Ilustrasi keluarga. (Photo by Dimitri on Unsplash)

Saya kerap menjumpai posting-an bunda-bunda yang membagi curhatan tentang beratnya beban hidup seorang ibu dengan segala kemuliaannya. Semisal, cerita bunda-bunda milenial tentang kegiatan menumis sayur sembari mengejar-ngejar balita yang susah makan, menyuapi bayi yang lapar sambil merapikan ruangan, atau menyelesaikan kerjaan kantor di rumah sambil mendampingi anak belajar. Pekerjaan itu dilakukan setiap hari, bahkan selama bertahun-tahun.

Cerita begitu bikin saya minder jadi seorang ‘bunda’, sebab mentalitas saya di usia muda tak setangguh mereka. Bagi saya yang masih haus akan hidup berfoya-foya, bayangan jadi seorang bunda seperti itu tampak sengsara.

Sulit membayangkan bunda-bunda dengan santainya bisa pijat ke salon atau pergi nonton konser musik, kecuali dari kalangan orang kaya. Dengan gambaran beratnya beban ibu, sebagai masyarakat yang tergolong ekonomi lemah, saya pun enggan berniat lekas-lekas menikah dan punya anak, apalagi berharap bisa main Playstation setelah melahirkan anak pertama kelak.

Bagaimana dengan para ayah? Entahlah. Jarang sekali menjumpai curhatan bapak-bapak kelas menengah tentang menidurkan bayi semalaman sembari menulis makalah presentasi.

Baca juga: Jangan Berlebihan, Perempuan Serba Bisa Bukan Pencapaian

Di banyak kasus kelas menengah Indonesia, salah satu orangtua biasanya akan memilih mundur sejenak dari kiprah peran publiknya ketika memiliki anak. Itu demi mengawal pertumbuhan dan pembelajaran anak-anak, seperti menjamin kemampuan verbal, pendidikan kuliner, dan pembelajaran motorik sepanjang pertumbuhan usia bayi, balita, bahkan hingga usia kanak-kanak.

Jika kedua orangtua memilih menjadi pekerja purnawaktu, pilihan berikutnya adalah mencarikan pengasuh pribadi jika mampu secara finansial atau melibatkan kakek-neneknya sebagai pengasuh. Pilihan-pilihan itu tentu memiliki konsekuensi berupa gagalnya memberi pengalaman pengasuhan yang menyenangkan atau yang diharapkan oleh orangtua pada anak-anaknya.

Tatkala dibelit pilihan tentang siapa yang bersedia melepas karier sejenak demi mendampingi pertumbuhan anak-anak, kultur masyarakat kita menganggap perempuan yang mundur dari kiprah dan peran sosialnya di ruang publik adalah pilihan paling bijak.

Di Tanah Air kita, peran pengasuhan sepenuhnya menjadi tanggung jawab privat dalam domain keluarga. Itupun secara umum dibebankan kepada istri, seolah-olah merupakan peran istri secara kodrati.

Dalam budaya pengasuhan seperti itulah, beberapa pihak bertekad mencetak sosok bapak-bapak feminis. Kalaupun itu berhasil, dampaknya bisa jadi ada kebijakan cuti ayah yang cukup panjang untuk menemani istri yang melahirkan.

Baca juga: Pijat Payudara dan Hal-hal Lain yang Harus Dipelajari Calon Ayah

Tetapi, itu barulah menghapus pelan-pelan anggapan tentang kodrat perempuan di ranah domestik dan mengakui hak-hak para istri untuk tetap punya peran di masyarakat. Mencetak kader bapak-bapak yang berkenan membagi energi untuk ranah pengasuhan tidak serta-merta membuat beban domestik dalam rumah tangga berkurang.

Lalu, gimana agar dua insan yang berkeluarga tetap bisa berkreasi dan mengekspresikan diri sembari tidak mencemaskan perawatan anak-anaknya? Agar para bunda tangguh ataupun bapak feminis juga tetap punya peran sosial di tengah masyarakat, selain di tengah keluarganya sendiri?

Dalam hal ini, negara bisa membantu dengan ikut menanggung beban pengasuhan anak.

Negara tidak perlu mengurusi selangkangan dua insan yang jatuh cinta ataupun mengatur pembagian kerja pasutri dalam rumah tangga mereka. Negara cukup ikut campur rumah tangga warganya di ranah pengasuhan dengan menjadikan pengasuhan juga menjadi tanggung jawab publik. Gimana caranya? Mari ambil contoh negara Prancis.

Rupanya, selain akar filosofi pengasuhan di Prancis yang menganggap anak sebagai subyek bernalar, negara juga terlibat dalam peran mengasuh bayi-bayi. Di Prancis, negara menyediakan fasilitas penitipan anak sebagai proyek nasional, dimana standar asupan nutrisi balita serta anak-anak usia dini di penitipan anak dan PAUD dijamin oleh para pakar lewat pembentukan komisi.

Baca juga: Privasi Anak di Media Sosial Itu Penting, Katanya Sayang?

Bahkan, kerja pengasuhan di negara tersebut menjadi bagian dari karier profesional di ruang publik. Ada sertifikat khusus bagi para pengasuh dan ada sekolah diploma tentang pelajaran merawat bayi.

Ini membuat para orangtua tidak perlu khawatir dengan pengasuhan anak-anaknya sembari bisa berkarya bebas di ruang publik. Para orangtua pun tidak terkuras secara emosi dan pikiran seperti curhatan bunda-bunda di Indonesia yang mendampingi balita-balitanya.

Hasil dari pengasuhan oleh institusi dengan arahan para pakar tersebut, anak-anak di Prancis begitu mandiri, mampu menata emosi, segar bugar, tidak pilih-pilih makanan, dan bisa bertindak sopan sebagaimana manusia dewasa yang bernalar.

Liputan apik tentang bagaimana budaya pengasuhan di Prancis itu bisa kita baca dari tulisan mantan jurnalis The Wall Street Journal, Pamela Druckerman, dalam bukunya berjudul Bringing Up Bebe. Ia memaparkan temuannya tentang mengapa bunda-bunda di Prancis tetap terlihat muda dan bahagia, bahkan setelah melahirkan anak ketiga – meskipun slogan-slogan feminisme di sana tidak semeriah di Amerika.

Selain memberi fasilitas penitipan anak dan PAUD bersubsidi yang kualitasnya dijamin oleh para pakar nutrisi dan psikolog anak, Prancis juga ternyata memberikan modul perawatan bayi untuk para orangtua melalui pihak rumah sakit. Mungkin, itu yang membuat filosofi pengasuhannya bisa membudaya, sehingga tidak ada cerita bayi 3 bulan menangis di ranjangnya sepanjang malam ataupun tantrum berkepanjangan setiap kali balita diajak sang bunda belanja di pasar modern.

Artikel populer: Surat Kafka untuk Semua Ayah dari Anak yang Takut Bersuara

Dengan menyediakan fasilitas ruang pengasuhan yang profesional di domain publik, anak-anak dari orangtua yang kurang teredukasi sekalipun bisa memperoleh sikap pengasuhan yang baik sesuai kurikulum yang dirancang oleh para pakar psikiatri anak.

Untuk itu, saya berharap republik kita yang kabinetnya diisi oleh orang-orang cerdas ini berkenan turut serta dalam peran pengasuhan anak-anak. Rasanya tidak mungkin kalau institusi sebesar negara tidak mampu berperan dalam menjamin kualitas generasinya melalui intervensi pengadaan fasilitas pengasuhan berkualitas dan bersubsidi.

Lha wong, menerapkan kebijakan pembelajaran online di negara yang harga kuota internetnya masih mahal ini saja, bisa kok.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini