Ilustrasi laki-laki. (Image by squarefrog from Pixabay)

Iseng saya ketik “cinta mengubah laki-laki” di laman pencarian Google, hasilnya seperti yang sudah saya duga sebelumnya:

“Mengubah Pria Menjadi yang Kamu Mau”.

“10 Hal dari Hubungan yang Mengubah Pria”.

“Cowok Memang Susah Berubah, Tapi Bersama Gadis yang Tepat, Mereka Tak Akan Keberatan Berbenah”.

Dan, sebagainya.

Artikel serupa juga sering saya temukan di masa lalu saat membaca majalah remaja. Tentang menjadi cewek dambaan cowok, yang kemudian mampu mengubahnya menjadi sosok yang lebih baik. Bahkan cerpen dan novel pun punya ide cerita semacam itu. Ah, perlu juga menyebut dongeng Disney: Beauty and the Beast, yang diadaptasi dari buku dongeng berjudul La Belle et la Bete karangan Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve yang dirilis pada 1740.

Jika sejak kecil sudah dijejali ide cinta bisa mengubah laki-laki menjadi orang yang lebih baik, tak heran perempuan di masa dewasanya punya kepercayaan diri yang berlebihan tentang hal ini.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Tak mengherankan pula ketika Jerinx mau divaksin, Nora Alexandra yang banjir pujian dari warganet bahkan media. Narasi dari pujian itu adalah keteguhan cinta seorang istri yang mampu mengubah tabiat keras kepala dan turut mengedukasi suaminya. Bahkan ada yang terjebak ilusi bahwa Jerinx bersedia divaksin merupakan kemenangan melawan mereka yang antivax. Nora bukan hanya mengubah dunia, ia bahkan mendapat pujian “pejuang vaksin” dari sebagian warganet.

Jerinx sendiri mengaku bersedia divaksin setelah berhasil diyakinkan oleh Dokter Indro, seorang ahli virologi. Nora juga bilang bahwa Jerinx akhirnya divaksin atas kemauan sendiri. Nora memang memberi saran, tapi semua keputusan diserahkan kepada Jerinx.

Lagi pula, sulit rasanya membayangkan Jerinx dalam untaian kata-kata serupa puisi Chairil Anwar, “Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang.” Heee…

Baca juga: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Memang benar ada Cleopatra yang membuat Julius Caesar dan Marcus Antonius bertekuk lutut. Ada juga kisah Mishil – seorang perempuan bangsawan Kerajaan Silla (Korea kuno) – yang memikat tiga raja sekaligus, yaitu Raja Jinheung, Raja Jinji, dan Raja Jinpyeong – kemudian menjadi perempuan paling berkuasa saat itu, sebelum akhirnya berseteru dengan Ratu Seondeok.

Jadi, ada kisah tentang perempuan yang membuat lelaki tidak berdaya, bahkan sampai mengubah sejarah dunia. Tapi, apakah banyak perempuan punya kemampuan dan kesempatan yang sama?

Ada yang bilang bahwa “perempuan akan tetap sama setelah menikah” dan “laki-laki bisa berubah setelah menikah”. Tapi nyatanya…

Jangankan tetap menjadi perempuan yang sama, misalnya selalu wangi dan pakai bedak dua lapis, dikejar tenggat waktu pekerjaan saat WFH sambil beberes rumah saja sudah bikin lupa menyalakan rice cooker. Padahal, masak nasi sangat penting bagi orang yang melajang untuk menjalani hidup sehari-hari.

Sulit membayangkan seorang perempuan setelah menikah tetap memiliki pola hidup, cara berpikir, bahkan penampilan yang sama seperti ketika masih gadis. Apalagi, hidup dalam masyarakat patriarkal.

Baca juga: Jangan Berlebihan, Perempuan Serba Bisa Bukan Pencapaian

Mengenai laki-laki yang bisa berubah (menjadi lebih baik) setelah menikah. Gini deh, saya berkali-kali menemani teman berkonsultasi dengan pengacara dan ikut pusing menghitung gono-gini. Membuka pintu tengah malam untuk mendengar tangis panjang sampai pagi dari seorang istri yang memergoki suaminya di hotel booking pekerja seks, merancang rencana menguntit seseorang karena istrinya (teman saya) curiga suaminya punya istri muda, hingga dititipi anak balita saat weekend oleh tetangga yang hendak menyusul suaminya yang pulang kampung nggak balik-balik dan kemungkinan besar kawin lagi.

Para perempuan itu memutuskan untuk menikah dengan keyakinan bahwa tabiat pasangannya bisa diubah seiring waktu. Kata mereka, yang penting nikah dulu, diikat dulu, sisanya nanti menyesuaikan. Mereka pun mendapat banyak nasihat dan bujukan dari orang-orang bahwa pernikahan adalah lembaga suci yang membawa restu dari surga, bahwa segalanya akan jadi lebih baik setelah hubungan seorang laki-laki dan perempuan menjadi halal.

Artikel populer: Metafora “Wonderwall” dalam Hubungan Teman tapi Cinta di Hospital Playlist

Ternyata frasa “diikat dulu” tersebut jauh lebih berbahaya untuk perempuan ketimbang laki-laki. Penyebabnya klasik saja: shit happens. “Gue punya suami, tapi rasanya hidup gue sendirian,” kata seorang teman yang berusaha menyintas dari depresi akibat pernikahan yang toksik, sambil mencoba bertahan dalam pernikahan demi anak-anaknya.

Bahkan ketika ikatan pernikahan tersebut bisa dilepas, perempuan tetap menjadi pihak yang tidak beruntung. Laki-laki bisa kembali seperti perjaka ketika pernikahannya bubar, terkadang dapat label “duren” alias duda keren. Perempuan, setelah pernikahannya berakhir, adakah yang menyebutnya keren?

Yang ada malah dianggap ancaman oleh sesama perempuan yang insecure suaminya kepincut janda. Kadang juga dihakimi sebagai pihak yang tak mampu memenuhi kebutuhan seksual dan selera mantan suaminya. Apalagi, jika punya anak dan mantan suami tidak mau bertanggung jawab. Duh, harus berjuang mengurus anak sambil mendapat stigma buruk dari sekitarnya.

Karena itu, narasi bahwa perempuan yang tepat dan penuh cinta bisa mengubah laki-laki tidak relevan dengan realitas sosial. Setop dongeng-dongeng yang membebani perempuan. Perempuan bukan pusat rehabilitasi laki-laki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini