Ilustrasi perempuan (Photo by Carol Magalhaes on Unsplash)

Meme yang mempermasalahkan perempuan karena bagian tubuhnya menghitam seakan tidak ada habisnya. Seolah-olah kehidupan perempuan akan berakhir, jika ketiak, dengkul, bokong, selangkangan, atau vaginanya menghitam.

Tapi anehnya, tidak ada yang mempermasalahkan laki-laki yang penisnya mulai menghitam, misalnya, karena sering melakukan aktivitas seksual dan masturbasi? Atau, bagian tubuh lain yang menghitam karena sering tergesek pakaiannya sendiri?

Begitu juga dengan deretan produk yang berlomba-lomba mengklaim mampu memutihkan ketiak, dengkul, selangkangan, hingga vagina. Produk-produk tersebut juga tidak ada habisnya membuat perempuan merasa bersalah karena memiliki bagian tubuh yang menghitam.

Lantas, kenapa produk-produk tersebut tidak berlomba-lomba mengklaim mampu memutihkan penis, misalnya?

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Ya tentu beda antara orang Kaukasia dan Asia. Bagian tubuh orang Asia yang sering tergesek lebih mudah menghitam, karena terlahir dengan pigmen yang lebih banyak dari orang Kaukasia. Kamu kebanyakan nonton film porno sih, yang memang didominasi oleh orang-orang Kaukasia.

Kalau mau ikutan jahat, perempuan bisa saja mulai teriak menuntut lelaki memiliki penis putih atau pink. Tapi nggak ada tuh yang melakukannya. Tidak ada yang berusaha meyakinkan lelaki bahwa penis berwarna cerah adalah keindahan tubuh lelaki yang hakiki.

Kenapa tidak ada yang melakukannya? Karena permasalahan yang dihadapi perempuan terlalu banyak dan penting daripada memusingkan warna penis lelaki. Rasanya juga tidak ada tuntutan itu dalam agenda pergerakan perempuan.

Tapi memang, selain laki-laki, perempuan sering kali menjadi agen patriarki yang ikut menjual produk ‘kecantikan’ dengan iming-iming memutihkan bagian tubuh tertentu, serta membahayakan dirinya dengan bahan-bahan kosmetik tersebut.

Baca juga: Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Perempuan-perempuan itu adalah korban patriarki yang merasa bahwa untuk menjadi berdaya, harus mendapatkan pengakuan dan dihargai laki-laki. Karena itu, mereka terpaksa mengikuti standar yang ditetapkan dalam dunia patriarkal ini. Padahal, mereka tak perlu melakukannya.

Itulah mengapa terkadang penting sekali untuk menanggapi bentuk perundungan terhadap tubuh perempuan. Sebab, banyak dari kita yang merasa minder hanya karena memiliki tubuh apa adanya. Sudah terlalu lama kita dibuat merasa tidak berharga hanya karena bentuk tubuh yang notabene adalah ciptaan Tuhan.

Urusan ketiak menghitam saja bisa bikin kita tidak percaya diri, padahal potensi perempuan lebih besar daripada mikirin ketiak atau bahkan selangkangan yang menghitam.

Tapi memang sih, di balik masalah itu semua, patriarki ingin membuat kita terkecoh. Perempuan dibuat gagal fokus dari permasalahan yang sebenarnya.

Baca juga: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Patriarki ingin mengalihkan fokus perempuan dari persoalan-persoalan sistemik yang disebabkan oleh patriarki, seperti kekerasan terhadap perempuan, perlindungan terhadap pekerja rumah tangga, perkawinan usia anak, hak buruh perempuan, hingga tanah perempuan adat yang direnggut.

Selain itu, perundungan terhadap tubuh perempuan merupakan cara untuk mengontrol masyarakat kapitalis bin patriarkis. Cara ini juga dijadikan senjata untuk menjatuhkan perempuan yang berani bersuara di muka publik.

Dengan berkutat pada urusan ketiak hingga selangkangan yang menghitam ini membuat perempuan tak punya waktu untuk memikirkan perempuan lain yang benar-benar mengalami penindasan bertubi-tubi dan kekerasan berlapis. Kita jadi lupa untuk membangun kekuatan dan solidaritas perempuan.

Hal ini juga menunjukkan bagaimana kapitalisme memanfaatkan ketidakpercayaan diri dan inferioritas perempuan untuk mengambil keuntungan. Sudah ditindas, dimanfaatkan pula untuk membeli produk-produk pemutih sampai miskin. Aduh.

Artikel populer: Ngomong Penis dan Vagina Dianggap Tabu, Pendidikan Seks Dipikirnya Urusan Ranjang Melulu

Sudah saatnya kita menumbangkan suara-suara yang tidak ada habisnya mengganggu perempuan, dengan cara merebut narasi. Semakin kita memberi panggung kepada suara-suara misoginis, maka semakin getol mereka merundung tubuh perempuan.

Kita tidak perlu membalasnya dengan menuntut laki-laki memiliki penis putih atau warna cerah lainnya. Kita harus bisa mengembangkan diri dan menunjukkan pada dunia bahwa urusan selangkangan atau vagina yang menghitam tidak akan bisa mempengaruhi dan mengontrol perempuan.

Kita pun harus menunjukkan bahwa ada masalah perempuan yang lebih gawat daripada bagian tubuhnya yang menghitam. Permasalahan yang sudah sangat sistemik dan mengglobal, yang mana merenggut banyak nyawa perempuan. Bahkan, masih banyak aturan negara yang turut menindas perempuan.

Karena itu, sangat penting untuk membangun solidaritas, kalau perlu lintas negara. Dan, mulailah melihat kembali bagaimana relasi kita dengan orang lain, apapun profesinya. Ubah perilaku, jika memang dirasa tidak benar. Sebab banyak perempuan membutuhkan kita untuk sama-sama membangun dunia yang setara.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini