Ilustrasi laki-laki. (Photo by Isai Ramos on Unsplash)

Salah satu plot dalam Ayat-Ayat Cinta yang tentu kita ingat adalah bagaimana Fahri, protagonis kesayangan penonton, harus menanggung fitnah tuduhan perkosaan yang terjadi pada Noura. Padahal, Noura sendiri dilecehkan oleh Bahadur, laki-laki dengan segala karakter kejahatan yang melekat padanya.

Dalam kehidupan nyata, kita akan sulit menemui the ultimate villain macam Bahadur. Sudah kasar, kejam, licik, memperkosa anak sendiri lagi. Dalam kehidupan nyata pula, terutama jika kita lihat berita belakangan ini, cowok pintar-ganteng-idola-berkharisma seperti Fahri lah yang justru memanfaatkan posisinya untuk melakukan pelecehan.

Pelecehan seksual tidak hanya dilakukan oleh sesosok musuh bersama seperti Bahadur, yang mengendap-endap maupun menarik paksa korbannya. Pelecehan juga terjadi lewat tindakan-tindakan manipulatif yang berangkat dari kekuasaan yang timpang. Mulai dari relasi kuasa antara pelaku dan penyintas sampai pada manifestasi predator and prey antar sesama manusia.

Film Promising Young Woman menggambarkan kenyataan tersebut cukup literal.

Di awal film, kita melihat bagaimana seorang perempuan – yang kemudian diketahui bernama Cassie – mabuk berat sampai nyaris tak sadarkan diri di sebuah tempat hiburan. Sekelompok laki-laki tak dikenal memperhatikannya. Tentu, kalimat-kalimat merendahkan terlontar dari mereka. Satu di antara mereka, yang tampak cukup sopan dari kata-katanya, beranjak mendatangi Cassie. Alasannya, ucap dia, cuma satu; hanya ingin mengantar Cassie pulang dengan selamat.

Baca juga: Bilang Suka Sama Suka, Nyatanya Memperkosa

Namun, cowok sopan ini tetap membawa Cassie ke rumahnya sendiri, menawari Cassie minum lagi, sampai akhirnya membawa Cassie ke ranjang biarpun tak sadarkan diri. Kemabukan Cassie membuat cowok sopan ini menjadi predator yang dipandang lumrah. Seperti kucing yang katanya tak akan menolak ikan asin – khas ‘budaya memerkosa’ (rape culture) dalam masyarakat. Sehingga ketika ia mendapati bahwa sebenarnya Cassie ini sangat sadar, yang seharusnya pertanda baik akan sebuah hubungan konsensual, si cowok sopan ini malah defensif seakan Cassie lah yang melecehkannya.

Cassie kemudian bercerita bahwa dia memang rutin pura-pura mabuk di keramaian, yang selalu diiringi dengan tawaran pulang oleh laki-laki yang tampaknya baik, namun selalu berakhir dengan upaya pelecehan pada perempuan mabuk.

Di Indonesia, kisah laki-laki yang akhirnya kita pertanyakan kebaikannya karena memperkosa perempuan mabuk bukan hal yang asing di telinga. Entah sudah berapa banyak teh yang tumpah mengenai hal ini. Lewat film, tercermin bahwa modus mabuk bareng yang biasanya terjadi adalah upaya predator agar hubungan seksual bisa terjadi tanpa perlu konfrontasi menuju konsensus.

Baca juga: Pelaku Pelecehan Seksual Ditandai, Bisa Dipecat dan Susah Cari Kerja!

Highlight dari film ini adalah ternyata predator-predator ini bukanlah sosok seperti Bahadur, melainkan laki-laki kebanyakan yang kebanyakan juga mendapat tempat cukup baik dalam masyarakat. Suatu refleksi yang bisa diartikan bahwa kita mengenal atau bahkan salah satu di antara mereka.

Sementara itu, kita juga dikenalkan dengan Al Moore, seorang lulusan kedokteran magna cumme laude yang sukses menjadi dokter dan mendapat kesempatan untuk bicara di banyak forum. Dia lah Fahri dalam semesta film ini. Ganteng, pintar, menawan, dan tak memiliki kesulitan finansial. Kemunculannya di film bahkan lewat trope NotAllMen, yang begitu gentleman sampai menolak kehadiran stripper dalam pesta bujangnya.

Namun ternyata, justru dia lah yang menjadi antagonis di film ini. Konon sewaktu kuliah, Al Moore melakukan perkosaan pada teman baik Cassie saat dia tidak sadar. Sebagai refleksi realita, kejadian tersebut berlalu tanpa ada intervensi sistem yang berarti yang mengakibatkan Cassie dan korban keluar dari kampus. Al Moore lulus dengan pujian dan berkarier menjadi dokter sukses. Cassie sendiri, akhirnya melakukan aksi vigilante dengan berpura-pura mabuk di klub malam.

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Bikin ‘Thread’ tentang Pengalaman Kekerasan Seksual

Sayangnya, film Promising Young Woman ini tidak menonjolkan bagaimana kesuksesan yang dimiliki Al Moore tadi justru yang membuatnya memiliki kesempatan untuk melakukan kekerasan seksual. Kita sudah sering mendengar bagaimana sosok yang secara konstruksi sosial mendapat banyak privilese melecehkan korban secara manipulatif. Dokter, dosen, mahasiswa berprestasi, pimpinan kantor, dan deretan posisi ‘sukses’ lainnya mendapat kesempatan untuk membuat orang di seberangnya melakukan hal yang tak diinginkan sembari meragukan ketimpangan relasionalitas yang terjadi.

Cowok baik-baik lain yang ditampilkan di film ini adalah sosok pasif yang tidak secara langsung melakukan pelecehan, namun juga tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan pelecehan. Sosok ini bahkan hadir lewat orang yang disayangi oleh Cassie. Sesosok dokter anak yang baik dan lucu nan awkward dengan fisik yang lumayan menarik.

Namun, ada keterikatan yang jauh lebih intim bagi Cassie dengan sosok korban yang adalah sahabatnya, dibanding lelaki baik-baik yang menjadi pacarnya. Keterikatan ini yang membuat bias-bias cinta yang biasanya memaafkan cela seseorang menjadi jelas. Biarpun kekasih ini adalah sosok yang membuat hidup Cassie menjadi cerah kembali, dengan tegas dia meminta akuntabilitas pada kekasihnya ketimbang mengambil sikap permisif.

Artikel populer: Siklus Kekerasan dalam Dunia Kesehatan yang Tidak Kita Sadari

Kejadian Al Moore cukup merefleksikan bagaimana konstruksi sosial sangat menguntungkan bagi orang-orang seperti Al Moore. Tindakan kekerasan seksual yang dilakukannya dipandang sebagai kenakalan masa kuliah yang dilumrahkan atau bahkan diabaikan karena jika diteruskan akan mengganggu status quo.

Kejernihan cara pandang Cassie yang berdasar pada keterikatan dengan korban digunakan untuk melihat kembali bagaimana perspektif kita melihat pelaku sebagai seorang yang dicemari masa depan yang menjanjikannya. Bukan sekali saja ada komunitas yang memaafkan perilaku predatoris peleceh karena banyaknya investasi sosial yang ditanamkan pada pelaku akan hilang begitu saja jika dimintai akuntabilitasnya.

Cassie menunjukkan bahwa ada promising young woman yang juga hilang akibat perilaku promising young man tadi. Di balik segala hal yang menjanjikan itu, mereka telah melakukan kesalahan yang perlu dipertanggungjawabkan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini