Ilustrasi (Photo by Jakob Owens on Unsplash)

Entah siapa yang mengawali tren ini, tapi setiap kali membuka media sosial akrab kita temukan unggahan terkait dekorasi kamar yang ((konon)) aesthetique tiada tanding. Konten sejenis seringnya dibubuhi strategi menyulap kamar yang semula sempit bin sumpek, menjadi elegan nan indah – tentu dengan ‘jaminan’ harga murah.

Pernak-pernik disuguhkan di sana-sini, dari koran yang ditempel di permukaan dinding kamar kosan hingga pelbagai printilan yang menambah kesan elegan. Pokoknya, sejenis siasat untuk mewujudkan hasrat mengirim meme “Iri bilang, Bos” pada tiap-tiap insan yang mencuri pandang sembari mengernyitkan dahi.

Boleh jadi itu efek turunan setelah beberapa bulan digencarkannya praktik work from home, orang-orang ingin membangun singgasana dan tempat kerja yang bukan sekadar nyaman, tetapi juga ramah untuk dipamerkan di Instagram.

Wajar dong, ya? Chairil Anwar yang dikenal sebagai seniman parlente dengan pola hidup semrawut saja pernah kedapatan sambat di puisinya, bahwa kamar 3×4, mana cukup untuk meniup nyawa! Apalagi, kita yang hidup dikelilingi aturan dan pengawasan dari mata netizen dan negara tetangga.

Baca juga: Maunya Tetangga Kayak di Drakor Reply 1988, Nyatanya Tetangga Masa Gitu?

Tetapi, bukan tidak mungkin praktik itu juga hasil endapan dari ambisi memiliki hunian yang – ya, harus dikatakan sejujur-jujurnya, sehormat-hormatnya – semakin hari tak lebih berani nongol di mimpi belaka.

Triknya, kamar kontrakan yang sempit, renik, dan kumuh harus disiasati untuk diubah menjadi – minimal – layak huni dan photojenic. Sebab, nyicil atau beli rumah itu tak lain sebatas agenda mencatat list yang diulang-ulang tiap awal tahun, tapi urung terwujud, dalam lipatan kertas bernama resolusi.

Saya benci acap kali menulis kalimat seperti di atas, tapi itu fakta yang terhampar di lapangan. Seorang teman bahkan cukup membendung hasrat kepemilikan hunian itu dengan melankolia semasa remaja. “Punya rumah buat generasi kita cuma mungkin terwujud dalam game The Sims,” katanya. “Atau, dalam puisi-puisi setengah jadi gubahan naque indie, yang sering bilang bahwa rumah adalah bla… bla… bla…”

Baca juga: Dengarkanlah, Wahai Kaum Indie Snob, Telah Datang Peringatan yang Nyata Bagimu

Negara, pihak yang paling bertanggungjawab dalam perkara menunjang ketersediaan tempat berteduh para warganya, baru-baru ini memberi stempel ‘sah’ pada Peraturan Pemerintah (PP) No 25 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat. Mantap betul, ya?

Katanya, Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) adalah penyimpanan yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu yang hanya dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan perumahan dan/atau dikembalikan berikut hasil pemupukannya setelah kepesertaan berakhir.

Skemanya hampir serupa seperti iuran yang dikelola negara pada umumnya. Setiap masa gajian tiba, kita wajib menyisihkan sejumlah dana. Dalam konteks Tapera, nominal yang dibebankan adalah sebesar 3%. Dengan ketentuan 0,5% dari perusahaan dan 2,5% dari kantong kita.

Jumlah yang sama laiknya santunan khusus kepada anak yatim.

Regulasi ini sedikit problematis. Misalnya, karena ia rawan penyalahgunaan, sebagaimana kewaspadaan naluriah kita sebab pengelolaan dana publik lebih sering berujung carut-marut ketimbang lancar-jaya. Lalu, peserta menyasar seluruh kelompok pekerja – dengan catatan berusia minimal 20 tahun atau sudah menikah – dan lain-lain.

Kewaspadaan itu masih bisa kita gali, lebih dalam lagi.

Baca juga: Rencana Menikah dan Beli Rumah Hingga Batas Waktu yang Belum Ditentukan

Tetapi, yang cukup genting dan tak boleh kita kesampingkan adalah bertambahnya beban iuran bulanan yang bisa-bisa melilit jatah buat ‘ngofey’ yang makin terjepit.

Bayangkan deh, di pagi yang cerah pada awal bulan, kamu menerima slip gaji dengan hiasan sebagai berikut: potongan PPh 21, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan (TK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), plus iuran Tapera.

Semakin hari, daftar potongan di slip gaji makin sulit dibedakan dengan daftar kesalahan kita di mata pacar. Atau, jangan-jangan di hari-hari mendatang, jumlah pendapatan dan potongan akan berimbang alias ‘ini kita kerja sebulan cuma nerima kertas doang nih’.

Padahal, menyisihkan dana buat ngopi-ngopi cantik itu perlu, lho. Selain bisa me-recharge pikiran dan tenaga, bukan tidak mungkin ia turut melanjutkan gerak roda perekonomian, bagus-bagus kalau kopinya beli dari petani lokal.

Artikel populer: Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Persetan lah buat orang-orang yang bilang itu cuma menghamburkan uang. Setelah sebulan waktu dan tenaga dikuras, mau menyegarkan tenggorokan barang satu seruput saja dinyinyirin.

Huft… kelompok nyinyir ini paling-paling sejenis sama mereka yang merisak aksi buruh demo pake ninja, atau turut baku hantam kala ada insan ngetwit perkara hak buruh karena ada keterangan “Tweet for I-Phone”.

Dah, ah, waktunya tempelin poster Dian Sastro di kamar, biar lebih aesthetiqueee

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini