Dear Jakartans, Ibu Kota Mau Pindah, Lindungi Sumber Privilese Kalian!

Dear Jakartans, Ibu Kota Mau Pindah, Lindungi Sumber Privilese Kalian!

Jakarta (Photo by Bagus Ghufron on Unsplash)

Belakangan ini, banyak Jakartans dan warga Bodetabek yang melenguh, eh mengeluh di media sosial tentang pemadaman listrik. Konon katanya, pemadaman listrik selama berjam-jam itu akibat adanya gangguan di SUTET. Bahkan, ada yang menyebut pohon sengon sebagai biang kerok. Sengon Rp 865 miliar?

Tentunya, kejadian istimewa bagi Jakarta ini berulang kali diliput media. Percayalah sayang, apokalips yang kau ungkapkan itu sesungguhnya tak sampai menjadi kiamat sughra. Cuma mati listrik, oi!

Dari pinggiran, kami penduduk Kalimantan santuy sahaja melihat nasib listrik Jakarta. Sebagai pulau penghasil Sexy Killers terbesar di Indonesia, PLTU di sini memang nggak ‘semaju’ di Pulau Jawa. Iya, bukan cuma kota-kota di Kalimantan saja yang kurang maju dengan minimnya mal, bioskop, dan bangunan tinggi (yang selalu ditanyakan dalam setiap perkenalan), pembangkit listrik di sini juga kurang oke.

Padahal, sudah bolak-balik perbaikan hingga akhirnya pemadaman bergilir menjadi bagian dari budaya. Maklum sih, anggaran daerah di Pulau Borneo yang katanya sebagai lumbung energi nasional ini paling cuma sepersepuluhnya Jakarta.

Baca juga: ‘Sexy Killers’, Apa yang Seksi?

Jadi, jujur aja sih, entah karena inferior complex atau memang kondisi, tak bisa dipungkiri muncul semacam perasaan biasa saja melihat krisis listrik di Jakarta. Bukan apa-apa, mati listrik memang seharusnya menjadi kegelapan kolektif, bukan masing-masing. Katanya NKRI?

Yah, sebagai warga negara yang juga pernah berbondong-bondong membeli generator setelah dipaksa puasa listrik selama 96 jam, anggap aja peristiwa ini wujud dari pemerataan pembangunan nasib. Dulu, teman di Jakarta bahkan pernah mengataiku kampungan.

Eh tapi, ada yang bilang bahwa kejadian mati listrik Jakarta adalah bagian dari konspirasi pemindahan Ibu Kota. Ah, masa sih? Hoaks kali tuh.

Yang pasti, pemerintah kita memang telah mengonfirmasi rencana pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan. Ada dua daerah yang disebut-sebut menjadi kandidat, Gunung Mas di Kalimantan Tengah dan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kalimantan Timur.

Baca juga: Ibu Kota Mau Pindah? Jangan Abaikan 7 Hal Ini

Mendengar kabar tersebut, wajar saja kalau para pegawai kantor pemerintah pusat yang kini tinggal di Jakarta, dan selalu gemerlap cahaya itu, sedang menjalani pelatihan bagaimana hidup di pedalaman Kalimantan. Kamu tahu, saat terlihat hanya ada sedikit bintang malam ini karena kota sedang gelap-gelapnya?

Tapi, tentu saja, naif sekali menganggap para elit pemerintahan akan merasakan gelap yang sama sekalipun mereka berada di tengah alas sana. Sudah pasti setiap fasilitas pemerintahan dari kantor sampai rumah pejabat memiliki generator besar yang disediakan lewat anggaran dan terus difasilitasi oleh uang rakyat. Cobalah kau lihat saat mati listrik malam hari di Jakarta, seterang apa rumah wali kota, gubernur, sampai presiden?

Jadi, yang dimaksud di sini adalah pelatihan hidup dalam kesenjangan elektrikal. Ada rumah yang listriknya selalu menyala, sementara rumah lainnya berulang kali byar-pet. Apa itu ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’? Pffftt…

Baca juga: Realita Ryme City yang Terlupakan dalam ‘Detective Pikachu’

Tentu, kesenjangan semacam ini selalu dijustifikasi dengan berbagai macam alasan. Misalnya, pejabat pemerintah memiliki kepentingan lebih tinggi akan suplai listrik ketimbang rakyat biasa. Meskipun di mata Allah kita semua sama, di mata PLN pejabat kedudukannya lebih tinggi. Akhirnya, mereka punya hak istimewa atau privilese terhadap kestabilan asupan listrik.

Hal yang sama juga menjadi alasan mengenai privilese Jakarta (dan Pulau Jawa lebih luasnya) dalam menikmati aliran listrik. Alasan jumlah penduduk, kepentingan industri, ekonomi, dan posisinya sebagai pusat pemerintahan membuat Jakarta jarang didatangi hantu mati lampu.

Sekalinya mati lampu massal dan (( agak )) lama, dunia hebohnya luar biasa. PLN memberikan kompensasi pada korban pemadaman listrik Jakarta kali ini. Presiden bahkan ikut menegur bos PLN. Sesuatu yang tak pernah terjadi pada pemadaman listrik di luar Jawa. Ini cuma sedikit gambaran betapa Jakarta selama ini memiliki privilese dibandingkan daerah lainnya.

Artikel populer: Membayangkan Hobbs dan Shaw ‘Fast & Furious’ Jalankan Misi di Jakarta

Di pedalaman Kalimantan, ada daerah yang ketersediaan listriknya hanya terjadi antara pukul 4 sore sampai pukul 10 malam. Ketika kamu sambat tak berkesudahan karena mati listrik sinyal ponsel jadi lemot, mereka yang tinggal di sana harus berjalan selama 45 menit untuk bisa mendapatkan sinyal. Hal itu sudah menjadi keseharian, bukan sekadar peristiwa besar seperti #matilampulagi.

Oh ya, saya bukan mau sekadar mengingatkan agar kita semua bersyukur dalam kegelapan. Tapi hanya mau bilang, kadang pemerataan dan kesetaraan itu berarti mengurangi privilese yang selama ini kita anggap sebagai hak.

Jadi, kalau kalian warga Jakarta enggan merasakan mati lampu melulu, protes lah sana supaya Ibu Kota batal pindah ke Kalimantan. Lindungi sumber privilese kalian!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.