Cinta Beda Agama dalam Pandangan Anak Kekinian

Cinta Beda Agama dalam Pandangan Anak Kekinian

Ilustrasi (cetmas.com)

Long distance relationship (LDR) yang paling nyata bukanlah mereka yang menjalin hubungan beda kota atau negara, tapi justru yang beda rumah ibadah meski tinggal sekampung.

Gara-gara itu, banyak orang harus rela kehilangan cintanya, karena perbedaan keyakinan dalam urusan seperti ini belum sepenuhnya terakomodasi dengan baik di Indonesia.

Jalan tengah kadang ditempuh dengan ‘penundukan sementara’ pada satu agama atau merelakan pindah agama mengikuti pasangan.

Jalan tengah tersebut seringkali tidak menjadi solusi, karena banyak orang menilai bahwa ‘penundukan sementara’ dan ‘pindah keyakinan’ sebagai perbuatan mempermainkan agama, murtad, atau kafir. Tapi itulah kenyataannya.

Bahkan, cinta harus diperjuangkan dengan cara ‘kucing-kucingan’ untuk menyiasati aturan hukum yang kurang ramah pada cinta beda agama.

Dalam pandangan masyarakat beragama di Indonesia, cinta dan pernikahan memang sesuatu yang suci. Tapi bukan berarti urusannya harus dipersulit dengan beragam stereotip.

Dari beberapa kisah yang saya temui, peran orangtua, kerabat, dan sahabat sangat dominan mempengaruhi pelaku cinta beda agama ini. Bagi mereka yang hidup di lingkungan dengan pikiran dan pandangan terbuka, tentu ini persoalan biasa. Bahwa cinta adalah hak prerogatif pasangan.

Namun, yang umum terjadi adalah, pihak keluarga dan sahabatlah yang kerap mengintervensi begitu tahu kita punya pacar atau pasangan beda agama. Bahkan, mereka mencoba menggagalkan pernikahan. Padahal, cinta beda agama tidak selamanya bermasalah.

Saya kenal beberapa teman yang berhasil sampai menikah dengan pasangannya, meski beda keyakinan. Contoh gagal menikah karena pasangan beda agama juga lebih banyak. Keduanya sama-sama dipengaruhi oleh lingkungan.

Saya ingin membagi beberapa kisah yang menarik…

Sebut saja seorang teman perempuan namanya J, beragama Protestan. Dia punya pacar namanya A, junior kampus, seorang muslim. Mereka begitu mesra, bahkan saat hendak praktikum di laboratorium, saya kerap melihat J salaman cium tangan pada A.

Sebagai pasangan, mereka tampak kompak, meskipun teman-teman seangkatan melihat keduanya menjalin hubungan asmara beda agama. Beberapa kali saya dengar J bilang ke A, “Bismillah ya sayang, semoga sukses.”

Tahun lalu, saya melihat di media sosial bahwa J sudah menikah dengan seorang laki-laki, adik angkatan J di kampus. Si J mengunggah foto pemberkatan pernikahannya di altar gereja dengan baju adat Batak, lengkap dengan ulos dan pose Tor-Tor. Asumsi saya HKBP, karena saya dengar J adalah jemaat gereja tersebut.

Dia menikah dengan laki-laki bermarga, sesama orang Batak. Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa pernikahan keduanya karena sama-sama orang Batak dan seiman, apalagi dijodohkan. Kesimpulan akhir, J batal menikah dengan A.

Contoh lain, senior saya, sebut saja mbak C. Ia menikah dengan temannya sewaktu menempuh pendidikan di Jepang, sebut saja mas A. Antara mbak C dan mas A ini, selain beda agama, mereka juga beda negara. Kurang LDR apalagi, coba?

Mbak C bahkan sampai menulis di blog pribadinya tentang pengalaman memperjuangkan cinta beda agama dan beda negara. Mbak C yang Katolik dan mas A yang Buddha harus mengurus banyak hal, sebelum sampai pada tahap pemberkatan pernikahan. Misalnya surat ke uskup, catatan sipil, bolak-balik kedutaan, dan sebagainya.

Mbak C tampak lebih banyak mengurus berkas di Indonesia. Sampai pada akhirnya, saya melihat postingan mbak C di media sosial, dimana resepsi pernikahan dilakukan di Indonesia dengan adat Jawa. Mas A tampak gagah, meskipun sedikit kaku dalam busana Jawa.

Saya sempat bertanya pada mbak C soal restu orangtua. Bagi orang tua mbak C, mau menikah dengan siapapun, asal orangnya baik ya silakan. Sekarang mereka tinggal di Jepang, hidup sebagai pasangan beda agama yang tetap adem ayem. Kesimpulan akhir, mbak C sukses menikah dengan mas A.

