Dear Anak Beasiswa, Berhentilah Menghadiri Seminar Motivasi Kesuksesan Ala Orang Kaya

Dear Anak Beasiswa, Berhentilah Menghadiri Seminar Motivasi Kesuksesan Ala Orang Kaya

Ilustrasi (Tortugadatacorp via Pixabay)

Meskipun menjadi pengikut Maudy Ayunda di Instagram, saya baru tahu kalau doi ternyata mendapat beasiswa LPDP buat studi masternya di Amrik. Mba Maudy menambah daftar selebriti yang mendapat beasiswa negara, selain Gita Gutawa dan Tasya Kamila.

Motivasi ketiganya untuk mendaftar beasiswa tentu bukan karena kesulitan ekonomi, semahal apapun biaya studi di luar negeri. Karena itu, saya nggak bisa jumawa menyebut mereka sebagai sesama anak beasiswa macam saya.

Sebab, segalau-galaunya memilih dua kampus elit, sebagai anak beasiswa ketiganya nggak akan mengalami kegalauan hidup sebagai mahasiswa miskin di kampus elit. Nggak seperti saya atau sobat missqueen yang lain.

Bagi kami, bisa dapat beasiswa belajar di dalam atau luar negeri tentu sebuah kebahagiaan setelah perjuangan berdarah-darah. Tapi, bertahan di dunia kampus adalah perjuangan baru yang sesungguhnya.

Apalagi, kalau nasib menempatkan kami belajar di kampus elit, jurusan bergengsi, dengan biaya pergaulan ala jetset society. Wuih, kalau mentalnya nggak diospek pribadi, belum lulus kuliah kami akan memilih ‘meluluskan diri’ alias voluntarily drop out.

Baca juga: Maudy Ayunda Galau soal Harvard-Stanford, Kita Galau soal Apa?

Anak-anak beasiswa yang ‘terbuang’ dari pergaulan kelompok elit begitu sebenarnya nggak perlu sedih, apalagi sampai menyerah hanya karena miskin. Sebab, di beberapa kampus elit biasanya ada perkumpulan mahasiswa senasib. Baik yang disatukan status penerima beasiswa tertentu, atau kalau di Harvard, ada yang namanya First Generation Student Union alias perkumpulan mahasiswa generasi pertama yang berkuliah di keluarganya.

Meskipun nggak semua, perkumpulan dengan banyak anggota seperti itu di Indonesia bisa ditemui di organisasi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Saya salah satu anggotanya.

Dalam komunitas mahasiswa missqueen berprestasi seperti itu, banyak kegiatan diberikan utamanya untuk menempa mental kami bahwa ‘orang miskin juga bisa’. Jadi yaa… forum-forum motivasi untuk mencapai cita-cita generasi emas, dimana anak miskin menjadi pemimpin negeri sering kali diselenggarakan.

Qadarullah saya pernah diminta mengisi sebagai salah satu (ehemm) alumni berprestasi. Jadi ya, paham betul values macam apa yang ingin diinternalisasikan pada sobat-sobat missqueen seperti kami.

Selama ini, saya merasa baik-baik saja dengan forum motivasi sukses untuk anak miskin seperti itu. Tapi setelah dipikir-pikir, ada yang aneh dengan bagaimana kita menyemangati orang miskin selama ini.

Baca juga: Hal-hal Kecil tapi Penting saat Mendaftar Beasiswa

Kalimat-kalimat seperti ‘saatnya anak miskin memimpin’ atau ‘anak miskin juga bisa sukses’ sering menjadi keywords penyemangat. Sayangnya, konsep kepemimpinan atau kesuksesan seperti apa kurang banyak dibahas secara revolusioner (ecieh sok banget).

Begini lho, maksudnya. Seringkali anak miskin belum dikatakan berhasil kalau belum menjadi kaya sesuai standar orang kaya. Belum jadi CEO, belum jadi miliarder, dan sebagainya. Kalau sudah begitu baru bisa disebut ‘mentas’ dari kemiskinan.

Anak miskin juga baru bisa disebut sukses menjadi pemimpin kalau literally memiliki kekuasaan (baca: jabatan struktural) tertentu baik di perusahaan atau pemerintahan. Konon, kalau sudah bisa begitu, baru lah keadilan antara si kaya dan si miskin bisa tercapai.

Padahal, kalau tujuannya cuma buat merebut kekuasaan agar bisa berkuasa, menurutku yaa masih jauh lah dari cita-cita keadilan. Soalnya (mantan) orang miskin juga bisa jadi diktator, (mantan) orang miskin juga bisa menindas, bahkan (mantan) orang miskin juga bisa melakukan pemiskinan, asalkan punya kekuasaan dan hanya ingin mengentaskan diri sendiri dari kemiskinan.

Baca juga: Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Sebagai sobat beasiswa, saya sering menjumpai mahasiswa miskin dengan semangat juang tinggi. Mereka sungguh-sungguh kuliah agar mendapat nilai sempurna, sehingga beasiswa tidak dicabut. Rajin belajar agar lekas lulus dan mendaftar di perusahaan bonafit, lalu bisa memperbaiki nasib keluarga.

Teman-teman berprestasi dengan motif seperti itu sungguh banyak sekali. Apalagi dengan tekanan kehidupan kampus bersama kelompok elit. Rasanya wajar kalau ada ‘dendam positif’ untuk bisa menjadi seperti mereka yang hidup kaya dan penuh kemudahan.

“Kamu nggak mau jadi petani?” tanyaku pada sesama anak beasiswa.

“Ya masa ortuku udah petani aku tetap petani. Nggak naik kelas, dong,” jawabnya yang bercita-cita bekerja di ibu kota.

Kata guru Sosiologi dulu, pendidikan memang menjadi salah satu alat katrol kelas sosial. Tapi, entah kenapa saya sedih mendengar cita-cita teman itu.

Mungkin saya yang baperan ini terlalu naif berharap si anak petani, setelah kuliah, ingin menaikkan kelas sosial nggak hanya keluarganya melainkan juga kaum petani secara umum dengan menjadi petani yang ‘naik kelas’. Petani yang bisa mandiri mengelola produksi, yang berdaya mengatur harga jual, yang nggak tertindas rantai distribusi. Harapanku sih dengan begitu jargon beasiswa kami untuk ‘memutus mata rantai kemiskinan’ bisa tercapai.

Artikel populer: Tim Syahrini atau Luna Maya? Tidak Keduanya

Tapi kalau si anak petani ingin jadi pegawai perusahaan multinasional yang diam-diam justru mengambil lahan pertanian, saya bisa apa? Masa saya nggak bahagia kalau teman bisa sukses seperti yang biasa saya ucapkan di forum motivasi?

Apalagi, tokoh-tokoh semacam itu lah yang ‘laku’ dijual di forum beasiswa: anak petani jadi dokter, anak nelayan jadi insinyur. Kalau anak petani tetap jadi petani setelah kuliah, buat apa capek-capek kuliah dibiayain negara?

Padahal, nggak gitu juga sih. Bukannya saya anti seminar motivasi beasiswa. Tapi mungkin motivasinya perlu direvisi. Jangan lagi anak miskin diiming-imingi sekolah tinggi biar kaya. Lha, kata siapa sekolah bikin kaya? Wqwq… Atau, sekolah tinggi biar bisa kerja bergengsi. Ya ini baik sih, tapi hati-hati kena jebakan tenaga kerja terdidik rasa buruh.

Pendidikan itu kan pada dasarnya membebaskan. Membebaskan diri kita dan (mestinya) orang-orang di sekitar kita. Ketika bercita-cita sukses, baiknya ya nggak hanya untuk mengentaskan diri dari kemiskinan, melainkan mengentaskan kemiskinan itu sendiri.

Sebab, kita boleh lahir dari lingkungan miskin, tertindas, tanpa privilege, dan begitu membenci orang kaya. Tapi tanpa kesadaran atas perubahan sistem sosial, bukan tidak mungkin setelah mendapat kekuasaan kita justru berganti peran menjadi penindas zalim atas nama (mantan) orang miskin yang sukses.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.