Ilustrasi kehidupan. (Image by Avi Chomotovski from Pixabay)

“Tingkatkan terus kualitasmu!”

“Kalau kamu yakin bisa, kamu pasti bisa!”

“Berpikirlah positif setiap hari!”

Kalimat-kalimat motivasi seperti itu tentu sering kita dengar, hampir setiap waktu. Siapa lagi kalau bukan dari para motivator? Mereka kerap hadir di televisi, seminar-seminar, acara perusahaan, dan belakangan marak di media sosial seperti Youtube.

Lantas, apakah salah memotivasi orang untuk lebih baik? Tentu tidak, bahkan harus! Tapi di sisi lain, kita juga semestinya kritis dalam melihat fenomena menjamurnya motivator dengan berbagai kalimat motivasinya ini.

Memang, banyak orang yang menjadi semangat setelah mendengar perkataan mereka, tapi sejauh mana konkretnya dalam kehidupan sehari-hari? Artinya, cuma semangat-semangat saja.

Lalu, apa yang bisa kita kritisi?

Pertama, sadarkah bahwa para motivator selalu mengajarkan bahwa rumus dari segala sesuatu adalah pola pikir? Jika mau sukses, harus berpikir bahwa kita akan sukses. Sebaliknya, jika gagal, berarti pola pikir kita yang senantiasa mengarah pada kegagalan. Tapi, apakah benar bahwa hidup sesederhana pola pikir?

Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang yang selalu berpikir positif sampai mentok, tapi hidupnya gitu-gitu saja? Apakah kamu salah satunya? Sebaliknya, bagaimana dengan orang-orang yang sukses karena orangtuanya sukses duluan?

Baca juga: Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

Kenyataannya, ada masalah yang lebih dari sekadar pola pikir. Misalnya, masalah struktural. Orang sulit untuk menggapai kesuksesan, karena pendidikannya rendah. Mengapa pendidikannya rendah? Bukan berarti tidak mau sekolah, karena bisa saja ia tidak memiliki akses ke pendidikan yang lebih tinggi.

Contoh lain, orang sudah puluhan kali ikut seminar motivasi tentang kewirausahaan, namun selalu gagal karena ternyata menjadi wirausahawan yang sukses juga harus punya koneksi yang bagus. Terlebih, koneksi ke lingkar kekuasaan.

Masalah berikutnya adalah retorika yang lebih mengarah pada aspek psikologis daripada logis. Kalau seorang motivator mengatakan bahwa kita harus berpikir positif atau mengisi hidup secara berkualitas, apakah pernyataan itu cukup jelas? Berpikir positif yang bagaimana?

Misalnya, kita diberi banyak pekerjaan hingga melampaui job des di kontrak, apa iya mesti berpikir positif bahwa itu adalah bentuk kepercayaan bos terhadap kita?

Kemudian, mengisi hidup secara berkualitas. Itu juga tidak cukup jelas. Apakah dengan membaca buku-buku motivasi, self-help, atau filsafat? Tidak ada metode yang jelas, karena mungkin tujuannya untuk memberi sugesti saja.

Baca juga: Benarkah Sekularisme Berkaitan dengan Kemajuan Berpikir?

Masalah lainnya adalah ilusi kesuksesan yang diarahkan pada kepentingan tertentu. Kata siapa kesuksesan adalah soal pencapaian target penjualan? Kata siapa kekayaan adalah perkara harta material yang bertumpuk-tumpuk? Kata siapa kebahagiaan adalah memenangkan persaingan sehingga menjadi yang terbaik di antara manusia lainnya?

Motivator sering kali menyampaikan prinsip-prinsip semacam itu, yang bisa saja bertentangan dengan definisi kesuksesan, kekayaan, dan kebahagiaan menurut kita masing-masing. Yang lebih membahayakan, kita bahkan menjadi tidak tahu apa sebenarnya yang kita inginkan, karena kerap terpaku dengan doktrin para motivator.

Hidup dengan Demotivasi

Sekarang, coba ketik kata kunci “demotivasi” di mesin pencari. Apa yang muncul? Rata-rata yang keluar adalah artikel tentang bagaimana mengatasi demotivasi. Artinya, demotivasi dianggap sebagai sesuatu yang negatif, berbahaya, dan harus disembuhkan.

Yah, tidak salah-salah amat pendapat semacam itu. Tapi, mari kita balik keadaannya. Bagaimana jika motivasi, sebagaimana yang diajarkan oleh para motivator, adalah konsepsi yang menjerumuskan sehingga kita memerlukan demotivasi sebagai penawarnya?

Baca juga: Nggak Apa-apa Alay, yang Penting Kayak Filsuf

Jika mau menengok sejenak beberapa ajaran ataupun pemikiran klasik, kita akan menemukan pemikiran tentang bagaimana bersikap kritis, realistis, bahkan kurang antusias terhadap hidup. Dengan kata lain, hidup boleh saja disikapi dengan santai, minim ekspektasi, dan jauh dari rancangan yang berlebihan tentang masa depan.

Stoisisme, misalnya, aliran pemikiran yang dianut oleh sejumlah pemikir dari masa Yunani Kuno hingga Romawi ini mengajarkan bagaimana menjalani hidup tanpa harus memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Seorang stoik atau penganut stoisisme harus selalu berada dalam ketenangan yang berpusat dari pikiran, sehingga tidak mudah gelisah oleh berbagai perubahan.

Ajaran agama tertentu juga mengarah pada konsepsi yang kurang lebih mirip. Buddhisme, misalnya, mengajarkan bagaimana menekan kehendak. Mengapa? Karena kehendak itulah sumber derita, yang membuat orang senantiasa terikat pada keinginan-keinginan sementara terhadap dunia.

Dalam Islam pun, ada ayat yang menyebutkan bahwa kehidupan dunia tak lain adalah permainan dan senda gurau. Jadi, santuy aja juga perlu. Tak mesti ambisius melulu.

Demotivasi bukanlah sesuatu yang murni buruk. Jangan-jangan, demotivasi dicap buruk karena bertentangan dengan wacana-wacana kesuksesan, kekayaan, dan kebahagiaan yang diagung-agungkan oleh para motivator.

Artikel populer: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Lantas, apakah demotivasi kemudian menjadi identik dengan malas-malasan? Sepanjang hari cuma rebahan? Tentu tidak perlu secara ekstrem diterjemahkan seperti itu. Jika harus bekerja, teruslah bekerja, tapi tidak perlu motivasi berlebihan.

Jika dikerucutkan dan sebagai renungan, apa sih sebetulnya arti hidup ini selain hanya mencari dua hal: gairah dan ketenangan batin? Orang mencari itu di mana-mana, dan motivator menunjukkannya lewat doktrin yang terkadang sangat sempit mengenai definisi kesuksesan, kekayaan, dan kebahagiaan.

Kita boleh dan sah-sah saja mencari gairah dan ketenangan batin melalui versi kita masing-masing, dengan definisi yang sangat personal. Demotivasi membuka peluang untuk menafsirkan segala bentuk kegagalan dan kehancuran sebagai sesuatu yang bisa jadi bermakna. Sementara, motivasi secara terus menerus malah bisa berujung depresi.

Tak ada salahnya hidup demotivasional di tengah dunia yang cenderung merasa sok pasti, padahal demikian rapuh dan bisa hancur kapan saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini