Ilustrasi (Image by Mohamed Hassan from Pixabay)

Sebagai bapak muda yang tiap hari wira-wiri daycare – bersama dengan banyak bapak muda lainnya – saya sungguh sedih membaca berita penemuan mayat balita tanpa kepala di Samarinda. Terlebih, sebelumnya balita tersebut dilaporkan hilang dari daycare-nya. Dua minggu menghilang, kemudian sang anak ditemukan dalam kondisi seperti itu, sungguh berat sekali bagi orangtuanya.

Namun, menjadi jauh lebih miris ketika membaca komentar netizen yang tidak pernah salah mengenai peristiwa ini. Beberapa komentar seperti “inilah akibatnya kalau orangtua terlalu sibuk bekerja di luar, anak menjadi tidak diurus” dan yang senada begitu marak mewarnai kolom komentar di berbagai media daring. Termasuk, salah satu komentar yang lumayan menggelitik: “Titipan Tuhan kok dititipkan lagi?”

Setelah memenuhi pertanyaan masyarakat perihal “kapan punya anak?”, sesungguhnya masalah baru telah muncul. Masalah yang tidak dipikirkan sama sekali oleh orang-orang yang hobi menanyakan soal anak orang lain. Ya, pengasuhan sang anak itu sendiri.

Seorang rekan kerja dengan kondisi polycystic ovarian syndrome (PCOS) serta setengah mati mengusahakan punya anak pertama, justru menangis gamang begitu mengetahui bahwa dirinya hamil anak kedua atas dasar satu persoalan.

Baca juga: Pijat Payudara dan Hal-hal Lain yang Harus Dipelajari Calon Ayah

Dengan kondisi dia adalah PNS instansi pusat yang setiap pekan ‘Pulang Jumat Kembali Ahad’ (PJKA) sembari berjuang untuk mutasi ke daerah demi berkumpul dengan keluarga, tangisnya adalah soal siapa yang hendak menjaga anak keduanya itu kelak.

Yup, perjuangan memiliki anak itu satu konteks. Mengasuh serta membesarkan sang anak dengan baik dan benar adalah konteks yang berbeda. Bagaimanapun, baik dan benar itu sangat tergantung definisi dari orang-orang yang menjalaninya.

Pilihan pengasuhan utama tentu saja anak diasuh langsung oleh ibunya, dalam posisi sang ibu tidak bekerja. Ada kalanya bahwa yang bekerja justru sang ibu, peran pengasuhan dipegang sang ayah.

Ada pula yang dengan berbagai pertimbangan, kedua orangtua harus bekerja dan sehari-hari anak harus dititipkan untuk diasuh oleh orang lain. Bisa kakek atau neneknya sendiri, bisa pula pengasuh di rumah, atau melalui tempat penitipan anak alias daycare.

Semua pilihan memiliki risiko masing-masing dan setiap rumah tangga mengambil pilihan sesuai dengan perspektifnya. Dan tentu saja, suatu pilihan tidak dapat divonis dengan sudut pandang orang lain secara semena-mena.

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Apapun yang dilakukan orangtua kepada anaknya, entah diasuh sendiri, entah dititipkan ke pengasuh, termasuk juga penggunaan jasa daycare, harus dipahami sebagai sebaik-baiknya ikhtiar seorang manusia demi memastikan bahwa titipan Tuhan itu dijaga betul-betul.

Dalam peristiwa di Samarinda, misalnya, kalau dibaca baik-baik bahkan sebelum penemuan mengejutkan itu, diketahui bahwa sang anak baru dua pekan dititipkan di daycare alias Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Alasannya pun bukan sekadar tidak ada yang menjaga kala bekerja, melainkan sang anak belum lancar berbicara hingga usianya empat tahun. Sejak diasuh di PAUD tersebut, orangtua sang anak mengakui adanya perkembangan dalam sosialisasi sang anak.

Nah, jelas bahwa persoalannya bukan semata-mata tentang menitipkan lagi titipan dari Tuhan, kan?

Nyatanya, menitipkan anak itu dilakukan sebagai ikhtiar untuk kebaikan tumbuh kembang sang anak. Menitipkan anak di daycare itu, kalau mau jujur, ongkosnya cukup besar. Di Tangerang Selatan, biaya Rp 2,5 juta per bulan sudah termasuk murah. Belum lagi, kalau kita harus menyebut harga daycare di bilangan SCBD Jakarta yang jumlahnya lebih besar dari gaji pokok PNS golongan IV A dengan masa kerja 25 tahun.

Baca juga: 3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Biaya tersebut baru uang bulanan, belum termasuk uang tahunan, ongkos transportasi, susu, popok, dan kebutuhan lainnya. Bagi pegawai biasa dengan gaji pas-pasan, opsi daycare adalah pilihan berat yang harus dijalani dengan konsekuen ketika memang opsi tersebut dipilih sebagai bentuk ikhtiar.

Segitunya, saya dan istri masih bisa bekerjasama, baik dalam urusan pembayaran maupun perkara antar jemput anak ke daycare. Sementara, ada ibu muda yang ditinggalkan suaminya begitu saja, dalam posisi baru punya anak berusia 1,5 tahun, dan sama sekali tidak punya pekerjaan gara-gara setelah menikah disuruh resign oleh suaminya.

Kebayang dong bagaimana sang ibu muda harus mencari kerja, kemudian bekerja keras setiap hari, seorang diri, dan tentu saja dia tidak bisa membawa anaknya ketika bekerja. Kalau masih ada orang yang bilang “titipan Tuhan kok dititipkan lagi?”, ya jelas keterlaluan omongan orang itu.

Daripada mengomentari pilihan orangtua yang ternyata adalah wujud ikhtiar demi sebaik-baiknya masa depan sang anak, hal yang lebih penting adalah bagaimana kisah sedih di Samarinda bisa menjadi pendorong bagi penyedia jasa daycare atau bahkan pemerintah untuk mampu menyediakan standar keamanan dalam pengasuhan anak.

Artikel populer: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Faktor-faktor seperti pengaturan pembatas berlapis yang menihilkan kemungkinan anak untuk kabur, kepemilikan kamera pemantau, akses terbatas penjemput hanya pada area tertentu, menjadi hal yang perlu didorong untuk dimiliki oleh penyedia jasa daycare atau PAUD.

Di sekitar Jabodetabek, karena umumnya berbasis rumah-toko (ruko) atau rumah-rumah besar, kecenderungan keamanan akses memang sudah terjaga. Akan tetapi, ketika melihat lokasi sejenis di beberapa kota lain di Indonesia, persoalan akses ini masih menyediakan celah-celah untuk kemungkinan terburuk.

Salah satunya, anak yang lagi lincah-lincahnya kemungkinan bisa menyelinap keluar area daycare tanpa diketahui oleh pengasuh maupun potensi orang tidak dikenal dapat mengakses anak-anak yang berada dalam area daycare.

Di sisi lain, rasio jumlah pengasuh dengan jumlah anak yang diasuh juga harus dikelola dengan baik. Lha, mengasuh satu anak saja di rumah – dan itu pun anak sendiri – kadang juga sulit dikontrol, bagaimana kalau mengasuh enam anak dengan enam tingkah sekaligus?

Doa saya untuk sang anak di Samarinda, demikian pula kepada orangtuanya. Bagaimanapun, sebagai orangtua, mereka telah berusaha sebaik-baiknya, kala netizen hanya bisa berkomentar seburuk-buruknya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini