Ilustrasi. (Image by Eduardo RS from Pixabay)

“Merupakan suatu musibah jika ada seorang istri yang suka menonton drama Korea. Bagaimana ia akan mampu memuliakan suaminya jika wajah aktor idolanya sudah membuatnya berbunga-bunga. Akting romantis sang aktor membuat hatinya meleleh melayang.” Disampaikan oleh seorang pendakwah di media sosial. Pendakwah tersebut juga mendoakan semoga kaum muslimah yang suka drakor mendapat hidayah.

Meski belum jadi istri siapapun, kalimat-kalimat tersebut sukses bikin perut saya terasa begah. Lagi-lagi, perempuan melulu yang diminta ‘memperbaiki’ diri. Apalagi setelah ada skandal pemaksaan aborsi yang melibatkan seorang aktor Korea Selatan, makin dituduh-tuduh drakor bisa membuat perempuan jauh dari agama. Rumah tangga teman terkena imbasnya. Si suami yang baru ‘hijrah’ dan aktif follow para pendakwah di medsos mulai melarangnya nonton drakor.

Apa hanya orang yang merasa paling beragama saja yang begitu? Nggak, sekuler juga. Aktor K-Drama dan idol K-Pop pria kerap dianggap sebagai cowok gemulai karena suka pakaian warna terang, pipinya mulus, pakai make up, dan sebagainya. Bahkan dance ala idol tersebut dianggap kemayu, lupa ya sama diri sendiri yang ikut SKJ 88 saja sudah ngos-ngosan.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Memang tak bisa dimungkiri, kehadiran para aktor dan idol Korea membawa semacam ‘standar baru’ terkait laki-laki. Mulai dari tampilan fisik, attitude pekerja keras dan serius dalam karier, gaya hidup sehat, selera berbusana, bahkan hingga kecintaan pada hewan peliharaan.

Di Indonesia, saingan aktor dan idol Korea mungkin Nicholas Saputra. Berawal perannya sebagai Rangga di AADC yang membawa era ‘laki-laki baru’ dalam perfilman Indonesia yang sebelumnya bernuansa bapakisme.

Tiap kali Nicsap mengunggah foto pit-pitan di Instagram selalu mengundang rayuan penggemar, “Kapan mau pit-pitan ke rumahku buat ketemu bapakku, Mas?” Di lain waktu, ia mengunggah foto pohon, “Sayang, jangan lupa makan, ya. Kunci seperti biasa di bawah keset.” Seorang Nicsap tak perlu mengunggah foto selfie, unggahan apapun akan membuat kolom komentar di akun Instagram miliknya menjelma jadi asrama putri.

Di zaman sekarang, perempuan mulai bebas memuji, mengagumi, bahkan menuliskan rayuan gombal di medsos, meskipun perempuan masih dituntut untuk submisif oleh society. Segala macam ekspresi kekaguman pada lawan jenis tersebut sering kali dianggap sebagai perilaku yang tak pantas.

Baca juga: Boleh Dong Perempuan Nembak Duluan, Demokratis kan?

Coba deh laki-laki yang berperilaku demikian, akan dimaklumi. Kita pun masih sering mendengar kata-kata mutiara zaman baheula “Laki-laki bisa memilih, perempuan boleh menolak”.

Kehadiran aktor dan idol Korea dengan beragam stereotip, bahkan akrab dengan feminitas, membuat para lelaki yang terjebak maskulinitas toksik dan kultur patriarki terlihat bagai artefak berjalan. Membentuk kultur baru bahwa perempuan juga bisa memilih-milih lelaki. Bahkan tak memilih satupun juga nggak bikin mati.

Dunia sudah berubah, tapi banyak laki-laki yang tidak siap. Lalu menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, bahkan merasa perlu mengemasnya pakai dalil. Duh, menyebalkan.

Baca juga: Untuk ‘Moms’ yang Merasa Cemas dengan K-Pop

Para aktor yang akting romantis di drakor, apakah hanya modal tampang dan gombalan? Tidak. Mereka mesti bekerja sangat keras ketika terlibat dalam proyek film dan drama. D.O. EXO berlatih tap dance selama lima bulan untuk perannya di film Swing Kids. Lee Je-hoon berlatih tinju dan membentuk tubuh selama empat bulan untuk perannya di drama seri Move to Heaven. Song Kang berlatih balet selama enam bulan untuk menjadi ballerino di serial Navillera.

Kalau angkat galon saja sudah merasa mengerjakan separuh pekerjaan domestik, sepertinya memang sulit untuk bisa memahami term ‘laki-laki baru’ serta attitude perfeksionis dan totalitas dalam pekerjaan ala aktor dan idol Korea. Ditambah gaya hidup tidak sehat, separuh gaji habis buat beli Gundam atau hobi lainnya, terjebak maskulinitas toksik, hobi follow seleb medsos yang kontennya belahan dada. Kemudian merengek pakai mantra “Terimalah aku apa adanya”.

Lelaki banyak tingkah minta diterima apa adanya, menyebut hidup bersamanya adalah bagian dari ibadah. Tapi perempuan yang suka nonton drama Korea diberi label buruk, bahkan disebut butuh hidayah.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Karena telanjur insecure, laki-laki sulit untuk melihat bahwa demam aktor dan idol Korea bukan soal tampilan fisik (saja), tapi juga pada nilai-nilai yang kemudian membentuk ‘way of life‘. Aktor dan idol Korea berpikir, berkata-kata, dan berbuat, disesuaikan dengan nilai-nilai yang diyakini dan tujuan hidup yang ingin dicapai.

Pesona yang sulit dibantah dan attitude nyaris tanpa cela merupakan hasil dari konsistensi menjalankan ‘way of life‘ tersebut. Sekali saja melakukan kesalahan, bisa kena cancel bertubi-tubi, selesai kariernya. Kekaguman dari penggemar diraih dengan kerja keras dan persistensi, bukan dengan mendaku paling religius, apalagi sok paling manly.

Lucu sekali, kok agama dibawa-bawa untuk urusan Korean Wave? Padahal, mereka yang mengaku beragama pun belum tentu memegang nilai-nilai dalam agamanya sebagai ‘way of life‘.

Jadi, lebih baik berkaca ketimbang mencela.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini