Dear Stafsus Presiden dan Milenial di Seantero Negeri

Dear Stafsus Presiden dan Milenial di Seantero Negeri

Ilustrasi (Image by PublicDomainPictures from Pixabay)

Waktu pertama kuliah, kalimat yang semula paling berkesan dalam buku teks adalah tulisan mendiang Prof Budi Winarno. Beliau bilang, kita hidup dalam dunia yang menganggap semua negara memiliki kapasitas sama. Ibarat lomba lari, semua memulai garis start yang sama, tak peduli ia pincang atau baru sembuh dari malaria.

Dalam kondisi begitu, tentu negara yang mulai dagang paling awal adalah negara yang paling moncer dalam industri. Pengecualian untuk beberapa kasus, memang. Tapi biarlah itu jadi tanggungan mahasiswa kelas ekonomi politik.

Dari teks soal ketimpangan tersebut, rasanya jadi punya gairah revolusionerrrr… Krisis eksistensi, krisis quarter life, tidak ada dalam kamus hidup kala itu.

Seiring berlalunya waktu, pusing juga ya mikir ndakik-ndakik soal negara. Apalagi, relasi dagangnya dan globalisasi dan kapitalisme dan gerakan masyarakat sipil global, dan blah blah blah yang bikin asam lambung naik. Ketimpangan dalam berlomba itu menyakitkan.

Baca juga: Makna Lain di Balik Seleksi CPNS, Jutaan Orang bahkan Tidak Menyadari

Sebagai anak muda, kita tidak lahir dan tumbuh dalam kondisi yang sama. Negara pun juga belum serius untuk membuatnya adil.

Salah kaprah tentang privilese adalah menganggapnya semata perihal kesempatan. Lantas, menganggap bahwa kesempatan adalah milik siapa saja, mau dia cantik atau buruk rupa, miskin atau kaya, anak broken home atau tidak, dan sebagainya.

Privilese itu tentang hak-hak istimewa yang tidak sama antar individu. Saya memang punya privilese berupa akses ke perkuliahan, di mana jutaan anak muda mungkin tidak. Tapi, seberapa berarti sih privilese berupa akses ke ilmu pengetahuan? Seberapa berharga ilmu pengetahuan di mata pasar tenaga kerja?

Hidup ini didesain untuk sebuah kompetisi demi uang dan kemapanan, karier dan pengakuan, bukan pengetahuan. Apalagi, pengetahuan sosial yang membekali analisis bobroknya sebuah sistem budaya. Dalam iklim persaingan tenaga kerja, punya lembar ijazah tidak menjamin kita mapan di masa depan.

Supaya lebih jelas dalam memandang sektor-sektor privilese ini, coba kita pinjam skema hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang membagi kebutuhan individu dalam skema piramida.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Paling dasar adalah kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan). Kedua, kebutuhan akan rasa aman (pekerjaan layak, upah cukup). Ketiga, kebutuhan akan kasih sayang (keluarga, sahabat, kekasih). Keempat, kebutuhan akan penghargaan (status sosial, reputasi, followers Instagram), dan puncaknya adalah kebutuhan akan aktualisasi diri (pengembangan diri).

Mbak Putri Tanjung itu punya privilese di lapis hierarki yang mana saja? Dan, orang-orang yang bersaing hanya demi posisi buruh berupah UMK ada di lapis ke berapa? Belum lagi soal kasih sayang, kita pun masih begitu papa. Jutaan masyarakat lainnya bahkan masih berjuang demi isi belanga di dapur mereka.

Jadi, apakah privilese hanya mitos?

Begini ya, IPK saya memang tidak cumlaude, kuliah juga hanya di dalam negeri, itupun swasta. Memang benar, ada satu-dua individu yang karena perjuangan ini-itu berhasil menuai capaian, ibarat dari anak singkong jadi anak cukong. Apakah itu harus jadi prosedur umum se-tanah air? Benarkah persoalan sukses atau tidaknya seseorang adalah perkara kebodohan yang diukur dari kadar konsumsi micin per individu? Atau, kemalasan karena dampak PUBG?

Maka, yang paling mendasar dari sekadar pencapaian personal adalah mengetahui sistem dan struktur seperti apa yang menopang negara, lebih dari itu berpihak di kelas sosial manakah Anda – ataupun kita semua? Karena hidup adalah soal perjuangan kelas.

Baca juga: Asyiknya Punya Privilese, tapi Disenggol Sedikit kok Ngegas?

Setelah punya privilese yang lebih tinggi, lalu mau apa? Melanggengkan struktur dan sistem yang menopang terjadinya ketimpangan atau bisa apa?

Tidak ada salahnya mengakui privilese yang dipunya. Karena yang paling penting bukan debat tentang seberapa banyak privilese masing-masing, tapi dengan privilese yang dipunya, seberapa mampu bersumbangsih menyelesaikan problem masyarakat?

Kalau mbak mas Staf Khusus Presiden diklaim mewakili anak muda, berarti ya fokuslah terhadap jutaan problem anak muda di negara ini, bukan dengan pengalaman Anda seorang diri. Ada jutaan anak muda mengorbankan passion demi kebutuhan adik-adik dan keluarga, yang kebelet kawin tapi dibayang-bayangi KPR tak kunjung lunas, yang merasa buruk rupa di tengah tekanan virtual medsos dan beauty vlogger. Itu masalah.

Saya mengenal Maria Sucia, perempuan yang bertahun-tahun mendampingi Suku Asmat di Papua. Saya mengenal Adlun Fiqri, anak muda yang konsisten ngurusin pemetaan wilayah terdampak tambang di pelosok pesisir Maluku Utara. Mereka tak berbekal kemewahan apa-apa.

Dari mereka, mbak dan mas Stafsus bisa menggali kabar duka dari pelosok Nusantara. Supaya mas dan mbak paham kalau persoalan milenial bukan hanya soal butuh modal untuk membangun bisnis rintisan.

Artikel populer: Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Aktivis-aktivis itu memang tidak sebrilian Anda yang ijazahnya dari kampus elit dunia. Tapi, mereka paham apa yang melandasi kebijakan negara. Bukan data-data statistik tentang jumlah konsumsi per kapita, keseimbangan neraca dagang, dan tumbuhnya investasi, melainkan ratap pilu masyarakat Akejira di Halmahera Utara yang terdampak korporasi tambang, misalnya.

Para aktivis didesain untuk kuat menyaksikan ketertindasan dan kemiskinan yang paling nyata, bukan lewat statistik angka-angka. Hanya aktivis yang mau-maunya mengorganisir perlawanan yang berserak di masyarakat. Hanya aktivis yang punya nyali melawan peluru aparat negara dan dinginnya sel penjara.

Jangan harap aktivis-aktivis akar rumput begitu bisa jadi teman ngobrol Presiden di istana, karena jabatan Stafsus tak sebanding dengan idealismenya yang tinggi.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.