Dear Pengguna FaceApp, Semua Sama di Era Digital, Tak Peduli Wajahmu Setua...

Dear Pengguna FaceApp, Semua Sama di Era Digital, Tak Peduli Wajahmu Setua Apa

Ilustrasi (Image by _Alicja_ from Pixabay)

FaceApp bisa bikin muka orang jadi tua. Padahal, jadi tua itu pasti. Sementara jadi dewasa itu pilihan. Dengan kecanggihan teknologi, sekarang menjadi tua pun adalah sebuah pilihan.

Tak perlu menunggu sampai usia senja, pengguna bisa melihat prediksi seperti apa wajahnya ketika tua nanti pada saat ini juga. Kok nggak sabaran ya? Jadi tua aja sampai kebelet begitu.

Hikmahnya, setelah melihat wajah keriput dan rambut beruban itu, pengguna FaceApp jadi lebih bisa bersyukur dan menikmati kejayaan masa muda. Sebab, tidak selamanya wajah kita sama seperti hari ini. So, puas-puasin selfie. Sebelum wajah kita benar-benar tua tanpa bantuan aplikasi.

Dengan FaceApp, sebenarnya, pilihan perubahan wajah pengguna tak hanya menjadi tua. Pengguna bisa juga berubah jadi berewokan, kembali jadi bayi, atau jadi jauh lebih rupawan kayak di komik Webtoon “Terlalu Tampan”. Bahkan, bisa gender swap, mengubah foto jadi cewek atau cowok.

Baca juga: Peringatan untuk Kamu yang Terobsesi dan Suka Ngaku-ngaku Muda

Namun, opsi tua menjadi primadona belakangan ini. Gegara banyak selebriti yang pakai FaceApp dan memamerkan foto versi tua mereka di akun pribadi. Salah satunya Young Lex yang mengedit foto “dirinya digebukin fans K-Pop” menjadi “kakek-kakek yang digebukin fans K-Pop”. Namanya juga Young Lex. Walaupun tua, dia tetap mengaku muda. Forever young, ceunah.

Terus, warganet yang kagetan pun ikut-ikutan. Alhasil, beranda media sosial isinya foto kakek-kakek narsis dan nenek-nenek eksis.

Baru kali ini banyak orang pede menjadi tua sebelum waktunya. Pakai bangga pula disebar di media sosial. Padahal, kemarin-kemarin banyak orang habis-habisan merawat diri agar tampil awet muda, pakai krim anti-aging segala.

Namun, percayalah, ini hanya tren musiman semata. Besok-besok mereka akan kembali takut menjadi tua. Kendati itu adalah keniscayaan.

Dari fenomena ‘tua bersama FaceApp’ ini, saya jadi kepikiran dengan bagian akhir film Avengers: Endgame. Jangan-jangan, Captain America itu sebenarnya tidak tua, tapi cuma pakai FaceApp edisi khusus yang berefek pada muka secara aktual. Tujuannya untuk nge-prank anggota Avengers.

Baca juga: Tik Tok: Sama Rata Sama Rasa di Era Posmodernisme

Seandainya aplikasi FaceApp sudah ada ketika Cinta AADC masih SMA, pasti Geng Cinta sempatkan foto bareng. Terus diedit pakai FaceApp dengan caption: “Semoga persahabatan kita tetap awet sampai tua nanti seperti di foto ini.”

Foto yang dimaksud adalah lima nenek-nenek pakai seragam SMA: Cinta, Milly, Karmen, Alya, dan Maura.

Di ruangan penjaga sekolah, Rangga foto bareng Pak Wardiman. Tapi cuma Rangga yang wajahnya diedit tua pakai FaceApp. Alhasil, tampilan Rangga seperti seumuran dengan Pak Wardiman. Alasan Rangga melakukannya, “Sebab hanya Pak Wardiman yang mengerti saya di sini, saya rela menjadi tua agar kami jadi teman sebaya.”

Di jagat film lain, saya pun membayangkan Dilan juga pakai FaceApp bareng Milea. Ketika putus, Dilan memberikan foto versi tua mereka kepada Milea. Pesannya, “Milea, sekarang kita memang sudah putus. Hubungan cinta kita berakhir di sini. Hanya seumur jagung. Namun, lihatlah foto ini. Setidaknya, di aplikasi ini, kita sempat menua bersama.”

Beruntunglah cucu-cucu di masa depan. Potret kakek-nenek mereka sudah tersedia jauh lebih awal, bahkan sebelum mereka dilahirkan.

Baca juga: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Namun, di tengah euforia ‘menua bersama’ ini, ada gosip tak enak yang merebak. Konon, aplikasi FaceApp buatan Rusia ini disebut-sebut bisa mencuri data pribadi pengguna.

Hmmm…

Kok jadi ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu ya? Saat media sosial diblokir oleh pemerintah, lalu warganet berbondong-bondong pakai VPN untuk menerobos barikade maya Kominfo. Belum lama bersenang-senang pakai VPN, beredar rumor kalau VPN berbahaya. VPN juga disebut-sebut bisa mencuri data pribadi pengguna.

Isu pencurian data pribadi ini selalu jadi senjata untuk membungkam senyum warganet yang sedang bersenang-senang.

Padahal, yang patut dicemaskan karena sudah banyak korbannya itu adalah aplikasi pinjaman online (pinjol) ilegal. Nah, kalau aplikasi ini tidak mencuri data pengguna. Namun, pengguna yang ingin pakai aplikasi harus setuju dengan syarat dan ketentuan berlaku. Salah satunya memberi izin kepada aplikasi untuk membaca kontak.

Apabila di kemudian hari pengguna aplikasi telat bayar angsuran, maka teman-teman yang ada dalam kontak ponselnya akan dihubungi oleh debt collector.

Artikel populer: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Kasus seperti ini sangat dekat dengan masyarakat. Namun, sosialisasi terhadap risiko pinjaman online ilegal ini belum seviral berita FaceApp dan VPN yang disebut-sebut berbahaya oleh sejumlah pihak.

Saya punya teman yang familinya terjerat e-rentenir. Konon katanya, ketika menunggak, teman-teman kerjanya dikirimi SMS oleh admin aplikasi pinjol. Termasuk teman saya ini yang masih kerabat dekat.

Alhasil, satu kantor tahu kalau yang bersangkutan punya utang dan statusnya kredit macet. Jadilah dia malu berangkat kerja sampai akhirnya membolos lebih dari tiga hari. Karena pinjol sedikit, rusak nama baik dan karier sebelanga.

Sebegitu urgensinya membaca terms and condition sebelum menerima fasilitas pembiayaan atau pasang aplikasi di ponsel kita. Jadi sebenarnya, yang dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah aplikasi yang bikin wajah jadi tua, melainkan aplikasi yang bikin sikap menjadi lebih dewasa.

Sebab dibutuhkan kedewasaan untuk menghadapi risiko dari setiap langkah yang kita ambil di era digital ini. Semua sama di mata sistem. Tak peduli wajahmu setua apa.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.