Danarto, Seni itu Panjang Hidup itu Singkat

Danarto, Seni itu Panjang Hidup itu Singkat

(Hidayat Adhiningrat)

“Banyak ilmu yang belum kita ketahui, yang membuat kita harus belajar, belajar, belajar–yang sebenarnya tidak terkejar umur. Sekarang umur saya 77 tahun. Jangan-jangan besok saya sudah tidak ada. Misalnya 10 tahun lagi, berarti sampai 87 tahun, apa kuat saya sampai ke sana.”

(Danarto-Dalam wawancara dengan Kumparan)

Sastrawan senior, Danarto (77 tahun), meninggal dunia di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa 10 April 2018 pukul 20.45 WIB. Dia mengalami pendarahan di kepala setelah tertabrak sepeda motor saat akan menyeberang di kawasan Ciputat siang harinya.

Jenazah Danarto akan dimakamkan di kampung halamannya di Sragen, Jawa Tengah, hari ini. Dimakamkan di samping makam Ibunya. Sebagaimana keinginan Beliau, sesuai kisah yang diceritakan oleh kemenakannya.

Mungkin, tak banyak anak muda yang mengenal Danarto. Selain bahwa karya-karya nya -terutama dalam bentuk cerpen- adalah karya yang agak sulit dipahami. Namun, Danarto telah menancapkan kukunya di dunia sastra Indonesia. Namanya harum dalam khasanah sastra kita. Goenawan Mohamad menyebut Danarto sebagai “pelopor realisme magis di Indonesia”.

Danarto lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Selama kuliah di ASRI Yogyakarta, dia aktif dalam Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr, dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Tahun 1979-1985 bekerja di majalah Zaman, tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Tahun 1983 menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

Ia pernah mengikuti program menulis di Kyoto, Jepang dan menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta sejak 1973. Cerpen “Rintik” mendapatkan Hadiah Horison tahun 1968. Kumpulan cerpennya Adam Ma’rifat memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Kumpulan cerpen Berhala (1987) mendapatkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K pada tahun 1987. Tahun 1988 ia mendapatkan Hadiah Sastra ASEAN. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan.

Pada 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati. Rumah tangga Danarto tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.

Di usia senja nya, Danarto hidup seorang diri di sebuah rumah kontrakan di Pamulang, Tangerang Selatan. Meski kesehatan dan usia membuatnya tak lagi produktif, Danarto tidak ingin dan tidak merasa harus berhenti dari kreativitas melukis dan menulis. Danarto berupaya mencukupkan semua kebutuhan hidupnya dari menjual lukisan dan tulisan–cerita pendek, esai sastra, dan puisi.

Saat ini Danarto sudah berpulang. Dalam sebuah keranda metal di paviliun Jenazah RS Fatmawati, kemenakan, murid, sahabatnya, para seniman, dan tetangganya berdiri di sekeliling. Semua mendoakan Sang Maestro.

Ars longa vita brevis. Seni itu panjang, hidup itu singkat.

Repost from @hikmat_darmawan with @regram.app … Tribute yang jitu ❤Regrann from @bertotukan – Regrann from @nobodycorp – #RIP #Danarto – #regrann – #regrann . 🕎 . Eyang Danarto adalah sastrawan dengan karya dan hati besar. . Di samping karya-karya pentingnya yang bulak-balik dibahas di kampus, Dea nginget Eyang Danarto sebagai pengasuh rubrik “Tikungan” di Majalah Zaman. Dulu ada satu cerbung keren di situ judulnya “Manusia Separuh Mencari Tuhan”. . Dea sering denger cerita-cerita lucu tentang Eyang Danarto dari papa, waktu mereka masih sama-sama kerja di Majalah Zaman. Eyang Danarto ini orangnya riang, banyak akal, rendah hati, spiritual, dan grafisnya di majalah Zaman keren-keren banget. . Di kemudian hari, Dea ketemu langsung sama Eyang Danarto. Ternyata pembawaannya persis sama apa yang diceritain papa. Kebaikan hatinya langsung bikin Dea ngerasa hangat. Kami sempet surat-suratan. Eyang Danarto ngirim buku wayangnya, sementara Dea ngirim papertoy @dadiktriadi yang waktu itu jadi bonus zine-zine-an online Dea. . Eyang Danarto juga sempet cerita tentang teater anak dan remaja yang lagi dia pegang, ngedukung seorang penulis yang baru nerbitin buku dengan sepenuh hatinya, dan cerita pernah bonceng-boncengan naik Vespa sama papa. . Dea sendiri cerita pengalaman kuliah di Sastra Indonesia. Rasanya seperti surat-suratan sama kakek sendiri. Hangat dan menyenangkan. . Kami terakhir ketemu lagi di sebuah nikahan bertaun-taun yang lalu. Eyang Danarto udah pake alat pacu jantung kalo nggak salah, tapi tetep keliatan seger dan ceria. Kami ngobrol yang lucu-lucu dan Eyang Danarto ngelawak terus. Dea ketawa sampai nangis-nangis. . Dea nginget Eyang Danarto sebagai sastrawan besar dengan hati yang lebih besar lagi. Saking besarnya, pertemuan dan perkenalan Dea sama Eyang Danarto yang cuma sebentar ternyata makan banyak tempat. Kepergian beliau bisa bikin Dea sebegini keilangan seperti keilangan kakek sendiri. . Eyang Danarto yang baik dan istimewa, selamat jalan. Eyang longa, vita brevis. . #danarto #inmemoriam .

A post shared by Sundea (@salamatahari) on

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.