Di Balik Lelaki yang Kegeeran kalau Lihat Perempuan Cantik, Cerdas, dan Mandiri

Di Balik Lelaki yang Kegeeran kalau Lihat Perempuan Cantik, Cerdas, dan Mandiri

Ilustrasi (Image by Gracini Studios from Pixabay)

Sebelumnya saya sempat menulis mengapa perempuan memantaskan dirinya. Sebab, sudah terlalu banyak prasangka dan asumsi yang disematkan pada perempuan. Dalam masyarakat yang patriarkis, perempuan diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Apapun yang dilakukan dianggap untuk menarik perhatian laki-laki.

Namun, ketika kita menempatkan perempuan sebagai subjek, ia memiliki pilihan. Sebagai manusia yang utuh, ia tidak melulu dikaitkan dengan lelaki. Lagipula, tidak semua perempuan ingin menikah atau bahkan mencintai dan dicintai lelaki. Ada pula yang menginginkan hidup sendiri.

Itu mungkin tak lazim, karena dalam masyarakat kita yang patriarkis, semuanya serba biner. Masih terasa betul dampak dari imperialisme Eropa. Sebab, kaum imperialis melakukan pendikotomian supaya bisa mengeruk sumber daya alam.

Mereka memisahkan peradaban yang dianggap maju dan tidak maju, primitif-modern, pemimpin dan pengikut, hitam dan putih, kuat dan lemah, serta laki-laki dan perempuan. Padahal, gender nggak cuma dua. Sama halnya dengan warna, nggak cuma hitam dan putih.

Baca juga: Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Dikotomi ini untuk membuat yang satu terlihat lebih kuat, sedangkan yang lain tampak lemah. Ujung-ujungnya, pihak yang terkesan kuat bisa mengeksploitasi pihak yang dianggap lemah. Kemudian, memanipulasi yang lemah agar bergantung pada yang kuat.

Terlebih, dalam tatanan yang kapitalis, dimana pihak yang lemah diperdaya agar mau atau dipaksa untuk menyerahkan sumber daya alamnya, bahkan tenaganya. Dengan begitu, yang kuat bertambah kaya. Sementara, yang lemah semakin miskin dan tak berdaya.

Nah, dalam konteks relasi sosial kekinian, perempuan selalu dianggap sebagai makhluk yang lemah, sehingga terkesan harus bergantung kepada lelaki yang katanya kuat. Itu mengapa banyak perempuan disuruh tinggal di rumah saja, hanya untuk mengurus pekerjaan domestik. Sementara, laki-laki dibenarkan untuk sekolah tinggi-tinggi dan bekerja agar bisa memegang kendali penuh atas sumber daya.

Karena itu, ketika ada perempuan yang kuat secara finansial, banyak lelaki patriarkis yang takut karena khawatir tidak bisa lagi memperdaya perempuan. Tak bisa lagi membodoh-bodohi perempuan.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Maka, tak heran, banyak yang defensif duluan ketika ada perempuan yang cerdas dan mandiri secara finansial. Bahkan, perempuan yang mandiri dianggap menyeramkan. Padahal, syantik nan imuts begini.

Itu pula mengapa banyak bujuk rayuan melalui meme dan budaya populer yang mencitrakan lelaki adalah pemimpin, sedangkan perempuan hanya sebagai pengikut. Tujuannya supaya perempuan tetap tunduk dan patuh.

Perempuan juga terus disuap dengan dongeng-dongeng atau mitos yang bisa melemahkan dirinya. Salah satu dampaknya yang nggak banget adalah pertikaian sesama perempuan dalam memperebutkan lelaki. Sementara, di luar sana, ada orang yang tertawa sambil melemparkan ejekan perihal perempuan: because they kill each other.

Begitu pula dengan persaingan antar sesama lelaki. Mereka akan bersaing untuk mendapatkan perempuan yang dianggap paling cantik. Bahkan, kalau bisa mengkoleksi mereka layaknya trofi untuk pajangan dan dipamerkan ke teman-temannya. Maka, tak heran pula, ada lelaki yang getol banget poligami karena ingin pamer kejantanan.

Baca juga: “Ciyee… Bangga Banget Bisa Poligami”

Persaingan ini juga akhirnya memberi bensin agar mesin kapitalisme dapat berjalan lewat penjualan produk-produk kecantikan dan barang mewah. Perempuan diperdaya untuk membeli produk mereka agar ‘bisa mendapatkan pria idaman seperti di iklan krim pemutih’. Perempuan juga dibuat silau dengan lelaki yang tajir melintir dan status sosial ‘warga kelas satu’.

Dan, layaknya objek, perempuan dalam masyarakat yang patriarkis dilihat dari selaput daranya. Padahal, selaput dara hanya mitos agar lelaki bisa terus-terusan membanggakan diri ketika menembus selaput dara perempuan.

Tentunya, tidak ada yang salah, jika perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Namun, pastikan keputusan itu atas dasar kemauan sendiri dan dibekali dengan pengetahuan tentang hak-hak istri. Tidak melulu menekankan pada tanggung jawab semata.

Jadi, memaksakan kesan kuat pada lelaki adalah salah satu bentuk kejantanan yang sangat tidak sehat. Selama ini, banyak lelaki yang melakukan berbagai macam hal untuk membuktikan dirinya terlihat jantan dan kuat, sehingga kerap melukai dirinya dan orang lain.

Artikel populer: Yang Tidak Dipahami Banyak Orang Mengapa Perempuan Saling Bersaing

Bahkan, perempuan menjadi rentan terkena kekerasan seksual karena lelaki yang patriarkis katanya tak boleh sedih, apalagi sampai nangis berurai air mata, karena takut terlihat lemah.

Lelaki yang patriarkis menjadi besar kepala karena sistem menguntungkan mereka. Terbukti, dalam undang-undang, lelaki disebut sebagai kepala keluarga. Kalaupun ada perempuan yang bekerja di luar rumah, ia hanya dianggap bantu-bantu keuangan keluarga. Makanya, perempuan yang bekerja jarang sekali mendapat tunjangan suami dan anak.

Padahal, kenyataannya, banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi, tetap saja, gaji beserta tunjangan dan fasilitasnya timpang dibandingkan pekerja laki-laki.

Kegeeran lelaki patriarkis kemudian didukung oleh perempuan patriarkis yang terbuai bahwa lelaki harus bisa menjadi pencari nafkah utama. Mereka lupa bahwa dirinya dapat berdaya tanpa harus menggantungkan hidup pada orang lain.

Sudah sepatutnya pemikiran yang usang itu dibuang pada tempatnya. Kemudian, merebut sistem ini dan mengubahnya agar dapat bermanfaat bagi semuanya. Ya betul, semuanya. Termasuk, memberikan perempuan kuasa atas pilihannya. Sebab perempuan adalah subjek, bukan objek.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.