NKCTHI (Instagram @filmnkcthi)

Sebenarnya, diangkatnya buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) ke layar lebar adalah praktik aji mumpung. Berhubung bukunya laku keras, Visinema Pictures berani mengalihwahanakannya menjadi film. Dengan harapan, filmnya bisa selaris manis bukunya. Pada saat bersamaan, #PoemPM alias buku kumpulan puisinya Putri Marino mendapat kritikan warganet, karena sajak-sajaknya dinilai kurang puitis. Kebetulan keduanya berangkat dari semangat yang sama: aji mumpung.

Mumpung Putri Marino sedang tenar-tenarnya dan kebetulan rajin mengunggah kutipan di Instagram melalui second account miliknya, sebuah penerbit tertarik untuk membukukan karya bintang film Posesif tersebut. Namun, para sajak snob yang posesif dengan standar sastranya sendiri memilih untuk mengkritiknya.

Bukan tak mungkin kumpulan puisi Putri Marino juga bakalan diadaptasi ke film. Nanti dialog filmnya dipenuhi dengan kutipan dari #PoemPM:

“Misiii pakeeet! Kok sepi sih? Nggak ada orang ya?” seru kurir.

“…kau tidak sendirian, kau punya dirimu… kau punya aku…” jawab Putri Marino.

“Ya udah, saya pamit ya, Bu. Makasih,” ucap kurir setelah mengantar pesanan.

“Terima kasih sudah pergi… semestaku bahagia sekarang…” sahut Putri Marino.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Isu aji mumpung sendiri sempat disinggung di film NKCTHI. Tepatnya, pada adegan Awan yang kembali ke tempat kerja yang sempat memecatnya. Berkat bantuan koneksi ayahnya, Awan dapat kerjaan lagi. Mumpung ayahnya masih punya kekuasaan di perusahaan, Awan dianugerahi privilese sebagai anak kesayangan papa. Namun, sebagai milenial, Awan menolak praktik KKN tersebut. (Bagus. Budaya Orde Baru jangan dikasih tempat di masa kini, Wan!)

Walaupun diangkat dari buku kumpulan kutipan, NKCTHI tetap ada ceritanya. Kutipan-kutipan dari bukunya ditempelkan ke dialog-dialog para tokohnya.

Filmnya bercerita tentang sebuah keluarga dengan masing-masing anggota punya masalahnya sendiri. Sekilas mengingatkan saya dengan film anak berjudul Wonder yang memakai sudut pandang si sulung dan si bungsu. Bedanya, keluarga Narendra dan Ajeng di NKCTHI punya tiga orang anak: Angkasa, Aurora, dan Awan. Semuanya berawalan ‘A’ dan bernuansa langit. Mungkin dulu sewaktu hamil si ibu nuju bulannya bukan rujakan, tapi jadi astronaut.

Baca juga: Seumpama Keluarga Kerajaan Inggris Nonton Film NKCTHI

Sebagai anak pertama, sejak kecil Angkasa dituntut untuk menjaga adik-adiknya. Jika terjadi apa-apa dengan sang adik, Angkasa yang bakalan disalahkan oleh ayahnya. Jujur, sewaktu adegan itu, saya yang anak pertama ini nangis saat menyaksikannya. Wqwq.

Sementara, Aurora si anak kedua kerap diabaikan karena semua anggota keluarganya fokus memperhatikan si bungsu kesayangan. Nah, Awan si anak urutan buncit itu sendiri sebenarnya tidak nyaman-nyaman amat dengan perlakukan kakak dan kedua orangtuanya.

Kepada Kale yang jadi gebetannya, Awan curhat kalau sejak dulu dirinya tidak bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Sebab, semua keputusannya ditentukan oleh keluarganya.

Dengan formula kompleksitas persaudaraan tersebut, konflik di filmnya bisa mengena ke hati banyak penonton. Anak tunggal nan semata wayang pun bakalan mengerti bagaimana rasanya punya saudara kandung.

Anak pertama bakalan berempati dengan Angkasa yang bebannya terlalu berat karena tenaga dan waktunya banyak tersita untuk keluarga. Anak kedua bakalan diingatkan oleh betapa kesepiannya Aurora berkompromi dengan pengabaian orang tua. Sementara anak terakhir bakalan disadarkan oleh konflik asmara Awan. Bahwa selama ini dirinya sulit untuk menjadi mandiri karena selalu dianggap anak kecil.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Bahkan hubungan percintaan Awan dan Kale pun mendapatkan sorotan serius dari sang ayah. Awan seolah tidak mendapat izin untuk menentukan sendiri hatinya diberikan kepada siapa. Di mata sang ayah, Awan adalah anak bungsu yang tidak pernah cukup dewasa untuk mengenal cinta lawan jenis.

Padahal, Awan adalah bungsu yang membanggakan. Awan mampu menyikapi perasaannya dengan serius. Ia juga bisa membela kakaknya yang dimarahi sang ayah atas kesalahan yang tidak diperbuatnya.

Awan yang diperankan Rachel Amanda dipertemukan dengan Kale yang dimainkan dengan santuy oleh Ardhito Pramono. Keduanya terlibat dalam hubungan yang romantis.

Kale sempat mengingatkan perihal keutamaan sabar dengan menuliskan kutipan dari buku NKCTHI ke gips tangan yang dipakai Awan: “Sabar, satu persatu.”

Awan yang diperlakukan dengan manis seperti itu tentu saja baper. Kecuali kalau Keanu, selebgram yang suka ngegas itu, diingatkan untuk sabar oleh Ardhito Pramono, pasti bakalan sewot, “Heh! Sabar, sabar! Nggak ada gue sabar! Lo kata gampang sabar ngadepin orang kayak lo? Emosi, emosi gue, ngapa lo yang ngatur-ngatur, hah?”

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Ketika jatuh cinta kepada Kale, Awan bisa mengambil langkah yang efektif dan penuh inisiatif. Sudah diajak jalan ke mana-mana tapi tak kunjung jadian, Awan pun berani menanyakan kepada Kale, “Jadi, sebenarnya kita ini apa sih?”

Hak setiap manusia untuk meminta kejelasan status hubungan. Mau dibawa ke mana hubungan yang sedang dijalani?

Kale mengaku menghindari komitmen karena trauma atas kegagalan di hubungan sebelumnya. Tidak ada yang salah dengan keputusan Kale. Namun, pertanyaan Awan itu penting dan harus dijawab dengan saksama oleh Kale. Jawabannya, Kale hanya ingin bersenang-senang. Kemungkinan Kale berniat FWB-an dengan Awan: teman tapi mesra.

Hasilnya, Awan menolak berhubungan dengan Kale jika itu bukan berformat relasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukti bahwa si bontot itu bisa menjaga hati dan melindungi dirinya dari kemungkinan pedihnya baper sendiri.

Kalau kamu?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini