Daripada Meladeni Arogansi Anak 90-an, Ini yang Bisa Dilakukan Anak 2000-an

Daripada Meladeni Arogansi Anak 90-an, Ini yang Bisa Dilakukan Anak 2000-an

Ilustrasi (Image by Dimitris Vetsikas from Pixabay)

Acapkali masuk di Grup Facebook atau platform mana saja dengan embel-embel ‘lawas’ atau hal-hal semacam itu, selalu saja berseliweran unggahan yang kental dengan arogansi generasi tahun 1990-an perihal masa kecilnya yang kelewat adiluhung dan mulia itu.

Lihat betapa lucunya, mereka yang kerap merasa unggul karena menghabiskan hari-hari penuh ingusnya tanpa gadget dan internet, kini bertingkah di internet. Apakah salah? Oh jelas tidak, internet milik semua. Kalaupun masa-masa kecil yang indah nan mengharu-biru tersebut hanya milik generasi 90-an, itu sudah menjadi rumus alam yang tak bisa ditampik dan diganggu gugat.

Sementara, generasi setelah milenial dianggap memiliki ‘masa kecil suram’. Atau, the Founders, jika mengikuti kategorisasi dari MTV – berdasarkan survei yang mereka lakukan pada 2015 – yakni mereka yang lahir setelah Desember 2000.

Dengan argumentasi yang sangat sengit, generasi 90-an berusaha membandingkan dua masa yang berbeda tanpa melibatkan konteks. Begitu juga sebaliknya. Padahal, kita semua mengamini peribahasa yang teramat klise: setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya.

Baca juga: Adu Hebat Generasi Y dan Z, Mari Saksikan!

Maka, memberi predikat manja beserta nyinyiran, semisal “Anak-anak zaman sekarang mana tahu rasanya dicubit guru, lah tinggal lapor Komnas HAM” bukan sekadar arogan, tetapi juga wagu, sayang…

Zaman sudah berubah, kesadaran terhadap child abuse mulai tumbuh, juga orientasi dan paradigma pembelajaran sudah bergeser. Dan, betapa bodohnya jika kelak, generasi 2000-an juga melayangkan vonis serupa: “Anak zaman sekarang mana tahu rasanya lapor Komnas HAM gara-gara dicubit guru, lah belajarnya saja online, gurunya hologram.”

Lalu, jika bocah paling dekat dengan jangkauan kakak saat ini lebih memilih Tik Tok ketimbang layangan, itu pasti sepenuhnya dianggap salah mereka. Lah, salah siapa coba lahir dan tumbuh di negara yang sama sekali belum memiliki kota/kabupaten yang ramah anak?

Tapi kan, bisa pilih negara lain atau setidaknya tunggu sampai program Sustainable Development Goals (SDGs) terpenuhi. Paling sampai 2030, kok. Itu juga kalau tercapai, kalau nggak? Ya tunggu lagi. Sabar sedikit kenapa sih?

Baca juga: Soal Perkawinan Anak di Bawah Umur, yang Katanya Tak Bisa Dilarang

Kabarnya, pemerintah mulai melek untuk mewujudkan child friendly country. Dari sekian ratus kota/kabupaten yang ada di NKRI Harga Mati ini, sudah ada 2 kota yang ‘mendekati’ kriteria layak anak, yaitu Solo dan Surabaya. Lumayan kan ketimbang nggak sama sekali.

Dari 514 kota/kabupaten se-Indonesia Raya, baru ada 2 kota yang… ‘mendekati’. Wow, sebuah prestasi besar!

Sebagai orang desa, saya kadang kasihan juga pada generasi tahun 2000-an yang menghirup-embuskan nafas di kota. Beberapa kota berusaha tumbuh untuk keluar dari identitasnya atau menyerupai invisible cities seperti dalam novelnya Italo Calvino. Sangat menyedihkan.

Sementara, generasi 2000-an lebih suka mendekam di kamar, main internet, hingga mengunduh film dewasa tenggelam dalam fatamorgana dunia maya.

Mana mungkin mereka sudi main di sekitar sawah kayak generasi 90-an? Generasi 2000-an sudah terlalu nyaman selonjoran di kursi empuk bernama ‘teknologi’. Mau cari alasan karena lahan persawahan mulai langka? Eh, iya sih.

Baca juga: Pertempuran Tersisa Generasi ‘Walkman’ Vs Generasi ‘Spotify’

Konon, setiap tahun ada 200 ribu hektare lahan sawah yang beralih fungsi menjadi bukan sawah. Ya macam-macam peralihannya, ada yang berganti jadi lahan industri, permukiman, hingga bangunan komersial.

Itulah mengapa generasi 2000-an terutama yang sudah beranjak remaja perlu membangun jaringan, berserikat, menyuarakan hak-hak kaum marjinal. Lah, untuk apa? Ya salah satunya demi masa kecil generasi 2000-an yang lebih berwarna. Atau, setidaknya membangun nalar kritis dan semangat perubahan sejak dini.

Aneh?

Coba tengok Greta Thunberg, gadis berusia 16 tahun, lahir tahun 2003. Ia adalah aktivis asal Swedia yang melawan perubahan iklim. Aksinya yang bermula pada Agustus 2018 telah menjadi gerakan sosial dengan 1.659 pemogokan di 105 negara.

Greta pun kerap berpidato di forum-forum internasional. Bahkan, ia sempat diajukan untuk masuk dalam daftar calon peraih Nobel Perdamaian.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Di belahan bumi yang lain, ada Will Connolly alias si ‘Egg Boy’, remaja berusia 17 tahun, lahir tahun 2002. Remaja asal Australia itu sempat viral karena aksi protesnya yang ‘unik’ dan amat berani; menimpuk kepala senator Australia dengan telur. Aksi ini sebagai wujud protes atas sikap sang senator yang menuduh imigran muslim dibalik penembakan di Christchurch, Selandia Baru.

Kalau di Indonesia? Ada kok, tuh aksi remaja tolak Hari Valentine setiap 14 Februari. Duh…

Sementara, hanya segelintir dari generasi 90-an yang bisa diandalkan. Mereka sudah kadung ‘dewasa’ dan terjebak dalam labirin kebingungan untuk menimpali pertanyaan kapan kawin dari keluarga dan tetangga.

Nah, kalau generasi 2000-an, mumpung belum banyak beban hidup. Belum kepingin nangis-nangis di sudut kamar sambil dengar lagu Didi Kempot dan mendaku sebagai sobat ‘Sad Boys Club’, lalu sibuk menuduh inferior kepada generasi setelahnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.