Ilustrasi penyebaran informasi. (Photo by Andrea Piacquadio from Pexels)

Drama itu berlalu seperti biasanya. Setelah Deddy Corbuzier dan Jerinx, lalu Anji. Dua nama pertama percaya ada sebuah konspirasi besar di balik pandemi Covid-19. Sementara, Anji menyuguhkan konten tentang klaim penemuan obat Covid-19. Sebelumnya, ia sempat menyinggung profesi fotografer dan terpaksa meminta maaf.

Maksud hati mungkin baik, yakni mengutarakan gagasan kritis terhadap fenomena terkini. Namun, alih-alih kritis, pemikiran mereka justru dianggap kontraproduktif, bahkan cenderung berbahaya.

Ada beberapa kesamaan antara Deddy, Jerinx, dan Anji. Pertama dan paling mencolok adalah menyepelekan apa yang jelas-jelas berbahaya dan mematikan, kemudian menggaungkan itu ke jutaan pengikutnya.

Kesamaan kedua, posisi mereka sebagai pekerja di industri hiburan. Status mereka sebagai penghibur merupakan salah satu profesi yang paling terdampak pandemi Covid-19. Ampere, lembaga riset pasar, memperkirakan pertumbuhan industri hiburan secara global akan terpangkas US$ 160 miliar hingga lima tahun ke depan.

Kesamaan terakhir, mereka – tersirat maupun tersurat – menyoal tentang legitimasi media massa dalam menyampaikan berita. Dalam unggahan di Instagram yang telah dihapus itu, Anji berkata, “Saya percaya Covid-19 itu nyata, tapi tidak semengerikan apa yang diberitakan media. Memang saat ini, hal itu yang saya rasakan. Bahaya media.”

Di Twitter, hal serupa ia kemukakan ke banyak orang yang mengomentarinya. Ia berkeras bahwa yang ia kritik dan takutkan adalah kerja media yang terlalu berlebihan dalam memberitakan ihwal dan perkembangan Covid-19.

Baca juga: Tipe Postingan Netizen yang Lagi Hype di Masa New Normal

Anji, berkat statusnya sebagai idola, adalah amplifikasi ketidakpercayaan terhadap media. Seperti yang telah disampaikan oleh banyak ahli, ini merupakan salah satu gejala mengkhawatirkan masyarakat post-truth. Kejenuhan terhadap media telah melahirkan sumber-sumber informasi nirkredibilitas, yang melayani bias kognitif individu.

***

Ada pernyataan menarik dari Orhan Pamuk, peraih Nobel Sastra asal Turki, ihwal pandemi dan kemanusiaan. Kebetulan, Pamuk sedang dalam proses merampungkan novel bertema utama wabah penyakit. Dalam karya-karya terdahulu, ia pun kerap menyinggung soal pandemi. Lewat esai yang tayang di New York Times, ia menulis:

Humanity’s other universal and seemingly unprompted response to pandemics has always been to create rumors and spread false information. During past pandemics, rumors were mainly fueled by misinformation and the impossibility of seeing the fuller picture.”

Pamuk juga menemukan bahwa sepanjang sejarah, manusia kerap menyalahkan yang asing sebagai pembawa bencana, seolah menggaungkan peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat”. Mereka mencari ‘kambing hitam’, walaupun tak memiliki bukti. Ditambah, faktor belum majunya ilmu kedokteran masa itu, manusia kehilangan daya lenting – yang juga dialami oleh para pemangku kuasa.

Dalam esai itu, Pamuk mengingatkan kita untuk mengungguli peradaban-peradaban silam, berkat kemewahan yang tidak mereka miliki: kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi.

Baca juga: Perang Melawan Virus, Sejarawan Israel Yuval Noah Ada Benarnya

Bayangkan bila pandemi ini terjadi tiga puluh tahun lampau, ketika belum ada internet. Kita akan terpaku pada radio dan televisi yang persebaran informasinya terbatas. Pamuk berharap kita tak mengulangi kesalahan manusia di peradaban yang telah lalu. Kita telah diberkahi internet dan keterbukaan informasi. Penderitaan pasien Covid-19 dan tenaga medis dapat kita simak kapan dan di mana saja.

Namun, media sosial dan perkembangan teknologi informasi telah menciptakan ratusan sumber informasi baru yang bisa menyesatkan. Berkat sifatnya yang luwes dan tak membutuhkan gatekeeper, gaya, kemasan, dan persona seseorang bisa menjadikan mereka opinion leader yang dapat pula mendatangkan cuan.

Sementara, harapan sebatas tertulis, sulit betul terlaksana di kehidupan nyata. Faktanya, tenaga medis dan para ahli epidemi di berbagai negara kewalahan menghadapi serbuan kabar tak jelas terkait Covid-19. Sementara, kita belum lupa bagaimana ekspresi kekecewaan para tenaga medis dan kesehatan yang mereka luapkan melalui tagar #IndonesiaTerserah.

Jurnalis kawakan, Zen Rahmat Sugito, mengkritisi pandangan Anji. Lewat cuitan di Twitter, ia berkomentar, “Media di Indonesia melebih-lebihkan gambaran bahaya Covid? Nggak sama sekali. Untuk “mendidik” soal kegentingan dan kedaruratan, dosisnya malah kurang, kok. Belum seberapa dibanding reportase2 media luar soal situasi ICU saat pandemi, misalnya.”

Komentar tersebut sulit didebat, mengingat jumlah korban Covid-19 tak menunjukkan gejala penurunan. Pasca Idul Fitri 2020, masyarakat kita semakin abai dengan pandemi. Bahkan, per 27 Juli 2020, jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia telah melampaui 100 ribu jiwa.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

***

Saya agak kesulitan mencari arti kata dalam Bahasa Indonesia untuk “ignorance”. Laman Dictionary.com menerangkan arti kata tersebut sebagai: (noun) The state or fact of being ignorant; lack of knowledge, learning, information, etc. Mulanya, saya pikir kata “naif” atau “lugu” bisa menjadi padanan, namun rasanya kurang pas. Bahkan, saya sempat mengira kata tersebut bersinonim dengan “stupidity” atau “kebodohan”.

Di era saat ini, kekurangtahuan seseorang perlu juga diukur dari cara mereka memilah informasi yang benar dari internet atau grup chat. Praktik fact-checking yang sejatinya telah banyak disediakan oleh media-media di Indonesia sebaiknya disosialisasikan ke lingkup terkecil seperti RT. Untuk perkara istilah bahasa, sebaiknya kita serahkan kepada para munsyi seperti Eko Endarmoko atau Ivan Lanin.

Menyimak tingkah tiga seleb tadi, rasa-rasanya kata “ignorant” tidak tepat untuk mereka. Ketiganya adalah bagian dari Generasi X, kelompok pertama penyicip teknologi internet.

Dan, melihat cara mereka mengkapitalisasi skill (bernyanyi, memandu acara, juga ehm, ‘cangkeman’) di media sosial, mereka tentu punya keberlimpahan waktu dan harta untuk mengunyah informasi dari sumber-sumber kompeten. Bukankah Anji dan Deddy Corbuzier mencitrakan diri mereka sebagai influencer dengan konten-konten ‘kritis’ dan ‘cerdas’?

Artikel populer: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Kedalaman hati seseorang, kita tahu, takkan bisa diukur. Begitu pula intensi awal Anji cs dalam membuat konten-konten kontroversial yang menabrak bukti-bukti nyata keganasan Covid-19. Mau mengajak orang bersikap kritis? Bisa jadi. Namun, bila ajakan tersebut bisa bikin celaka, ya buat apa? Atau, hal itu dilakukan cuma karena bingung bikin konten di kanal media sosial mereka masing-masing? Alamak!

Saat menikmati hasil Adsense atau endorsement dari kepiawaian mereka bermedia sosial, ada ribuan penggemar mereka yang mesti bertungkus lumus menghadapi dampak langsung dan tak langsung pagebluk ini. Begitu banyak pengikut mereka yang tak bisa menikmati proses belajar di sekolah dan kampus. Tak terhitung sebagian lain yang harus lebih keras memeras keringat untuk sekadar menyambung nyawa.

Sampai kini, kita belum bisa menebak ke mana arah dunia. Pandemi Covid-19 telah mematahkan ribuan analisis para ahli serta akademisi. Orang-orang mulai dan mau membiasakan dirinya mematuhi protokol kesehatan. Sudah saatnya kita tak memberi panggung bagi orang-orang seperti Anji dan menganggapnya sebatas guyonan.

Lalu, bagaimana jika dugaan mereka terbukti bahwa musabab pandemi ini adalah hasil dari konspirasi besar? Saya tak akan ragu meminta maaf dan legowo. Toh, menteri-menteri kita pernah menyepelekan virus mematikan ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini