produk yang mahal, ya apalagi namanya kalau bukan nasib atau gengsi.

Melihat definisi dan praktiknya, skipcare ini seolah-olah menjadi gerakan perlawanan terhadap kapitalisme industri kecantikan Korea Selatan yang menciptakan rezim 10 tahap skincare.

Tak dapat dipungkiri bahwa rezim 10 tahap skincare ini merupakan surga bagi industri kecantikan. Semakin banyak jenis produk yang dibeli, semakin berlimpah pula pendapatan mereka.

Baca juga: Habis Kecantikan, lalu Jual Kebahagiaan

Industri kecantikan mengkampanyekan berbagai alasan dan manfaat bahan-bahan yang tadinya asing dan tidak umum untuk diaplikasikan ke kulit, misalnya lendir siput. Padahal, sebelumnya, kita bahkan cenderung jijik apabila membayangkan lendir siput.

Namun, berkat kampanye industri kecantikan yang masif, rasa jijik tersebut pun menghilang. Kemudian, berganti dengan rasa penasaran yang mendorong konsumen untuk membeli produk tersebut.

Terlebih, produk tersebut akhirnya diproduksi sebagai sebuah rangkaian, dimana hasil yang positif bagi kulit diklaim akan semakin optimal apabila semua rangkaian dipakai secara serempak. Begitu mudahnya industri kecantikan memancing konsumen untuk membeli lebih banyak produk.

Di situ, skipcare tampak seperti sebuah perlawanan terhadap kapitalisme industri kecantikan. Namun, apakah benar begitu?

Setelah menelusuri lebih lanjut, ternyata skipcare ini merupakan tren baru yang sedang menjangkiti generasi milenial di Korea Selatan, negara yang sama yang menciptakan rezim 10 tahap skincare.

Artikel populer: Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Istilah skipcare sendiri ternyata dikemukakan pertama kali oleh perusahaan kecantikan asal Korea Selatan yang membawahi merek-merek ternama yang tentu tak asing lagi bagi para pemerhati skincare. Produk dengan klaim ‘all in one’ pun dapat ditemukan pada merek-merek tersebut.

Deg… Hati saya mencelos.

Luar biasa memang kemampuan kapitalisme industri kecantikan ini. Setelah membuat rezim yang seiring berjalannya waktu mulai ditinggalkan karena tidak lagi efektif, pihak yang sama kembali membuat gerakan yang seakan menjadi solusi dari masalah yang mereka buat sendiri.

Logikanya, daripada konsumen berpindah haluan, industri saja yang membuat haluan baru. Dengan begitu, mereka tidak akan kehilangan konsumen. Gerakan yang tadinya saya pikir tidak berpihak pada industri, ternyata justru semakin menguntungkan para pemilik kapital.

Sederhananya, para kapitalis menyerukan boycott untuk buycott alias pintar cari duit. Lha, konsumen?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.