Nggak Bisa Dibohongi, Ini Ciri-ciri Orang Bahagia di Era Milenial

Nggak Bisa Dibohongi, Ini Ciri-ciri Orang Bahagia di Era Milenial

Ilustrasi (Anthony Ginsbrook via Unsplash)

Dewasa ini, kebahagiaan adalah salah satu isu esensial yang banyak dibicarakan. Sebagai milenial, mau nggak mau saya kepikiran juga. Bahagia itu apa sih? Katanya sederhana, tapi bukannya itu rumah makan?

Lagipula, kalau gampang, kenapa satu dunia terus bertanya-tanya? Di belantara urban, orang mati-matian berusaha bahagia dengan caranya masing-masing, sampai muncul berbagai industri terkait ini. Kebahagiaan kok jadi industri?

Setelah banyak melamun ala-ala filsuf, aseekk, akhirnya saya mendapatkan wangsit hipotesis. Semoga waktu Anda tidak sia-sia membaca ini. Here we go

Ada banyak bahasan soal kebahagiaan dan kepuasan hidup. Namun, salah satu buku yang membahas secara panjang lebar adalah Enlightenment Now karya Steven Pinker. Dalam bukunya, Pinker berargumen bahwa kondisi hidup manusia di seluruh dunia saat ini jauh meningkat dibanding era-era sebelumnya.

Pinker membandingkan berbagai aspek di antaranya kesejahteraan, kecukupan makan, kesehatan, harapan hidup, demokrasi, perdamaian, pengetahuan, dan kesetaraan hak. Ia memaparkan kasusnya dengan banyak data statistik dan grafik, serta antusiasme yang kentara.

Sebagai contoh, rerata manusia saat ini bisa mengonsumsi lebih dari 2.500 kalori per hari, termasuk di Afrika dan India. Sementara, dari aspek harapan hidup, kini melebihi 70 tahun. Bandingkan dengan abad 18 yang kurang dari 30 tahun.

Gerakan-gerakan dan kesadaran akan kesetaraan hak juga semakin menguat di berbagai belahan dunia.

Pinker memaparkan bahwa berbagai peningkatan ini terjadi berkat nilai-nilai Zaman Pencerahan yakni daya rasional, sains, dan humanisme yang memberi berbagai kemajuan.

Semisal, perkembangan berbagai vaksin dan teknik kedokteran, optimalisasi pertanian melalui pupuk buatan dan mekanisasi, peningkatan standar keselamatan di tempat kerja, dan sebagainya.

Argumen-argumen Pinker meyakinkan dan data-datanya dijabarkan dengan sangat baik. Buku Enlightenment Now pun mendapat pengakuan berbagai kalangan, termasuk dari Bill Gates. Peran buku ini pada optimisme global juga tidak kecil.

Namun, kalau boleh, saya ingin menanggapi beberapa hal terkait karya tersebut. Imho, ada dua poin utama yang ingin saya tanggapi.

Baca juga: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Pertama, penjabarannya menggunakan data dan analisis populasi skala besar. Untuk membandingkan kondisi dari berbagai area dan zaman, pendekatan ini bisa dimengerti. Namun, perlu diingat bahwa perseorangan beda dengan keseluruhan.

Individu bisa sangat berbeda dengan konsensus atau rerata populasi.

Tiap manusia memiliki latar belakang, kepribadian, dan jiwa yang berbeda. Masing-masing adalah eksistensi yang unik. Pengalaman hidup yang berbeda menjadikan prioritas kebutuhan yang berbeda pula. Apalagi, jika terjadi perkembangan di tengah jalan.

Maka, pemenuhan kebahagiaannya pun berbeda dan amat dinamis.

Belum lagi, ada lebih dari 7,5 miliar manusia saat ini. Itu jumlah yang luar biasa. Katakanlah skala analisis diperkecil ke ukuran satu negara yang anggaplah berpenduduk 100 juta. Artinya, ada 100 juta manusia unik dan otentik.

Walau diambil nilai rerata atau perwakilan, tetap saja akan ada diversitas luar biasa dan variasi keberjarakan pada masing-masing orang dengan rerata tersebut. Ini tak terhindarkan.

Kedua, penjabaran tingkat kepuasan manusia dalam Enlightenment Now begitu kuantitatif. Terasa non-organik, ‘dingin’, dan materialistik. Sangat berbasis angka dan peran aspek sosial dan non-material manusia terhadap kebahagiaan jiwanya mendapat porsi kecil.

Penting disadari bahwa tidak semua kebutuhan manusia bersifat material.