Berbeda dengan kawan saya, D dan P. Mereka memutuskan untuk menjadi agnostik – bertuhan tanpa agama –, meskipun keluarganya Muslim. Si D merasa tidak ada masalah dengan peribadatan agama manapun. Saat hari Jumat, kadang D ke masjid untuk sholat Jumat. Kalau bulan puasa, dia juga puasa.

Pacarnya, si P yang Katolik juga tidak mempermasalahkan keyakinan si D. Beberapa kali, D bahkan mengantarkan P beribadah di gereja, baik Minggu atau hari-hari besar agama Katolik lainnya.

Mereka akan menikah dalam waktu dekat. Cerita D ke saya, dia sudah menerima pembekalan di gereja. Pendidikan untuk menjadi umat Katolik.

Meski demikian, D tetap memilih tidak memeluk agama. Tapi, untuk urusan kolom agama di KTP, dia tetap mencantumkan Islam. Ini semata melindungi kehormatan keluarga D yang muslim. Kesimpulan akhir, masih menunggu kelanjutan rencana pernikahan D dan P.

Di lain pihak, ada juga seorang teman perempuan, sebut saja L, Katolik, berpacaran dengan A yang muslim. Selain beda agama, kebetulan mereka juga beda kota. Tiap akhir pekan, A mengunjungi L di Jogja. Sesering itu mereka membahas rencana pernikahan.

Dari cerita L, si A sudah menghubungi ‘moderator’ yang bisa membantu mereka mewujudkan impian pernikahan beda agama tanpa melalui mekanisme ‘penundukan sementara’ atau berpindah keyakinan. Hubungan mereka sudah empat tahun.

Tapi kendala datang dari keluarga A yang sinis melihat L yang beda agama. Si A lebih memilih ‘mengabaikan’ keluarganya yang muslim dan memperjuangkan L dengan segala konsekuensinya.

Keluarga A tidak serta merta ikhlas dengan sikap A tersebut. Bahkan sampai ‘memanggil’ kyai untuk membujuk A supaya mengurungkan niat. Kyai tersebut, dari cerita L, bahkan memperkenalkan beberapa muslimah untuk A.

Eh… Entah kenapa, beberapa waktu yang lalu saya melihat L sudah berfoto dengan pacar barunya. Yang pasti bukan A. Dan, kabar si A tidak pernah saya dengar lagi. Kesimpulan akhir, L batal menikah dengan A.

Beberapa kisah di atas menunjukkan bahwa ada cinta beda agama yang berhasil, dan ada yang kandas. Dalam hal ini, kompromi mutlak diperlukan.

Selain itu, dibutuhkan situasi dan kondisi yang tenang untuk meminimalisir pengaruh lingkungan – dan juga keluarga – dalam memperjuangkan cinta beda agama.

Mempertahankan komitmen pernikahan beda agama tidak cukup dengan ‘Aku cinta kau, dan kau cinta aku, kita jalanin dulu aja’. Perkara ‘penundukan sementara’ atau ‘pindah agama’ yang krusial kerap luput dari perhatian.

Saya sering mendengar bahwa mereka sebetulnya lebih nyaman dengan agamanya masing-masing dan pernikahan tetap terlaksana. Tapi cinta memang tidak pandang nalar. Yang penting ‘saya harus sama dia’, apapun konsekuensinya. Dari situlah label murtad atas nama cinta kerap disematkan.

Teman saya, D, seorang laki-laki muslim, pada akhirnya menikah dengan N, perempuan kristiani. Keputusan pindah agama diambil D demi cintanya pada N. Sebuah area abu-abu yang masih jadi pertanyaan banyak orang hingga kini.

Atau, teman saya yang lain, yang tetap mesra dengan istrinya tanpa mengorbankan keyakinan salah satunya. Teman saya, Y, seorang muslim. Istrinya, T, beragama Katolik. Mereka menikah dan punya anak, hidup rukun pula.

Saat Idul Fitri tiba, Y, T, dan anak-anak mereka merayakan dengan keluarga besar Y yang semuanya muslim. Saat Natal tiba, mereka makan-makan dengan ceria di tengah keluarga T yang Katolik. Dunia terasa baik-baik saja.

Sejatinya, cinta tidak ‘dibatasi’ agama, karena cinta bersifat universal dan sangat manusiawi. Ia lintas agama, lintas bangsa, lintas kota, lintas negara, dan lainnya. Interaksi antar pasangan tetap berjalan dengan baik, asal saling pengertian soal keyakinan.

Memasuki zaman baru yang katanya era milenial ini, kita perlu melihat dengan mata lebih lebar soal cinta beda agama. Bukan sebagai masalah, tapi sebagai niat awal yang baik membangun keluarga.

Jadi, bagi anda yang menjalani LDR karena beda kota atau negara, itu sih belum seberapa dibanding beda rumah ibadah. Kuy ah, ngopi dulu…

  • Vibiana Rissa

    Hmmmm… I have bo words.