Ilustrasi perempuan. (Image by Engin Akyurt from Pixabay)

“Halah, si mbaknya itu pansos doang kok. Kalau nggak pansos, ngapain juga kejadian 3 tahun lalu baru diceritain?”

“Salah sendiri mbaknya mau dipeluk-peluk makae kena grepe-grepe.”

“Makanya mbak, kalau pake baju jangan terlalu hot biar nggak jadi sasaran sexual harassment.”

Ada banyak lagi kalimat serupa yang intinya sama ketika membaca kericuhan di media sosial mengenai kekerasan seksual yang dilakukan oleh public figure. Bahkan, ada mbak selebritis yang bilang bahwa mungkin saja si perempuan yang minta dilecehkan, karena pelaku adalah orang baik, ramah, dan pintar.

Ada-ada saja.

Mana ada sih perempuan yang mau dilecehkan? Lagi pula, apakah orang yang selama ini dianggap baik, ramah, dan pintar tidak mungkin melakukan pelecehan seksual? Apakah pelaku pastilah orang yang tampak bodoh, urakan, songong, dan tidak ‘berpendidikan’?

Baca juga: Cowok Baik-baik dalam Rape Culture

Harvey Weinstein, kurang pintar apa dia? Seorang produser terkenal yang berperan besar melahirkan film-film keren, seperti Pulp Fiction, Shakespeare in Love, dan lain-lain. Ia sampai mendirikan perusahaan entertainment bernama Miramax, yang merupakan akronim dari Miriam dan Max, nama orangtuanya. Sudah pintar, berbakti kepada orang tua pula.

Tapi nyatanya, sejumlah artis perempuan Hollywood speak up tentang kekerasan seksual yang dilakukan oleh Harvey Weinstein selama bertahun-tahun. Mereka yang menjadi korban di antaranya Madonna, Gwyneth Paltrow, Angelina Jolie, Rose McGowan, Cate Blanchett, Salma Hayek, dan masih banyak lagi. Apa iya mereka butuh pansos?

Mbak tadi yang bilang bahwa mungkin saja si perempuan yang minta dilecehkan, dan nitijen-nitijen yang komen mendukung pelaku sebaiknya sebelum ngebacot nikmir-nikmir dulu. Eh, mikir-mikir dulu.

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Bikin ‘Thread’ tentang Pengalaman Kekerasan Seksual

Kamu-kamu yang juga masih berkutat mempersoalkan baju perempuan atau penampilan yang katanya terlalu hot, sehingga bisa menggoda imanmu, yaelah itu iman tipis amat kek triplek. Memangnya ada pakaian yang bisa menghindarkan perempuan dari tindakan kekerasan seksual?

Seperti yang ditulis oleh seorang penyair, Weslly Johannes: “Adakah baju perempuan yang sanggup menutupi pikiran kotor laki-laki?”

Belum lama viral video laki-laki yang melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan yang sedang sholat. Di tempat ibadah, pakai mukena pula. Apakah masih ada yang malah menyalahkan perempuan? Oh, ada!

Gini deh, ini penting juga. Ibarat baca berita, jangan cuma baca judulnya. Kalau ada kasus kekerasan seksual, dengarkan dulu korban. Tidak menghakimi dan menyalahkan korban, apalagi terang-terangan membela pelaku. Memangnya kamu jadi buzzer pelaku kekerasan seksual?

Baca juga: Bangga Pernah Tidur dengan Banyak Perempuan?

Speak up memang butuh keberanian dan ketetapan hati. Apalagi, menghadapi masyarakat kita yang kerap victim blaming dalam kasus kekerasan seksual. Para penyintas justru sering kali dipermalukan oleh masyarakat saat berani speak up.

Makanya jangan heran, apalagi pakai nyinyir, kalau ada korban yang baru berani bersuara atas kejadian tiga tahun lalu. Tentunya ada perasaan malu, takut, atau trauma ketika mencoba bersuara pada awal-awal setelah kejadian. Itu karena selama ini kita gagal melindungi korban. Beban pembuktian selalu diletakkan pada pihak korban, semestinya ke pelaku.

Bahayanya lagi, media massa juga tidak adil kepada korban kekerasan seksual, terutama jika pelaku adalah artis, pejabat, ataupun influencer. Bukannya fokus pada kasusnya, tapi malah mengajak publik untuk melihat OOTD si pelaku. Atau, mengintip gaya ‘ganteng’ si pelaku.

Media massa juga sering bikin judul yang mengutak-atik kata “perkosa” dengan menggunakan kata lain yang kesannya jadi halus ke pelaku. Misalnya penggunaan kata “gagahi”, “setubuhi”, atau “rudapaksa”.

Timpang banget, kan?

Artikel populer: Selain Sekolah Hukum, Drama Law School adalah Sekolah Pendidikan Seksual

Seolah-olah para korban adalah perempuan-perempuan clumsy, dan karena dianggap ‘ceroboh’ itulah akhirnya mereka menjadi korban. Sedangkan pelaku justru dikulik sisi ‘baik’-nya, ‘ganteng’-nya, atau ‘pintar’-nya. Padahal, kelakuannya menyakiti orang lain. Maka, berdirilah di sisi korban. Tak peduli seberapa ‘gokil’ prestasi atau pencapaian si pelaku. Anak pejabat atau bukan.

Justru, mereka yang mendapat banyak privilese sangat mungkin menjadi pelaku, karena kekerasan seksual juga berangkat dari kekuasaan yang timpang.

Bayangkan, sudah memiliki kuasa, lalu dibela pula tindakannya oleh orang-orang. Oke fix, buzzer pelaku kekerasan seksual. Ini makin melestarikan ‘budaya memerkosa’ atau rape culture dalam masyarakat kita.

Itu juga yang menjadi penghambat utama pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Sebab anggota DPR katanya wakil rakyat, kan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini