Ilustrasi (Photo by Min An from Pexels)

Tempo hari, suara dentuman terdengar pagi-pagi buta di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Banyak yang menyangka hal tersebut sebagai dampak dari erupsi anak Gunung Krakatau. Anehnya, warga di sekitar Banten, khususnya Cilegon, malah tak mendengar apa pun. Mereka tertidur dengan bodo amat, kayak kita kalau mager di akhir pekan.

Paginya, selain berita yang menyebutkan bahwa dentuman tadi tak ada hubungannya dengan Krakatau, ada satu lagi utas (thread) di linimasa media sosial yang ‘meledak’ dan menimbulkan polemik baru: kita bakal mengalami keadaan yang jauh lebih mengkhawatirkan. Utas panjang ini pertama kali diunggah di Twitter, tapi kini sudah dihapus oleh pemegang akun yang bahkan profilnya tak lagi bisa diakses.

Berawal dari cerita soal satu grup berisi anak-anak dengan kemampuan indigo, narasi dalam utas dituturkan satu per satu. ‘Ramalan’ yang dipublikasikan itu berhasil bikin geger, bahkan menimbulkan ketakutan bagi sebagian pembaca.

Selagi kita masih harus diam di rumah, sementara beberapa pekerja harian merugi dan banyak karyawan di-PHK, di belahan kota lainnya di Indonesia malah ada orang yang menebar kabar ramalan mengenai hal-hal buruk yang disebutkan bakal terjadi pada bulan Mei hingga Agustus. Apa nggak tambah pusing?!

Baca juga: Kerja Keras Bagai Kuda, Mustahil Kelas Pekerja Bisa Banyak Bercinta

Bagaimana proses terbentuknya utas tersebut mungkin tak bakal kita ketahui secara pasti. Tapi, saya malah jadi bertanya-tanya, apakah mereka lupa bahwa sesungguhnya, di dunia ini, ada anak yang juga istimewa dan sama resahnya seperti anak-anak indigo, yaitu…

…anak bukan indigo?

Ayolah, akui saja. Menjadi anak yang bukan indigo juga melelahkan, kok.

Begini. Jangan dikira cuma anak indigo saja yang energinya cepat habis setelah dapat ‘penglihatan’. Anak-anak yang bukan indigo pun harus berjuang melawan rasa lemas dan lunglai, walaupun tidak mendapat ‘penglihatan’ apa pun, sebab cuma tidur-tiduran di kasur sambil bengong dan berpikir harus melakukan apa lagi selama masa karantina di rumah.

Anak indigo mungkin merasa lelah karena ada ‘pesan’ yang mereka dapatkan, tapi coba lihat mereka yang bukan indigo: badan sakit semua karena kelamaan rebahan dan nggak bisa hangout ke tempat-tempat seru di luar sana!

Baca juga: Kangen Pacar Mau Kencan, tapi ‘Physical Distancing’, Gimana?

Anak indigo istimewa karena, beberapa di antara mereka, bisa melihat apa yang akan terjadi. Tapi, tunggu dulu. Anak yang bukan indigo pun tak kalah istimewanya.

Maksud saya, kalau seorang indigo diberkahi kemampuan untuk meramalkan peristiwa selanjutnya dalam hidup, tentu itu bagus. Mungkin, ia akan berkenalan dengan orang baru, lantas mendapatkan firasat bahwa orang tersebut akan menyakiti hatinya. Dengan segera, ia bisa mundur teratur.

Tapi coba pikirkan, mana bisa hal itu dilakukan oleh anak yang bukan indigo? Seseorang mungkin bersikap manis dalam hidupnya, menjanjikan hubungan baik, padahal sebenarnya ia punya niat buruk. Tapi, karena anak yang bukan indigo memang sungguh-sungguh bukan indigo (dan sedikit naif), ia tak bakal curiga. Ujung-ujungnya, si anak bukan indigo pun berakhir galau dan meratapi sakit hatinya.

Baca juga: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Kemampuan anak indigo, bagi sebagian orang, memang terdengar tak masuk akal, meski Roy Kiyoshi sempat populer pada masanya lewat acara di TV yang kian mendengungkan kiprah indigo. Tak sedikit orang yang cenderung menganggap remeh ‘penglihatan’ anak indigo dan menyebutnya aneh. Anak indigo dan seluruh kemampuannya, dengan kata lain, sering dianggap angin lalu.

Tapi, tunggu dulu, keresahan itu bukan cuma milik anak indigo, kok. Nyatanya, anak-anak yang bukan indigo juga mengalami hal serupa.

Seorang kawan pernah menangis dan bercerita soal kekerasan fisik yang dilakukan oleh kekasihnya saat kami masih semester empat. Saya mendengar kisahnya yang diceritakan sambil terisak, lantas menyarankan satu hal yang benar-benar harus ia lakukan: putus hubungan – karena kalau tidak, ia hanya akan terus-terusan menjadi sasaran tinju si lelaki kurang ajar tadi.

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Tahu apa yang ia lakukan? Ia menggeleng kencang dan mereka balikan keesokan harinya, dengan alasan klise “aku masih sayang dia” dan “aku yakin dia akan-berubah”. Kekhawatiran saya hanyalah angin lalu baginya alias diabaikan – tepat seperti ramalan anak indigo di mata orang-orang semacam Dekisugi dan Shinichi Kudo.

Jadi, keistimewaan dan keresahan bukan hanya milik anak-anak indigo. Rakyat biasa yang bakatnya sejauh ini cuma rebahan dan stalking akun mantan juga punya nilai spesial dan problematikanya sendiri.

Yang terpenting, dari itu semua, semestinya kita menyadari satu hal: dalam keadaan genting begini, tak ada salahnya kalau kita saling menjaga dan memberi dukungan. Tak perlu menebar berita yang belum pasti, atau kita hanya akan berakhir ketakutan. Ingat, hal yang paling rumit sekalipun, tentu akan menemui jalan akhirnya.

Hingga saat itu tiba, semoga kita semua tetap kokoh bergandengan tangan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini