Dengarkanlah, Wahai Kaum Indie Snob, Telah Datang Peringatan yang Nyata Bagimu

Dengarkanlah, Wahai Kaum Indie Snob, Telah Datang Peringatan yang Nyata Bagimu

Ilustrasi (Image by mohamed Hassan from Pixabay)

Apa yang membuat para pengikut skena musik indie lebih baik daripada pendengar musik Armada dan Wali? Tidak ada.

Selera musik itu semestinya serupa iman. Jika itu baik bagimu, sepatutnya yakinilah sepenuh hati dan simpanlah sendiri. Tidak perlu kamu pamerkan, apalagi menggunakannya sebagai legitimasi untuk menjatuhkan penikmat genre musik lain. Sebagaimana yang telah disabdakan kepada kamu, “Bagimu headbang-mu dan bagiku joget koploku.”

Kepada kamu, kamu, dan kamu, orang-orang yang suka mempergunakan kultus skena untuk mencela saudara-saudaramu, maka sesungguhnya kamu termasuk golongan pedal hi-hat pada set drum double pedal musik death metal: ada, tapi sesungguhnya keberadaanmu tidaklah berguna.

Baca juga: Untuk ‘Moms’ yang Merasa Cemas dengan K-Pop

Ketahuilah, hai kaum indie snob, baik Feast atau Hindia atau Pamungkas, tidaklah bisa menyelamatkanmu kelak dari azab yang telah dipastikan kepadamu: di kuping kananmu adalah ampli rusak yang memainkan melodi gitar Herman Li dalam mode fast-forward dan rewind bergantian; kuping kirimu dijejali suara Andika Kangen Band menyanyikan Yolanda; dari hadapanmu intro Akad 10 jam yang diputar kembali ketika habis waktunya; dari belakang punggungmu suara Elda Suryani bernyanyi “Eee… Eaaa… Aaa… Aaaa…” hingga waktu yang kekal. Selama-lamanya.

Tidak ada satu musisi dari satu genre pun yang bisa menyelamatkanmu, apalagi Spotify premium hasil unduhan aplikasi MOD yang kamu pakai untuk mendengarkan lagu-lagu yang kamu kultuskan itu. Sungguh, kaum indie snob cum pengguna Apk MOD telah berada dalam kesesatan yang nyata!

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Maka bertobatlah kamu sekalian. Janganlah kamu teruskan kelakuan snobbery yang hanya menempatkanmu dalam kehinaan. Karena sesungguhnya, musik adalah bahasa kasih universal yang menyatukan seluruh makhluk yang mendengar di semesta raya ini.

Tidakkah kamu melihat, bagaimana Didi Kempot telah menyentuh jiwa-jiwa yang ambyar, jiwa-jiwa yang lara ati? Bagaimana pemuda dan pemudi dalam iman mereka terhadap musik folk indie, hip-hop, new wave, punk, metal, menyerahkan dirinya dengan sukarela dan berikrar setia sebagai kembang tebu-kembang tebu sing kabur kanginan dalam kasih lirik-liriknya?

Tidakkah kamu melihat bagaimana Didi Kempot telah menjadikan musiknya sebagai sambatan lil ‘alamin dan mengajak kembang tebu-kembang tebunya berjoget dalam suka cita melupakan rasa kelangan dan nelangsa?

Baca juga: Teritori Patah Hati dan Lord Didi ‘The Godfather of Broken Heart’

Adakah mereka kemudian menjadi snob seperti kamu menjadi kaum snob yang gemar mengolok-olok mereka yang tidak satu selera denganmu? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kamu sekalian telah mengetahuinya, namun hatimu yang degil dan penuh dengan snobbery itu telah ingkar! Sebab, hakikat musik adalah merayakan cinta, menyatukan manusia dalam irama yang sepatutnya menjadi sukacita bersama. Karena itulah, sesungguhnya tujuan musik diciptakan di dunia ini.

Dan janganlah kamu, hai kaum indie snob, bermegah-megah dalam skenamu. Sebab, di dalam kemegahanmu itu sesungguhnya terkandung dusta dan nista. Tidakkah kamu ingat akan Noel Gallagher, sang ‘nabi’ bagi mereka pengiman Brit-Pop, juga bagi sebagian kamu yang pernah mengkultuskan Oasis seyogyanya imanmu kepada pergaulan anak Jaksel sebelum demam karaoke Reza Artamevia merebak?

Noel pernah bersabda, “Musicians are fucking idiots!” Maka, bagaimana bisa kalian para snob mendendangkan “Don’t Look Back In Anger”, sementara di saat yang sama mengkultuskan musisi-musisi di skena kalian dan mencela musisi-musisi lain di luar itu serta para pengikut mereka? Bagaimana bisa kalian mengimani sebagian dan mendustakan sebagian yang lain dari idola kalian?

Artikel populer: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Bagi kamu-kamu sekalian, yang tidak tahu siapa itu Feast, Hindia, Pamungkas, Baskoro, Simanjuntak, atau kalian yang hanya tahu lagu-lagu Panbers atau Broery Marantika yang kerap dinyanyikan opa-opa di rumah makan Padang, janganlah timbul kerisauan dan gundah gulana di hati kalian. Sebab, kalian tidaklah sendirian.

Ketahuilah, sesungguhnya di antara pengiman skena indie masih banyak orang-orang yang suci imannya, yang tidak menjadikan skena sebagai legitimasi untuk merisak orang-orang yang berbeda selera dengannya.

Sebab, kaum snob itu hanyalah segolongan kecil orang-orang yang degil hatinya. Dan, tidaklah mereka akan beroleh karunia, kecuali jika mereka mendengarkan lagu-lagu Orkes PMR dan merayakannya dengan penuh sukacita!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.