Selain itu, terasa argumen Pinker sangat menjawarakan pencerahan sebagai pembawa kebaikan. Ini tentu tidak salah. Namun, saat analis agak terlalu condong pada satu lensa pikir, ada risiko jatuh ke perspektif ala Panacea.

Yakni, menganggap suatu perspektif tertentu sebagai solusi utama, satu-satunya, dan berlaku universal bagi semua kasus unik. Dalam kasus Enlightenment Now, pencerahan sangat dekat menjadi Panacea.

Dan, mari kita ingat bahwa di linimasa manusia, Zaman Pencerahan didahului oleh Zaman Renaisans. Selain pada aspek gagasan, sains, dan humanisme, Renaisans juga menampilkan ledakan antusiasme di berbagai aspek lain semisal seni, literatur, dan spiritualisme, serta alam dan hidup manusia.

Ini terlihat dari berbagai alusi spiritual dan ilahiah dalam berbagai karya seni dari para seniman terkenal Renaisans. Sebut saja Divine Comedy-nya Dante, serta kekayaan alusi dalam lukisan-lukisan Giotto, Michelangelo, dan Leonardo Da Vinci.

Saat Renaisans, terjadi ledakan antusiasme dan gairah hidup luar biasa. Kekayaan cakupan ekspresi yang memuaskan jiwa ini membuncah dan menyebar, serta berpengaruh besar pada gerakan budaya dan intelektual Eropa setelahnya, yang mencakup Zaman Pencerahan.

Artikel populer: Pengakuan Lelaki Semenjana tentang Perempuan Cerdas

Dari sini bisa dikatakan bahwa nilai-nilai pencerahan adalah sebagian dan turunan dari berbagai faktor dan cakupan kepuasan hidup yang misalnya pernah mewujud saat Renaisans.

Kini, mari kita lihat kaitan berbagai aspek ini dengan manusia.

Manusia adalah makhluk irisan dan ikatan. Terdiri dari berbagai aspek semisal primal-biologis, jiwa-emosi, rasionalitas, dan keimanan.

Ia juga membentuk ikatan dan komunikasi di berbagai tingkatan, yakni dengan diri sendiri, dengan orang-orang terdekat dan sosial, dengan alam, dan secara spiritual.

Dari kecil ke besar, dari mikrokosmos ke makrokosmos. Seperti fraktal, yakni pola berulang yang muncul di berbagai ukuran dan cakupan di semesta. Misalnya pada brokoli, biji pinus, pola cabang, ranting pada pohon, dan sebagainya.

Manusia itu sendiri adalah miniatur alam, dimana prinsip-prinsip alam bekerja dalam dirinya. Sebagai contoh, prinsip fraktal yang muncul sebagai struktur  pembuluh darah, paru-paru, dan lipatan otak pada manusia. Pola berulang di banyak tingkatan, saling berpadu menopang kehidupan.

Saya percaya kebahagiaan juga demikian. Bukan terlalu condong ke hanya satu perspektif tertentu, melainkan mozaik berbagai faktor yang beririsan sedemikian rupa sehingga selaras, dan terjadi di berbagai level keberadaan, sehingga memberi kebahagiaan dan rasa kepuasan artistik.

Inilah pendapat saya, bahwa kebahagiaan adalah fraktal keselarasan, harmoni di berbagai level, yang unik bagi tiap individu. Semakin lengkap harmoninya, semakin bahagia orangnya.

Yakni memahami dan mengaktualisasikan diri yang sejati, mendapat pasangan yang cocok serta lingkungan hidup dan berkarya yang pas, piknik ke alam hijau nan segar secara teratur, dan menjalani spiritualisme yang cocok dengan jiwa otentiknya.

Cara tahu cocok tidaknya adalah seberapa banyak si manusia bisa mengekspresikan dirinya secara terbuka dan nyambung dengan orang dekat, dan selanggeng apa kondisi harmonis ini bisa bertahan ke depannya.

Indikator umum tercapai tidaknya kondisi fraktal adalah ‘hati’, yakni jantung dan kebahagiaan. Jika tercapai, jantung akan berdenyut tenang dalam interval fluktuatif beritme fraktal.

Kemudian, timbul kebahagiaan yang mencakup perasaan kebercukupan yang adem dan segar bagai mata air yang menghapus kering dahaga di jiwa.

Mustahil dibuat-buat, karena esensi semesta dan diri takkan bisa dibohongi.

Jika kebahagiaan tercapai dan bertahan lama, si manusia jadi cerah, ekspresif, dan asyik. Berkilau, seindah perwujudan mini semesta dalam seni Renaisans. Juga seindah senyum si dia saat bahagia. Aihh…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.