Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Ilustrasi (Sivia Azizah/Instagram @siviazizah)

Penggunaan jilbab adalah sebuah identitas yang memiliki berbagai pandangan serta tuntutan positif. Setelah tutorial jilbab atau hijab yang masif dengan kerumitan dan puluhan jarum pentulnya, kini muncul tren simpel dan warna-warna yang lembut.

Dengan penggambaran wajah yang teduh, tata rias lembut yang menyesuaikan pakaian, seolah menampakkan kesegaran air zam-zam di siang hari dan hati selembut sutra.

Tunggu dulu!

Lalu, bagaimana dengan tren jilbab hypebeast? Penggunaan jilbab merek ternama itu, jika diekspos dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki, harganya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jelas beda sama harga KW brand tujuh huruf yang dipakai sobat misquen.

Secara gaya juga berbeda. Jilbab hypebeast digambarkan lebih cool dengan baju kebesaran, celana kepanjangan, sneaker puluhan juta, hingga tas high-waist yang harganya… mendadak tabungan saya seperti buih-buih di atas lautan.

Berbeda dengan tahun 90-an. Saat itu, penggunaan jilbab belum memiliki banyak referensi model. Tapi, selanjutnya, mulai muncul gaya sporty, classic, casual, syar’i, yang semuanya tersedia menjadi satu dalam internet.

Yah, dalam konteks masyarakat kapitalis, kita tak lagi kesulitan mencari sesuatu yang diinginkan. Terlebih, mesin pencari bak kantong Doraemon yang mampu mengeluarkan tampilan model hingga harga jilbab yang kekinian (hype) di seantero dunia, tak peduli bumi bulat atau datar.

Namun, di sisi lain, anggapan pengguna jilbab yang ‘perempuan banget’ seketika runtuh. Bisa lihat di televisi, dimana perempuan berjilbab pandai bermain skate atau melakukan apapun yang selama ini identik dengan laki-laki. Bahkan, ada pula yang getol menuntut kesetaraan.

Baca juga: ‘Hypebeast’ yang Katanya Bikin Anak Muda Jadi Eksis

Kemudian, di media sosial, sudah menjadi bagian dari kehidupan kaum milenial bahwa selebgram – kalau di Instagram – menjadi ‘kiblat’ jilbabers atau hijabers Tanah Air. Gaya hidup, fashion style, tata rias, hingga bagaimana persepsi mereka terhadap sesuatu diikuti oleh banyak followers.

Saya sendiri ‘kiblat’ jilbabnya ke mana? Kondisional, sesuai kantong. Tidak mungkin hypebeast seperti Sivia Azizah yang setiap kali melihat fotonya hanya bisa menganga, mengeluarkan keringat dingin ketika ia unboxing kotak sepatu di Instagram story.

Ya Tuhaaaann… Harga sepatunya, terlebih ditambah tas, t-shirt, dan celananya, bisa buat bayar kos, makan, dan kuliah selama satu tahun bahkan lebih. Maklum, sobat misquen. Mana nih emoticon nangisnya?

Tanpa sadar, kapitalisme yang semakin pandai menyesuaikan diri telah berkolaborasi dan terkait erat dengan internet. Segala sesuatu yang menunjang wajah, tubuh, latar sebuah gambar, hingga men-tag nama online shop jilbab adalah sebuah strategi komodifikasi.

Vincent Mosco mengatakan bahwa komodifikasi adalah proses mengubah barang dan jasa, yang dinilai karena kegunaannya, menjadi komoditas yang dinilai karena memenuhi kebutuhan pasar.

Kemudian, kondisi itu melahirkan pemujaan terhadap jilbab. Bukan pada esensi, melainkan bagaimana kualitas atau model jilbab apa yang dipakai sang selebgram pujaan hati. Yang penting beli!

“Wihh bagus ya jilbabnya, ini coraknya jarang.”

“Eh, ini jilbabnya Mega Iskanti, pasti bagus deh.”

“Kayaknya bahannya enak ya, adem.”

“Beli ah, biar hype kayak Sivia.”

Ketika selesai memilih, keluar tagihan total belanjaan, lalu bergumam, “Ya ampun, beli jilbab aja abis jutaan. Gimana mau nabung?” Tapi, demi gaya dan eksistensi di hadapan khalayak, mau gimana lagi? Daripada kalah kece sama ukhti-ukhti yang lain.

Artikel populer: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Sementara, dari sisi penjual, mereka berbondong-bondong menjual beragam jilbab, baik yang bercorak maupun yang polos, dengan berbagai bahan yang dirasa sesuai selera pasar.

Para selebgram pujaan netizen Indonesia pun dipilih untuk mendongkrak penjualan ratusan bahkan ribuan jilbab. Bahkan, Awkarin ikut terjun ke dalam ruang komodifikasi ini.

Ia menjual jilbab yang merangkap sebagai modelnya. Dalam keseharian, apakah ia seorang pengguna jilbab? Kalian saja yang jawab, ya.

Dalam komodifikasi media, ada dua dimensi menurut Nicholas Graham. Pertama, produksi langsung dari produk media. Kedua, penggunaan periklanan media untuk mempercepat proses komodifikasi di seluruh aspek perekonomian.

Hal itulah yang sedang dialami umat pengguna jilbab, terutama yang aktif di media sosial. Jika Anda menyukai postingan dari online shop jilbab, secara sengaja media sosial tersebut akan memaparkan iklan jilbab setiap saat.

Karena itu, jangan heran lihat iklan melulu di media sosial, terlebih sebagian besar following Anda adalah online shop jilbab. Tamat sudah siklus kehidupan di dompet kalian… Tamaaaat.

Jilbab memang simbol ketaatan umat muslim, yakni sebagai pelindung aurat perempuan. Namun, kini menjadi prestise, dari tren menjadi bisnis yang menjanjikan. Apa penyebabnya?

Adanya media baru yang semakin mempermudah komodifikasi, sama seperti televisi dilihat dari rating. Bedanya, dalam media baru, khalayak memberikan komentar, like, kemudian menyebarluaskannya.

Bentar, bentar, kita kan konsumen?

Memang benar, kita adalah konsumen… dengan gaya hidup yang konsumeristik, materialistik bin hedonistik. Duh, identitas ternyata sudah begitu komersialnya, ya…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.