Dear Fiersa Besari, Sebaiknya Kita Berhati-hati Bicara ‘Mental Illness’

Dear Fiersa Besari, Sebaiknya Kita Berhati-hati Bicara ‘Mental Illness’

Ilustrasi mental illness (Image by Serena Wong from Pixabay)

Film Joker meledak, mental illness kembali dibahas sebagai topik populer. Film ini memang men-trigger siapapun yang menjadi penyintas masalah kesehatan mental.

Saya tak akan mengulas filmnya, karena spoiler sudah bertebaran di seantero linimasa. Namun, ada pernyataan yang mengganggu dari seorang figur. Pernyataan yang minim respek pada penderita mental illness, bahkan cenderung mengabaikan fakta bahwa ini persoalan serius yang harus dicari solusinya.

Pernyataan Fiersa Besari melalui Twitter itu kemudian ramai dibahas oleh para pengikutnya. Bahkan, ada yang menyebut nama orang yang dirasa mengglorifikasi mental illness demi ‘konten’.

WTF dude! Glorifikasi mental illness? Apa yang harus diglorifikasi? Keinginan untuk mati? Perasaan mati rasa dan tak mampu bahagia? Atau, kecemasan yang tak ada habis-habisnya?

Selorohan Fiersa Besari memang tidak substansial dalam perdebatan mental illness. Namun sayangnya, dia bukanlah butiran jasjus di Twitter. Dia adalah salah satu panutan netizen. Dalam sekejab, satu cuitannya bisa mempengaruhi ratusan ribu bahkan jutaan orang.

Ini dari kacamata saya, ya. Karena banyak yang “keren-kerenan” melabeli dirinya punya penyakit inilah-itulah tanpa konsultasi terlebih dahulu pada yang lebih ahli, imbasnya: Yang betulan mental illness dan seharusnya dapat pertolongan malah dibercandai dan dibilang ikut tren.”

Baca juga: Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Begini ya, memang apa yang dimaksud ‘keren’? Apakah ‘keren’ itu jika seseorang ngomong, “Saya penyintas mental illness”, lalu dia mendapatkan banyak atensi dan simpati? Apa yang ‘keren’ dari atensi dan simpati seperti itu? Atau, orang-orang sebetulnya iri saja melihat orang lain dapat atensi?

Semisal, Awkarin. Banyak orang yang menganggap dia mengglorifikasi mental illness. Padahal, kalau kita menyimak, Awkarin justru sedang berkampanye agar orang lain memiliki kesadaran terhadap kesehatan mental.

Jika kita terburu-buru men-judge bahwa Awkarin mengglorifikasi kondisi kesehatan mentalnya, apa bedanya dengan Fiersa yang selalu menjadikan lara patah hati dan kesedihan demi konten?

Oke, sekarang mari kita ulas bagaimana menghadapi para penyintas mental illness.

Saya coba berangkat dari pengalaman pribadi sebagai seorang konselor. Dulu, saya sempat merasa energi saya terkuras oleh beberapa konselee. Hingga suatu waktu muncul pertanyaan dalam hati, “Sebenarnya dia mental illness atau apa ya?”

Baca juga: “Tolong, Saya Hanya Dijadikan Alat Investasi oleh Orang Tua”

Itu terjadi ketika seorang konselee menelpon tengah malam dan menjerit ingin bunuh diri. Lalu, saya mendatangi tempat tinggalnya. Ternyata, hal itu terjadi karena perdebatan yang menurut saya terbilang ringan. Saya sempat berprasangka bahwa ia mungkin tidak menderita mental illness. Bisa jadi, ia hanya haus atensi.

Tapi sesungguhnya, saya lah yang tidak memahaminya.

Itu dulu, prasangka datang ketika saya masih bodoh. Meski sekarang sama bodohnya, saya mencoba untuk lebih memahami kondisi mental orang lain. Lalu, bertemu dengan banyak sekali konselee dan orang-orang yang menampakkan gejala awal mental illness.

Dari situ, ada pelajaran yang begitu berharga. Yang harus kita perhatikan bukan “apakah pemicunya persoalan sepele atau tidak”, melainkan “sejauh apa perilaku penyintas menjadi berbahaya”.

Saya pernah mencegah percobaan bunuh diri seseorang, yang mungkin banyak orang akan menganggap pemicunya adalah hal sepele: ribut dengan driver ojek online. Di sinilah, kita perlu memahami bahwa ketahanan mental setiap orang tidak sama.

Baca juga: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Masalah kesehatan mental ini sebetulnya tak jauh berbeda dengan penyakit fisik. Ia bisa datang dari dua faktor, nature dan nurture.

Faktor nature bisa dari bawaan genetik, kebanyakan ini akan mengarah ke penyakit neurotis. Sedangkan faktor nurture terjadi karena lingkungan yang tidak mendukung perkembangan mental dengan baik, sehingga terjadi gangguan tertentu. Faktor ini bisa melahirkan gangguan neurosis maupun psikosis.

Pola ini juga bisa terjadi pada penyakit fisik. Semisal, seseorang yang terlahir dengan permasalahan pencernaan, dia akan tumbuh menghadapi persoalan pencernaan terus menerus. Atau, seseorang yang lahir dengan pencernaan sehat dan kuat, namun terpaksa merelakan pencernaannya bermasalah karena di lingkungannya hanya dapat mengakses makanan yang tidak sehat.

Mental illness juga begitu. Ada individu yang ketahanan mentalnya tak sekuat banyak orang. Biasanya, dia mudah mengalami masalah psikologis hanya karena persoalan yang mungkin kita anggap tidak terlalu berat.

Ada juga individu yang ketahanan mentalnya kuat, tapi tetap saja harus mendapatkan perawatan klinis, karena ia ditempa oleh lingkungan yang membawa dampak buruk pada kesehatan mentalnya.

Artikel populer: Suami Perkosa Istri Diketawain, Apakah Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’?

Nah, ketika kita menghadapi orang yang memiliki persoalan mental, kita memang harus selalu overestimated. Hal ini jauh lebih baik daripada meragukan penyintas yang bisa jadi membuatnya menjadi tidak tertolong.

Jadi, kalau ada seseorang yang coming out dengan kesehatan mentalnya, berikan dia atensi yang lebih. Bukan malah bilang dia haus atensi, apalagi menganggapnya demi mendapat simpati dari gebetan.

Dengan memberikan atensi yang lebih, setidaknya kita ikut berkontribusi memperbaiki lingkungan sosialnya, yang mungkin selama ini diisi oleh orang-orang yang tidak mau memahami penyintas.

Lalu, sempatkan waktu untuk bertanya bagaimana kabarnya. Dengan sekadar menyapa, bisa jadi kamu sudah memperbaiki mood penyintas yang rusak karena lingkungannya. Bahkan, bisa memantiknya untuk bercerita dan mengkatarsis stres yang selama ini terpendam.

Sebab itu, berhentilah menghardik mereka yang berani bersuara atas kondisi mentalnya, karena memang itulah yang harus mereka lakukan. Coming in pada diri sendiri dan coming out pada lingkungan agar mereka dapat tertolong.

Ingat, tidak ada glori dalam mental illness, kita saja yang tidak memahami mereka.

3 COMMENTS

  1. Yang kamu bilang itu bener, yang fiersa bilang juga ada benernya, gak semuanya bisa disamaratakan. Kalau ditanya apa untungnya mengaku mental illness? Buat sebagian ada, karena itu bisa memberi perhatian dari sekitarnya. Tapi justru dalam pengalaman saya, mereka yang bener-bener suffer karena mental illness akan struggle banget untuk bisa open dan sharing. Masih dalam pengalaman saya juga sebagai seorang manajer, beberapa mengaku mental illness dan seringnya mengaku kumat saat mendekati deadline atau kerjaan gak selesai. Itu bikin saya jengkel, kumatnya hanya di saat-saat tertentu saja. Tapi kalau diminta untuk konseling atau terapi, bahkan dengan biaya kantor, kebanyakan gak mau. Banyak yang mendiagnosa dirinya sendiri hanya dengan mengikuti tes online atau baca-baca artikel, tapi tidak di diagnosa oleh dokter.
    And FYI, saya bisa menilai karena saya juga pernah di diagnosa depresi, suicidal thoughts, etc dan saya memiliki anxiety yang tinggi, untuk bisa melakukan pekerjaan saya secara optimal, saya masih melakukan sesi terapi setiap bulannya.
    Benar, mental illness itu gak mudah, menyambung hidup sehari saja itu perjuangan. Kalau kamu tau rasanya sulitnya berjuang melawan suicidal thoughts, mood swings, etc…kamu juga akan tau ketika someone faking it. Makanya saya muak sama mereka yang menggunakan ‘mental illness’ untuk cari perhatian atau mendapat empati dari orang.

    pernah dengar factitious disorder? It’s real.

    • Halo mbak… Kebetulan saya yang nulis ini.
      Mental illnees punya tingkatan kondisi dengan diagnosa yang berbeda-beda.. Tidak terbukti scyzhofren tidak lantas berarti tida memiliki diagnosa lain.

      Ada ratusan jenis penyakit mental illness yang ada dan dirangkum oleh APA melalui DSM.
      Saya mau ngasih tau… Mbak mungkin pernah jadi konselee, dan penyintas juga. Tapi siapapun yang bukan psikolog dan psikiater tak boleh menegakkan diagnosa dan menjudge orang sakit mental atau tidak.

      Apa sulitnya berkata “gimana kondisimu? Sudah periksa” Daripada berunderestimate dengan kondisi orang lain yang malah membuat mereka tidak tertolong.

      Oiya mbak, sejauh yang saya pelajari sampai detik ini, tak ada orang sehat mental yang berbohong soal penyakit demi atensi. Bahkan penyakit ini (berbohong soal sakit demi atensi) merupakan salah satu penyakit paling sering muncul pada populasi penyintas. Nama penyakitnya munchausen disorder by proxy.
      Silahkan baca jurnal terkait agar kita tak cepat2 berpikiran buruk akan kondisi orang lain padahal kita tak punya kapasitas untuk itu.
      Terimakasih untuk tanggapannya mbak

  2. padahal FIersa Besari itu yang memiliki masalah pada mentalnya

    gegara patah hati terciptalah buku, lagu dan lainnya

    menjadi salah satu icon kegiatan outdoor diluar sana

    saya kurang lebih 7 tahun bergiat di kegiatan tersebut

    jarang sekali mendengar hal itu kecuali ketika film 5 cm dan tweet keliling Fiersa Besari

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.