‘Crazy Poor Asians’ yang Tak Kalah Seru dan Perlu

‘Crazy Poor Asians’ yang Tak Kalah Seru dan Perlu

Ilustrasi (Hisu Lee via Unsplash)

Bukan netizen kita namanya kalau tidak mendapatkan ilham dalam memplesetkan segala hal yang populer. Salah satu plesetan yang menarik perhatian adalah munculnya tagar #CrazyPoorAsians di Twitter.

Tagar itu muncul seiring suksesnya film Crazy Rich Asians, film komedi romantis macam kisah Cinderella era modern yang digarap Hollywood, dengan latar keluarga kaya tujuh turunan di Asia.

Nggak pake lama, film Crazy Rich Asians sudah meraup untung lebih dari Rp 2,2 triliun. Tentu saja jumlahnya terus bertambah dan bikin mereka-mereka semakin tajir melintir.

Secara literally (ya, aing sekarang anak Jaksel, apa lo apa lo?), tagar #CrazyPoorAsians kesannya ingin bicara soal prahara hidup masyarakat kelas bawah di Asia, terutama Indonesia. Tapi, faktanya, berisikan tentang lika-liku masyarakat kelas menengah yang budiman.

Ada yang bangga karena pernah cuma makan nasi pakai kerupuk, beli minuman di Chatime dan Starbucks kalau ada diskon saja, bawa kerupuk sebagai cemilan di bioskop, hingga pakai pasta gigi sampai pencetan penghabisan.

Sekilas, itu tampaknya sebagai ajang lucu-lucuan netizen saja. Tapi, sadar atau tidak, tagar #CrazyPoorAsians mengandung unsur satire yang berusaha menyindir kesenjangan sosial dan ekonomi di Asia, termasuk Indonesia, yang memang parah.

Bahwa orang-orang kaya tujuh turunan di Asia memang ada, tapi tidak berlipat ganda. Yang berlipat ganda justru sobat-sobat misquenku.

Tagar #CrazyPoorAsians berhasil mengekspos salah satu celah yang saya pikir paling mengganggu dalam film Crazy Rich Asians. Sebelumnya, soal Crazy Rich Asians, teteh Rika Nova pernah menuliskan begini di Voxpop.

“Bagi Hollywood, Asia adalah gedung-gedung pencakar langit megah, desain futuristik, dan lampu benderang berwarna-warni. Atau sebaliknya, gang-gang kumuh penuh bocah kelaparan.”

Khusus yang pertama sangat relatable dengan Crazy Rich Asians. Tengok saja seluruh karakter penting di film itu, mulai dari scene New York hingga Singapura. Mereka punya satu imaji: high class.

Terlebih, sosok Nick Young yang semakin menguatkan standar ideal yang diakui sebagian besar masyarakat: kaya dan tamvan, bak pangeran berkuda di era modern yang terpikat dengan gadis ‘biasa’.

Tapi yang namanya produser, sutradara, penulis skenario film mah bebas. Terlebih, film Crazy Rich Asians merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama, yang memang setting sosialnya seperti itu. Tentu, ada pesan-pesan tersendiri yang ingin disampaikan.

Toh, film Crazy Rich Asians juga menonjolkan nilai-nilai dan prinsip hidup, misalnya soal kebahagiaan menurut versi masing-masing, serta bagaimana memperjuangkannya.

Baca juga: Beberapa Bagian Penting dari ‘Crazy Rich Asians’ yang Perlu Dicermati

Orang Asia sebetulnya sudah lama akrab dengan ukuran kesuksesan ala Amerika. Itu bermula sejak revisi UU Imigrasi pada 1965. Salah satu hal yang diubah dari UU tersebut adalah terbukanya akses pendidikan bagi para imigran, termasuk orang-orang Asia.

Hal itu mengubah citra orang Asia secara drastis. Sebelum revisi UU, orang-orang Asia dijauhi oleh masyarakat karena dianggap bodoh dan kumuh. Setelah direvisi, banyak bermunculan orang-orang Tionghoa yang sukses di Amerika setelah mengenyam pendidikan tinggi.

Keberhasilan orang-orang Tionghoa bahkan sudah terlihat sejak masa sekolah. New York Times mengklaim bahwa pada Juni lalu orang-orang Tionghoa yang lulus dari universitas di Amerika Serikat jumlahnya hampir dua kali daripada orang-orang Amerika sendiri.

Inilah yang pada akhirnya bikin orang-orang Amerika menganggap bahwa orang Asia juga bisa dekat dengan kesuksesan. Padahal, tidak semua orang Tionghoa dan Asia secara keseluruhan seperti itu. Di Tiongkok saja, orang yang lulus dari universitas jumlahnya 13 kali lebih rendah dari mereka yang memutuskan merantau ke Amerika Serikat.

Artikel populer: Anak Muda Amerika Menolak Kapitalisme, tapi Tak Yakin dengan Sosialisme, lalu Apa Penggantinya?

Lalu, yang kedua, soal kesenjangan sosial dan ekonomi. Ini juga nyata dan faktual. Forbes melaporkan bahwa kesenjangan kekayaan di Asia adalah yang terbesar di dunia.

Mengutip laporan terbaru dari Asian Development Bank (ADB), pekerja dengan kemampuan tinggi plus pendidikan yang bagus seharusnya mendapatkan kenaikan gaji. Tapi sebaliknya, justru mendapatkan pengurangan gaji. Alhasil, ada gap sebesar 25-35% untuk penghasilan orang-orang Asia secara keseluruhan.

Dalam konferensi internasional bertajuk “Pembangunan Sosial di Asia” di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2017 juga mengemuka bahwa Asia menghadapi kesenjangan sosial dan kemiskinan.

Khusus Indonesia, World Bank pernah mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir hanya menguntungkan 20% orang paling kaya di Indonesia. Bahkan, Oxfam menyebut bahwa kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 juta kelompok termiskin.

Sementara itu, Hurun, sebuah majalah di Tiongkok, pernah merilis laporan daftar orang terkaya di dunia pada 2017. Indonesia menduduki peringkat ke-20 untuk negara dengan miliarder terbanyak. Negeri kita tercinta ini katanya memiliki 17 miliarder.

Lha, hanya 17 miliarder? Dari total penduduk yang mencapai 260 juta jiwa? Ya pantas, Indonesia berada di peringkat 6 untuk negara dengan ketimpangan terburuk.

Jarak antara si khayya dan si misquen yang lebar ini berpotensi menimbulkan persoalan sosial lainnya. Ini tentu masalah serius bagi negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. Termasuk kamu yang mau nonton film Crazy Rich Asians kudu cari tiket buy one, get one free atau diskon 50% via aplikasi.

Film tersebut memang bagus, setidaknya menjadi pengingat bahwa ada sisi lain yang masih menjadi persoalan pelik.

Konon, tragedi dan komedi berangkat dari peristiwa yang sama. Sudut pandanglah yang membedakan keduanya. Tagar #CrazyPoorAsians mencoba menjawab itu dengan ironi, sarkasme, dan parodi.

Jadi, makan apa kita hari ini, sobatku?

Twitter/@aidan_darwinds

YHAAAAA…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.