Ilustrasi (Photo by Duong Nhan from Pexels)

Kamu merasa enek nggak sih sama orang-orang misoginis? Bagaimana jika mereka adalah kawan dari pasanganmu sendiri? Apalagi, jika kamu hidup sebagai penyintas kekerasan yang bertarung melawan stigma, lalu harus berinteraksi dengan mereka. Parahh..

Seorang teman diam-diam pergi ke terapis tanpa sepengetahuan suaminya. Sebelumnya relasi mereka baik-baik saja. Namun, setelah mengetahui bahwa suaminya berkawan dengan para pelaku kekerasan seksual, dia jadi depresi. Terlebih, dia adalah penyintas kekerasan seksual yang bahkan belum pulih dari trauma.

Teman yang lain, punya seorang kekasih yang berkawan dengan cowok-cowok seksis. Mereka sering kali melontarkan guyonan seksis, bahkan menjadikan teman saya itu sebagai objek seksual. Mau tahu kekasihnya bilang apa?

Ya nggak bisa bilang apa-apa, cuma nyengir. Seolah-olah merasa tidak berdosa dan tak perlu merasa tidak nyaman atas situasi yang dirasakan oleh pasangannya. Kalaupun sesekali membalas, malah ikut-ikutan lempar guyonan yang nggak kalah seksisnya.

Apakah pasangan yang kayak gitu cuma 1-2? Oh, banyak!

Baca juga: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Cinta mati sama pasangan tapi mual nggak ketulungan sama sirkel pertemanannya memang situasu situasi yang sulit kita hindari. Namanya juga sedang jatuh cinta. Jangankan nggak cocok sama sirkel pasangan, wong nggak cocok sama keluarga pasangan aja buanyakk.

Tapi se-complicated apa sih ketidaknyamanan dengan sirkel pasangan? Toh, pasanganmu yang berteman, bukan kamu?

Ya tentu, semua orang akan merasa khawatir dan berprasangka jika pasangannya berkawan dengan orang-orang yang menurutnya menyebalkan dan tidak beradab. Bayangkan, apalagi jika kamu adalah seorang penyintas, lalu mengetahui sirkel pasanganmu seksis dan misoginis, maka akan selalu muncul ketakutan akan disakiti dan mengalami trauma baru.

Siapa sih yang mau pasangannya salah pilih teman? Nggak ada, kan? Tapi gimana kalau ternyata pasangan kita lebih dulu kenal dengan teman-temannya yang seksis itu? Bagaimana jika sebelum kenal kita, doi merasakan bahwa teman-temannya itu selalu ada bahkan saat dia sedang terpuruk?

Kalau ujug-ujug seenak jidat kita ngomong “Putus aja” atau “Ya udah cerai aja daripada jadi gila”, kan kayak ngomong nggak pakai saringan.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Dalam buku The Love Gap: A Radical Plan to Win in Life and Love karya Jenna Birch, disebutkan bahwa itu adalah persoalan klasik yang dihadapi oleh banyak orang. Jatuh cinta tidak menjamin kita akan menerima segala hal di hidupnya.

Khusus untuk persoalan sirkel pasangan yang annoying, kita perlu tegas untuk mengungkapkan perasaan. Komunikasi memang fondasi dari sebuah hubungan. Akan fair kalau ngobrol dulu dengan pasangan bahwa kita nggak suka dengan teman-temannya itu. Merasa nggak nyaman kalau doi sering banget bergaul dengan mereka.

Jadi, coba dulu minta pengertian dari pasangan kita masing-masing, selebihnya biar sama-sama cari solusi.

Lantas, bagaimana kalau pasangan kita justru menganggap perasaan kita tidak valid, alih-alih doi mau mengerti?

Semisal, dia bilang, “Ah, perasaan kamu aja, lebay deh”. Atau, justru memaksamu untuk bisa lebih akrab dengan teman-temannya seraya berkata, “Temen aku gak gitu kok. Besok kita nongkrong bareng mereka yuk. Seru deh.” Teman saya malah ditawari talak ketika ngomong, “Bisa gak sih kamu gak usah deket-deket atau belain kelakuan temenmu itu?”

Pertemanan, apalagi persahabatan itu rumit! Siapa bilang bagai kepompong?

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Ada banyak sekali orang yang memilih untuk meninggalkan pasangan dan keluarganya demi pertemanan. Ada banyak orang yang merasa bahwa orangtua istri dan anaknya jauh lebih toksik daripada sirkel pertemanan.

Memang sih, menikah tidak membuat seseorang berhak membatasi pertemanan. Mengatur tubuhnya saja nggak berhak, apalagi mengatur kepala dan preferensinya dalam berteman.

Kita pun jika dilarang berteman tentu akan merasa lelah dan terkekang. Apalagi, disuruh meninggalkan sahabat yang sudah berbagi selama belasan tahun oleh pasangan yang baru beberapa tahun saja. Nggak semua orang mau lho!

Sesungguhnya yang bisa dilakukan adalah mempertebal boundaries kita. Nyatakan perasaan dan kebutuhan secara tegas kepada pasangan. Hal-hal apa yang membuat kita terganggu, marah, dan merasa terluka. Agar dicari jalan keluarnya, itupun kalau dia peduli.

Jika tidak…

Artikel populer: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Kita harus memahami diri sendiri, risiko kehidupan, dan batas dari kesehatan mental. Seberapa mengganggu persoalan pertemanan itu? Jangan sampai merusak semuanya. Bahkan, tak jarang orang yang kehidupan seksnya kacau karena tak nyaman dengan sirkel pasangannya.

Namun, kalau sudah sampai di batas akhir kesabaran dan komunikasi mandek, mulailah susun jalan keluar. Bisa dengan gertakan atau bahkan keputusan untuk meninggalkannya. Ingat, kita tidak bisa memaksa pasangan untuk peduli pada kesehatan mental kita, kitalah yang harus menyelamatkan diri.

Kalaupun dia bisa mengerti, tetap perlu membutuhkan waktu untuk berkomunikasi dan saling memahami. Pelan-pelan. Bisa sebulan, dua bulan, setahun, dan seterusnya. Hingga akhirnya dia bisa menjauhi sirkelnya yang seksis dan misoginis.

1 KOMENTAR

  1. betull…saya paling jengah kalau teman-teman saya sesama lelaki melontarkan jokes-jokes berbau seksual saat ada wanita, siapapun itu….saya merasa itu salah satu bentuk pelecehan seksual secara verbal…ada yang laki-laki tidak mengerti ttg perasaan wanita saat dijadikan objek seksual mereka….makanya untuk kawan, saya selalu selektif…apalagi semenjak sudah ada istri dan anak…..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini